Blog ini berisi artikel,wawancara, laporan perjalanan dan aneka pengalaman di berbagai bidang dan wilayah!
Jumat, 23 September 2011
Jumat, 16 September 2011
Senin, 15 Agustus 2011
Lafadz ALLAH di gunung Lyngen Alps Norland-Norwegia
Peristiwa ini sebenarnya telah berlalu beberapa tahun lalu, namun sampai sekarang saya masih terus memikirkannya terutama saat bulan Ramadhan seperti sekarang. Saya yakin bahwa apa yang saya alami ini bukan suatu peristiwa kebetulan semata. Begini ceritanya : Sewaktu dalam perjalanan mudik ke Jawa bersama ribuan pemudik lebaran 2007. Siang itu iring-iringan kami sedang terjebak macet di daerah Nagrek-. Tiba tiba telponku berdering, di layar display tampil nomor aneh. Sekilas terdengar seorang berbicara 'dalam bahasa Indonesia 'ditelpon, ternyata seorang perwakilan KBRI di Oslo Norwegia pak Heru Subolo namanya. Beliau menyatakan bahwa ada faksimile Undangan dari Kementrian Pertahanan Norwegia untuk mengunjungi fasilitas Pemantauan Keamanan Laut di kota Bodo Norwegia Utara. Saya diminta segera mempersiapkan diri untuk berangkat segera setelah lebaran. Kami diingatkan oleh KBRI bahwa fasilitas tsb merupakan fasilitas militer dengan pengamanan ekstra ketat. Pihak KBRI Oslo berpesan bahwa mereka tidak bisa menemani selama di Norwegia. Mereka hanya mengingatkan bahwa fasilitas yang akan dikunjungi adalah fasilitas militer dengan penjagaan ekstra ketat. Sebagai syarat Kementrian Pertahanan Norwegia cuma meminta nama dan tanggal lahir saya dan team, tak ada permohonan lain seperti nomor identitas paspor dll.
Dalam sisa perjalanan pulang mudik ke Jawa itu dalam hati saya berkecamuk berbagai pertanyaan, apakah mungkin saya bisa memenuhi undangan tersebut. Mendengar nama kota ’Bodo’ itu saja kami baru pertama kali. Bagaimana cara kesana, berapa biayanya dll.
Lebaran hari ketiga saya dan keluarga segera balik ke Jakarta. Mumpung jalanan masih belum ramai pikirku. Sesampai di Jakarta saya segera mengurus keberangkatan ke Norwegia. Tiket, asuransi perjalanan, dan surat jalan sudah ditangan namun belum ada visa. Sehari sebelum berangkat kami belum pegang visa kunjungan ke Norway atau Schengen countries. Padahal tiket di tangan memaksa kami harus berangkat malam harinya. Pagi pagi saya bergegas mendatangi kedubes Norwegia di kawasan Mega Kuningan. Setelah dimulai dengan perdebatan yang alot, saya ngotot pada petugas visa minta diijinkan menemui sekretaris dubes untuk meminta diberi visa kunjungan ke Norwegia. Setelah saya jelaskan dengan panjang lebar, akhirnya pihak kedubes memberi kami visa kunjungan selama 30 hari.
Tepat pada 18 Oktober pas hari ulang tahunku (sengaja aku merahasiakan hal ini pada kedua rekanku. Tengah malam kami terbang berangkat menuju Norwegia, dengan terlebih dulu transit di Dubai dan kemudian sampai di Frankfurt (kemudian kami mendapat bonus menginap gratis di hotel Sheraton Frankfurt karena penerbangan berikutnya ditunda). Besoknya perjalanan diteruskan menuju Oslo, baru kemudian singgah beberapa hari di Tromso, baru kemudian ke kota Bodo.
Tak seperti kunjunganku pertama kali di kota Tromso yaitu menginap di hotel 'berkelas internasional' di depan pelabuhan Tromso. Kunjungan kedua kali ini aku menginap di losmen yang cukup murah di Sydpissen hotel, dengan tarif 130 USD per-malam, untuk type kamar triple bed. Sydpissen berarti ’ujung selatan’, karena letaknya memang persis diujung selatan pulau Tromso. Sydpissen adalah losmen atau hotel kecil yang sebelumnya adalah barak militer pada masa perang dingin. Kerna jarang dipergunakan lagi untuk tamu tamu militer sesama negara NATO maka barak itupun dipermak menjadi hotel sekelas hotel melati. Fasilitas kamar dihotel itupun sangat sederhana, namun cukup antik dan unik karena perabotannya terbuat dari kayu atau besi. Hotel Sydpissen ini terletak persis diujung selatan pulau Tromso yang berhadapan langsung dengan pantai yang landai. Angin diluar hotel sangat dingin bagi kami ’pendatang dari tropis ini’ karena bulan bulan ini adalah musim peralihan ke musim dingin sehingga cuaca selalu gelap oleh mendung dan hujan. Namun kami memaksakan diri melihat lihat suasana pantai yang terletak persis dibelakang hotel Sydpissen ini.
Tak jauh diseberang pulau di belakang teras hotel Sydpissen, tempat kami tinggal ada Fjord berupa gunung salju yang cukup curam. Pada bulan Oktober ini, adalah musim peralihan dari musim summer ke musim winter. Cuaca cepat berubah, langit selalu gelap oleh mendung, banyak hujan dan salju mulai turun di beberapa lokasi. Berbeda dengan kunjungan pertamaku di kota Tromso ini pada musim summer suasana tampak cerah bermandikan cahaya matahari.
Dalam perjalanan menuju hotel Sydpissen, kami mengitari pulau sementara diseberang laut ada sebuah gunung (setelah kucari namanya ternyata barisan pegunungan 'Lyngen Alps'). Gunung itu menurutku tidak terlalu tinggi sekitar 1,8 km. Dinding gunung itu mulai tertutup lapisan salju, walau sebagian masih terlihat batu batunya yang berwarna gelap. Variasi warna batu dan salju yang kontrast membentuk mozaik lukisan- lukisan alam yang cantik dan indah. Setelah kuamati dengan seksama...Subhanallah .tampak bahwa ornament lukisan salju di gunung itu membentuk kaligrafi raksasa yang sangat kukenal...tertulis di punggung gunung ’Lyngen Alps’ itu lafadz...’Allah’...masyaAlah..Allhu akbar..hati dan bibirku bergetar...dan aku bertakbir dalam hati. Mungkin hari hari itu aku agak sensisitif karena baru beberapa melewati ulang tahunku ke 40.
Bagaimanapun, fenomena alam itu membuatku merasa 'takjub', walau kaligrafi lafadz ‘Allah’ itu mungkin hanya tampak tak terlalu lama karena segera tertutup mendung atau salju, namun berhasil dipotret kawanku seorang Mayor TNI-AU, walau hasilnya mungkin kurang terlalu jelas.
Secara halus aku merasa disapa Allah SWT. Aku merasa fenomena alam itu suatu sapaan atau mungkin juga ’peringatan’ khususnya padaku bahwa usiaku tidak muda lagi, harus lebih rajin beribadah dan beramal.
Suhu sekelilingku berkisar 5 derajad celsius namun angin yang berhembus dari awan awan rendah kutub itu membuat suhu sekeliling menjadi lebih dingin. Wuuuuuzzzz angin dingin...dari awan-awan kutub yang rendah menerpa muka dan tanganku, langsung berubah menjadi lapisan es tipis yang segera mengering...! Allahu..Akbar.Alhammdulillah,.Subhannallah.
Sejak itu saya mulai lebih rajin mempelajari Al Qur'an dibanding sebelumnya. Bila diputar kembali waktu maka kepergianku tsb tepat pada tanggal 18 Oktober 2007saat aku genap berusia 40 tahun. Kemudian sewaktu tiba di Tromso waktu melihat lafadz Allah tsb pada 20 Oktober (10) 2007. Setelah kubuka Al Qur’an kudapati surat 10 yaitu surat Yunus ayat 20 berarti :
10:20. Dan mereka berkata: “Mengapa tidak diturunkan kepadanya (Muhammad) suatu keterangan (mukjizat) dari Tuhannya?” Maka katakanlah: ” Sesungguhnya yang gaib itu kepunyaan Allah ; sebab itu tunggu (sajalah) olehmu, sesungguhnya aku bersama kamu termasuk orang-orang yang menunggu". Mungkin semua ini hanya suatu kebetulan menurut orang orang, namun buatku peristiwa ini sungguh peristiwa menakjubkan dalam hidupku.
Demikianlah, sampai sekarang-pun aku masih merenungkan terus apa makna kepergianku ke Norway waktu itu. Saya merasa bahwa kepergianku ke Norway kala itu seperti ada yang mengatur. Banyak hikmah yang kudapat didalamnya walaupun sampai sekarang masih terus saya gali terus maknanya. Rencananya pengalaman-pengalaman perjalananku ke bumi utara ini akan saya tuangkan dalam sebuah buku tersendiri. Tunggu sajalah olehmu..!
Jumat, 05 Agustus 2011
Ziarah Iklim:Migrasi Hewan



Fenomena migrasi hewan, merupakan fakta fenomena alam yang semakin banyak ditemui di berbagai belahan dunia, baik di kawasan tropis, sub-tropis dan bahkan antar lingkaran kutub uatara dan selatan. Beberapa fakta migrasi hewan tsb sempat penulis lihat secara langsung atau tak langsung (menggunakan alat) ketika berkunjung ke beberapa kawasan didaerah tropis, sub-tropis maupun di dekat lingkaran kutub. Migrasi hewan merupakan fenomena perpindahan periodik hewan dari suatu tempat tinggal ke daerah baru dan kemudian melakukan perjalanan kembali (pulang) lagi ke habitat asal pada waktu tertentu.
Faktor pendorong utama hewan-hewan bermigrasi biasanya pencarian sumber makanan karena adanya kelangkaan atau kekurangan pangan dihabitat asal (karena berbagai sebab). Faktor pendorong migrasi lain adalah mencari lokasi terbaik untuk berkembang biak karena habitat asalnya kurang cocok untuk bereproduksi. Dari pengamatan penulis peristiwa migrasi hewan musiman ini merupakan fenomena alam menakjubkan dan sangat menarik untuk diamati. Bahkan, di beberapa negara fenomena alam ini telah dijadikan komoditi ‘wisata ekologis’ yang mendatangkan devisa cukup besar misalnya migrasi paus Bongkok dan Killer Whale di Norway dan Australia, migrasi burung Elang Alap-alap China di Taiwan atau migrasi Angsa Kanada di Amerika Serikat.
Migrasi hewan biasanya terkait dengan perubahan musim atau ‘waktu biologis’ tertentu terkait dengan perilaku kebiasaan hewan terhadap kondisi alam misalnya posisi bulan terhadap bumi. Ada pula hewan yang mempunyai 'pola migrasi’ yang berhubungan dengan pada pola cuaca atau bencana alam. Migrasi hewan bergantung pada curah hujan atau ketersediaan tumbuhan hijau yang masih segar. Ada beberapa hewan bermigrasi ke daerah utara selama bulan-bulan dalam musim panas. karena pada hari musim panas yang panjang di bagian paling utara dunia dapat tersedia pasokan makanan yang baik. Sementara pada musim gugur dan dingin, banyak hewan bermigrasi ke selatan untuk mencari cuaca hangat di musim dingin dan tersedianya makanan, karena semua sumber makanan di daerah asalnya membeku atau tertutup lapisan es (salju).
Beberapa hewan memiliki waktu migrasi penuh dalam satu tahun, artinya perjalanan pulang dan pergi ditempuh dalam satu tahun. Ada pula hewan yang memerlukan waktu migrasi hingga beberapa tahun dalam satu siklus migrasinya. Para ilmuwan melihat migrasi hewan merupakan sebuah upaya adaptasi ditengah lingkungan alam dan iklim yang berubah. Hewan-hewan yang telah belajar untuk bermigrasi ke lingkungan optimal adalah hewan berhasil survive (selamat) untuk melanjutkan spesies generasi-nya.
Senin, 30 Mei 2011
Kembalinya Sang Angsa Pengelana.!



Minggu, 22 Agustus 1999(Wawancara Seminggu Sebelum Aku Menikah)Populasi angsa Kanada (Branta canadensis) yang hampir punah mulai pulih kembali. Sebuah kisahsukses dalam upaya penyelamatan lingkungan. TAK selamanya warta lingkunganmembawa cerita pilu. Sesekali ada juga, lo, angin segar yang berembus daribidang yang telah menjadi kepedulian masyarakat global ini. Simak saja yangterjadi pekan lalu ketika Negeri Paman Sam menyatakan, saat ini sedangmengajukan usulan untuk mencabut spesies angsa Kanada (Aleutian Kanadagoose) dari daftar spesies yang terancam punah.Adalah Menteri Dalam Negeri AS Bruce Babbit yang mengemukakan hal itu.Bahwa populasi burung-burung migrasi dengan ciri selempang pita bulu putihyang melingkar di leher mulai pulih kembali. Sebelumnya, angsa-angsa yangsering terlihat di pulau-pulau terpencil di lepas pantai Alaska dan dinegara bagian Oregon dan California selama musim-musim dingin itu sudahterancam punah. Pada tahun 1975 misalnya populasi dunia angsa Kanada hanyaberjumlah 790 ekor. Penyebabnya, seperti biasa, memang ulah manusia.Dinas Margasatwa dan Perikanan Amerika Serikat menyebut bahwa ancamanterhadap kawanan angsa-angsa itu telah dimulai. Terutama ketika para petanibulu binatang di kawasan-kawasan itu mulai memelihara rubah untuk membantupekerjaan mereka. Bisa diduga, akibatnya angsa-angsa itu pun tak dapatbertahan. Apalagi ketika para pemburu juga mulai 'menyemarakkan' situasidengan membawa lebih banyak rubah ke 190 pulau di daerah bersarangnyaburung-burung angsa itu di lepas pantai Alaska.Peristiwa itu ternyata telah terjadi sejak awal tahun 1750. Pemanfaatanrubah di pulau-pulau yang sebelumnya merupakan daerah bebas mamalia itumencapai puncaknya pada 1915-1936 ketika permintaan dunia akan bulumeningkat pesat. Nah, terdorong oleh kondisi yang memprihatinkan itu upayapemulihan pun dilakukan. Kawasan yang merupakan habitat angsa-angsa migranitu dibuat sebagai daerah bebas rubah. Habitat migrasi mereka benar-benardilindungi. Upaya untuk merelokasi angsa-angsa ke pulau-pulau lain jugadilakukan. Hasilnya pun mulai terlihat. Kini, jumlah binatang telahberkembang menjadi sekitar 32.000 ekor."Fenomena itu kini telah kembali," kata Menteri Dalam Negeri AmerikaSerikat Bruce Babbit seperti dikutip Associated Press. "Sungguh, ini adalahsebuah kisah yang sangat menakjubkan." Sebelumnya para ahli biologi takmenemukan satu pun angsa Kanada antara tahun 1938 sampai dengan tahun 1962.Namun, kemudian, para peneliti sempat menemukan populasi tersisa mereka diBuldir Island, pulau terpencil yang tandus di Kepulauan Aleutian Barat.Spesies langka
Amerika telah menyatakan angsa-angsa itu sebagai spesies langka yangterancam punah pada 1967. Ini dikukuhkan di bawah Undang-UndangPerlindungan Spesies Langka Tahun 1966. Status angsa-angsa itu kemudiandiperbaiki dari status 'langka' menjadi 'terancam' dalam tahun 1990 setelahpopulasi angsa tersebut mencapai 6.300 ekor. Melalui proposal pemerintah,angsa-angsa itu kemungkinan besar akan dapat dilepaskan dari daftar spesiesterancam dalam waktu satu tahun mendatang. Sejalan dengan fenomenamenggembirakan itu, baru-baru ini, Amerika Serikat, Rusia, dan Jepang telahbergabung dalam sebuah proyek kerja sama untuk memulihkan kembali populasiangsa Kanada itu di Kepulauan Kuril di lepas pantai Rusia. Delapan puluhenam ekor angsa Kanada telah dilepaskan di kawasan pulau-pulau tersebut.Kabarnya, lebih banyak lagi proyek pelepasan telah direncanakan.Dinas Margasatwa dan Perikanan Amerika kabarnya juga telah mengusulkanuntuk mencoret enam spesies lain dalam daftar yang sama sejak awal tahunini. Saat ini masih ada sekitar 1.181 spesies yang tercatat di bawah UUtersebut. Enam puluh persennya adalah spesies tumbuhan. Kantor-kantorfederal Negeri Clinton itu memang telah mencatat sukses lain dalammenyelamatkan spesies burung-burung yang terancam punah. Pemerintah Amerikamenurut rencana juga akan mengumumkan sebelum tanggal 26 Agustus ini untukmencoret burung elang (peregrine falcon) dari daftar spesies langka. Itukata Robert Mesta, koordinator nasional untuk penyelamatan peregrine padaDinas Margasatwa dan Perikanan AS di Ventura California.Pada 1998, menurut data pada dinas itu, diperkirakan ada sekitar 1659pasang peregrine di Amerika. Kini beberapa ahli memprediksi bahwa populasiperegrine sudah berjumlah sebanyak 3.000 pasang, kata Mesta. Jumlahtersebut memang telah melampaui sasaran yang ditetapkan pada 1970 ketikaburung tersebut masih tercantum dalam daftar catatan itu. Bahwa pemulihanperegrine akan tercapai setelah spesies itu mencapai 631 pasang. Mengapaitu terjadi?
Pestisida jenis DDT sejauh ini telah diketahui membantu menurunkan populasiperegrine falcons sampai 39 pasang di Benua Amerika pada 1970-an. Populasiitu, bahkan, sama sekali hilang di New England. Sekali penggunaan DDTdilarang pada tahun 1972, burung-burung tersebut pun mulai tampak pulihkembali. Apa hikmah yang bisa dipetik Indonesia dari kisah-kisah pemulihanitu?
Adaptasi hormonal
Angsa Kanada terkenal karena migrasi musiman mereka, karena Angsa ini memiliki lokasi transit di daerah persinggahan di mana mereka bergabung dengan grup hewan migran lain. Pada musim gugur migrasi mereka dapat dilihat dari bulan September sampai awal November. Para migran awal memiliki kecenderungan untuk menghabiskan waktu kurang berhenti istirahat dan pergi melalui migrasi jauh lebih cepat. Burung-burung kemudian biasanya menghabiskan lebih banyak waktu di lokasi beristirahat. Angsa Ini juga terkenal karena penerbangan membentuk formasi hutuf ‘V’ . Angsa meninggalkan Kanada karena datangnya musim dingin dengan tujuan kawasan selata yang masih hangat. Fenomena unik yang terjadi pada Angsa ini adalah peningkatan hormon tiroid, seperti T3 dan T4, telah diukur dalam angsa hanya setelah migrasi besar. Hal ini diyakini karena hari-hari panjang terbang dalam migrasi kelenjar tiroid T4 mengirim lebih lanjut yang akan membantu tubuh mengatasi perjalanan panjang. Tingkat T4 meningkat juga terkait dengan peningkatan massa otot (hipertrofi) dari otot dada, karena semakin lama waktu yang dihabiskan terbang. Hal ini diyakini bahwa tubuh mengirimkan lebih T4 untuk membantu tubuh angsa dengan tugas yang panjang dengan mempercepat metabolisme dan suhu di mana karya tubuh [20] Juga,. Studi lainnya yang dilakukan menunjukkan tingkat corticosterone meningkat secara dramatis dalam burung setelah dan selama migrasi. Corticosterone dikenal hormon stres, sehingga hanya masuk akal bahwa ketika burung ini tertekan oleh terbang jarak jauh setiap hari, lebih banyak corticosterone dilepaskan ke dalam sistem mereka. Hal ini diyakini bahwa tingkat corticosterone lebih tinggi akan membantu burung lebih baik mengelola energi untuk keperluan migrasi jarak jauh.
Direktur Lingkungan CIDES Indonesia, M.Rudi Wahyono kepada Media memberikan komentar, kasus angsa Kanada itu bisadiambil sebagai pelajaran bagi para pengambil kebijakan bidang lingkunganhidup di Indonesia. "Kita bisa mengambil hikmah dari Fenomena adaptasi hewan karena perubahan iklim dalam kasus itu. Misalkanuntuk meningkatkan kesadaran masyarkat agar lebih concern terhadap matarantai kehidupan sesederhana apa pun dengan melestarikannya." Peneliti Senior Cides itu juga berharap agar pemerintah seyogianya juga meletakkan kebijakan jangkapanjang dalam pengelolaan lingkungan hidup. "Hal-hal yang belum diketahuimanfaatnya dalam mata rantai kehidupan sebaiknya diteliti dan hasilnyadisebarkan kepada masyarakat." . Haryo Prasetyo/M-1Hak cipta © 1997-1998 Media Indonesia
Rabu, 11 Mei 2011
Health Impacts under Climate Change




With the support from National Science Council (NSC), Taiwan, Southeast Asia Regional Committee for START (SARCS) Secretariat and National Cheng Kung University (NCKU) have jointly hosted the 2010 Advanced Training Workshop on Southeast Asia Regional Health Impacts and Adaptation under Climate Change from November 25th to 29th in a conference room at Zenda Suites, Tainan, Taiwan, where scholars and experts from United States, Korea, Japan and Taiwan have gathered together to discuss environmental and health issues resulted from climate change.
In the opening ceremony, NCKU President Michael Ming-Chiao Lai expressed in his opening remark, “This is the 2nd year SARCS Training Workshop held in National Cheng Kung University. This Workshop is a meaningful exercise which aims to increase capacity of regional scientists and institutes to cooperate on global environmental research, and to coordinate the work of national and regional societies, to bring together scientists working on health issues and to foster collaboration and the exchange of ideas concerning climate change in the Southeast Asia region.”
President Lai also mentioned, “This Workshop consists of several themes of importance, including adaptations of climate change and health, food security and nutrition, extreme temperature effects and adaptations, air-pollution-related health effects and adaptations, biodiversity-related effects and adaptations. We are glad to invite around ten well-established scholars in this field from USA, Korea, Japan and Taiwan to serve as the lecturers for the Workshop.”
“Climate change is projected to have far-reaching effects on human health and well-being. Heatwaves and other extreme weather events, such as floods, droughts, and windstorms, annually affect millions of people and cause billions of dollars of damage. Climate change will increase the frequency and intensity of extreme weather events over coming decades. Climate can affect health burdens through affecting the number of people at risk of malnutrition, as well as through alterations in the geographic range and incidence of vectorborne, zoonotic, and food- and waterborne diseases, and changes in the prevalence of diseases associated with air pollutants and aeroallergens,” said Dr. Kristie L. Ebi of Carnegie Institution for Science, U.S., in her lecture of “Adaptation of Climate Change and Health - the Past, Present and Future.”
Dr. Kristie L. Ebi also stated, “Climate change has begun to alter natural systems, increasing the incidence and geographic range of some vectorborne and zoonotic diseases. Additional climate change is projected to significantly increase the number of people at risk of major causes of ill health, particularly malnutrition, diarrheal diseases, malaria, and other vectorborne diseases. Climate also can impact population health through climate-induced economic dislocation and environmental decline.”
Dr. Ebi further stressed, “Climate change will make more difficult the control of climate-sensitive health outcomes. Therefore, policies need to explicitly consider these risks in order to maintain current levels of control. In most cases, the primary response will be to enhance current health risk management activities. Although there are uncertainties about future climate change, failure to invest in adaptation may leave communities and nations poorly prepared, thus increasing the probability of severe adverse consequences. Policy makers need to understand the potential impacts of climate change, the effectiveness of current programs, and the range of available choices for enhancing current or developing new programs and activities.”
Prof. Huey-Jen Su of NCKU Department of Environmental and Occupational Health, the Chairman of the Workshop, revealed, “The purpose of the Workshop is to assemble fact sheets and current statistics concerning regional or national status in responding to the challenge of global climate change, to develop skills and knowledge needed for engaging in studies or investigations regarding impact assessment and adaptation formulation for young researchers of the Southeast Asia region, to facilitate the communication and interaction among diverse disciplines involved in constructing the adaptation strategy and action plan of various localities and to build a network and platform for coordinating interests and professionals of Southeastern Asian countries related to climate change adaptation endeavors.”
Previous studies have demonstrated that global warming would alter the regional climatic patterns, jeopardize ecological system, and affect public health in the form of heat stress associated mortality and morbidity, air pollution associated diseases burden, extreme weather associated mental health, inadequate water and food associated malnutrition, and distribution and epidemic of various infectious diseases. With all the recognized impacts, issues of adaptation strategies have become top priorities both in terms of research needs and strategic exercises.
As part of Taiwan's contribution to the SARCS capacity building program, the 2010 Advanced Training Workshop on Southeast Asia Regional Health Impacts and Adaptation under Climate Change, which is open to experts from SARCS member countries and other territories of interest, focuses on illustrating the health impacts and possible adaptations under climate change, especially with the Southeastern Asia scenarios as examples of exercises.
Senin, 04 April 2011
Kampanye Tsunami



Sepulang dari Taiwan awal Desember 2003, semangat ilmu Geomorfology, Coastal management dan Disaster Monitoring masih hangat dalam kepalaku. Semangat itu saya tuangkan kedalam proposal capacity building yang segera disambut baik oleh DR.Jan Henning Steffen, Direktur CSI-Coastal and Small Island program UNESCO dan beliau mengucurkan dana JITF-Japan International Trust Fund –UNESCO untuk program Capacity Building itu bekerjasama dengan BPPT dan LIPI pada Juli 2004. Thema yang diangkat waktu adalah ‘Deteksi, Mitigasi dan Pencegahan Degradasi dan Bencana di Kawasan Pesisir Indonesia’. Workshop ini diikuti oleh peserta dari berbagai instansi terutama Bappeda di Indonesia.
Sukses acara ini adalah mulai memperkenalkan isu mitigasi bencana di kawasan pesisir di Indonesia serta mendapat liputam media nasioal yi KOMPAS dan Jakarta Post. Workshop ini membahas banyak hal termasuk salah satu themanya tentang Tsunami dan Coastal Geology disampaikan oleh Prof.Otto Ongkosongo dan DR.Nany Hendiaty, tentang Satelit Pemantau Kelautan. Para peserta mendapatkan sekilas gambaran aneka problema dipesisir dan pemantauannya baik disebabkan oleh ulah manusia (antrophogenik) ataupun oleh alam. Salah satu peserta workshop ini adalah dari Bappeda Sabang Propinsi NAD.
Sebagai follow up dari workshop dan atas dukungan UNESCO saya berkeliling ke berbagi lembaga meperkenalkan Mitigasi Bencana, namun hasilnya sangat mengecawakan. Berbagai lembaga dan instansi pemerintah itu menjawab bahwa mitigasi bencan bukan prioritas dan taka ada dalam daftar program mereka, jadi tak perlu diprogramkan. Yang membuatku kecewa dan frustasi adalah banyak hal konyol yang dilontarkan oleh berbagai instansi itu walapun tak sedikit dari mereka bergelar ‘Doktor’. Bahwa hal prioritas adalah membekali para pejabat dengan ilmu administrasi sehingga tak ‘masuk penjara’ akibat terjerat korupsi karena ‘mis-administrasi’.
Desember 26, pagi hari itu hari libur dan suasana semua sedang bersantai. Saya duduk duduk nonton TV bersama keluarga, sekilas kemudian METRO TV menyiarkan Breaking News adanya Gempa besar di Aceh yang mencapai 8,9 skala Richter atau lebih. Saya langsung teringat ‘Peringatan Prof.Honjo’ dan menduga bakalan jatuh banyak korban, karena berdasar kalkulasi kekuatan gempa dan populasi masyarakat terdampak sebenarnya bisa langsung dipredisi jumlah korban. MasyaAllah ..ternyata korban tewas dan hilang mencapai 250 ribu orang lebih.
Bencana Tsunami Aceh 2004 membuat pemerintah kita baru tersadar akan pentingnya mitigasi bencana. Sejak itu hampir semua department beramai ramai membuat program tersebut. Terlebih banyak sekali ‘funding internasional’ yang membantu. Namun ada satu hal yang terasa hilang yaitu semangat untuk belajar untuk mempersiapkan diri menghadapi bencana. Semangatnya hanya semangat mengejar proyek karena Indonesia ‘kebanjiran dana’ terkait dengan isu bencana. Rupanya kelalaian kita karena suatu hal yang tak dianggap penting harus dibayar dengan ‘Sangat-sangat Mahal’. Dan sayangnya aku hanya bisa mononton dan berteriak teriak dari luar podium
bagai supporter sepakbola yang tak digubris karena suaranya lenyap ditelan keriuhan.
Kisahku dan Tsunami


Bicara Tsunami, sebenarnya aku punya hubungan cukup akrab dengannya. ‘Friday Tsunami’ demikian para ahli Gempa menjuluki gempa besar diikuti Tsunami di Jepang pada Jum’at 11 Maret 2011 yang menewaskan lebih dari 10 ribu jiwa. Bencana ini benar benar diluar prediksi banyak kalangan termasuk para pemerhati Tsunami. Salah satu kesimpulannya adalah kejadian Tsuami besar semakin dekat temponya...bukan hitungan millenium, abad bahkan dekade..hanya hitungan tahun saja. Kejadian bencana itu setidaknya membuatku merinding, karena peristiwa besar ini selalu disiarkan secara ‘live’ berkat kemajuan teknologi, namun sekali lagi kita hanya bisa ‘terbengong’ atau ‘lari tunggang-langgang’ ketika hal ini terjadi.
Mendengar istilah ‘Tsunami’, ingatanku seperti diputar lagi ke masa delapan tahun silam sewaktu mengikuti Fellowships dari SARCS- Geomorfology di Universitas Sun Yat Sen di Kaoshiung-Taiwan November 2003. Dalam Advance Fellowships Course itu diisi oleh para professor terkenal dan dikenal amat pakar dibidangnya. Diantara para nara sumber itu ada 2 professor asal Jepang yaitu Prof.Isao Koike dari Ocean Research Institute University Tokyo dan Prof.Susumu Honjo dari Woods Hole Laboratory Institute sebuah lembaga sains Geofisika di USA.
Dalam kuliah tersebut dibahas berbagai mekanisme Geochemistry-Biogeochemistry di dasar lautan. Dijelaskan pula bahwa hampir semua bentang rupa bumi termasuk ‘Tri-D-Bottom Map’ sudah berhasil dibuat oleh umat manusia, artinya semua rupa Bumi baik di daratan dan dasar laut paling dalampun sudah ada peta geologisnya. Dengan data itu prediksi-prediksi seismic bumi bisa dilakukan dengan cukup akurat terlebih dengan adanya ilmu Modelling dan Simulasi Komputer.
Saya adalah satu diantara 3 peserta dari Indonesia yang proaktif bertanya, menyanggah atau berdiskusi dengan nara sumber dalam advance course tsb, Maklumlah background ilmu Geologiku cuma satu semester. Beberapa Professor itu dengan sabar dan antusias banyak memberi masukan dan mengajakku mengobrol atau menawarkan sesuatu didalam kuliah atau disela-sela ‘lunch’ dan ‘dinner’. Satu hal yang kuingat dengan jelas adalah Peringatan Prof.Koikie dan Prof.Honjo tentang kemungkinan ‘Adanya Potensi Tsunami Besar di Indonesia’.
Beliau juga menawariku apabila berminat boleh mengikuti ekspedisi penelitian ‘Marine Geomorfologi’-nya ke berbagai wilayah di bumi. Salah satu undangan yang saya lewatkan itu adalah Magang di Tsunami Center Hawai dan Expedisi ke Laut Antartika. Waktu itu saya berpikir kenapa seorang ‘environment scientist’ sepertiku tak perlulah terlalu focus pada ilmu geologi apalagi waktu ekspedisinya cukup lama untuk meninggalkan keluarga yaitu minimal 8-14 bulan. Wah bisa mati kaku saya di tempat tempat terpencil itu, terlebih saya tahu dalam ekspedisi itu pasti keselamatan nyawa tak dijamin walau sudah diasuransikan.
Jumat, 18 Februari 2011
Mitigasi Bencana di Perkotaan



YOGYAKARTA - Bencana dan krisis adalah permasalahan yang sering dialami megacity di berbagai belahan dunia, termasuk Jakarta. Kondisi itu diperparah dengan peningkatan pertumbuhan penduduk yang sangat pesat, proses urbanisasi yang demikian cepat tanpa adanya perencanaan yang baik, dan penggunaan lahan yang tidak sesuai dengan daya dukungnya. Permasalahan tersebut akan menjadi permasalahan sosial jika tidak segera ditanggulangi. Oleh karena itu, koordinasi dan sharing best practise yang baik antarpemangku kepentingan sangat dibutuhkan dalam mengurangi risiko yang ditimbulkan.
Demikian yang mengemuka dalam Workshop “Risk, Crisis Prevention, and Disaster Management in Megacities” yang bertempat di Kantor BPPT, Jalan M.H. Thamrin 8, Jakarta, Senin (7/2) lalu. Workshop merupakan hasil kerja sama Fakultas Geografi UGM, BPPT, dan Universitas Koeln Jerman.
Kepala Bidang Teknologi Mitigasi Bencana BPPT, Drs. Bambang Marwanta, M.T., mengutarakan sudah saatnya megacity, seperti Jakarta, secara terpadu melakukan kajian penilaian risiko, juga manajemen krisis dan bencana, dengan mempertimbangkan tidak hanya potensi ancaman bahaya alam, tetapi juga bahaya akibat kegagalan teknologi dan perbuatan manusia.
Dr. Muh Aris Marfai dari Program S-2 Pengelolaan Pesisir dan Daerah Aliran Sungai (MPPDAS) mengatakan pentingnya strategi adaptasi terhadap perubahan iklim, terutama untuk kota pesisir dan megacity, seperti Jakarta. “Multi-use purposes kawasan pesisir dengan kompleksitas permasalahannya secara signifikan mempengaruhi tingkat vulnerability dari kawasan ini terhadap perubahan iklim global. Dengan meningkatnya kejadian banjir rob, banjir sungai, dan cuaca ekstrim, maka diperlukan rencana aksi untuk mengurangi risiko bencana yang dapat diformulasikan secara bersama antara pemerintah dan masyarakat,” katanya.
Dalam kesempatan tersebut, Gerrit Peters dari Univ. of Cologne Germany mengemukakan beberapa pengalaman riset yang dilakukannya terkait dengan kemampuan masyarakat Jakarta dalam melakukan adaptasi dan strategi pengurangan risiko bencana banjir, salah satunya melalui metode participatory urban appraisal. “Saya dan dan tim dari Program S-2 MPPDAS UGM kini tengah berada di kawasan Muara Angke, Kampung Melayu, guna melakukan penjaringan selama dua bulan untuk mendapatkan data-data terkait dengan kemampuan masyarakat untuk melakukan adaptasi dan strategi pengurangan risiko bencana,” tuturnya.
Sementara itu, Direktur Lingkungan Hidup dari CIDES (Center Indonesia for Development and Studies), M. Rudi Wahyono, menekankan pentingnya pemberdayaan masyarakat dalam penanganan kebencanaan. Direktur Lingkungan Hidup dari CIDES (Center Indonesia for Development and Studies), M Rudi Wahyono itu juga menekankan
bahwa penderitaan dan biaya hidup masyarakat perkotaan semakin meningkat dengan adanya bencana tsb. 'Cost of disaster' di perkotaan bisa menghilangkan sebagian atau seluruh asset-asset berharga masyarakat kelas bawah khususnya.
Dalam rilisnya, Aris Marfai mengemukakan workshop tersebut juga merupakan bagian dari kegiatan Riset kerja sama Fakultas Geografi UGM dan University of Koeln tentang potensi bencana dan permasalahan di megacity dengan studi kasus Jakarta.
"Sharing konsep dan pengetahuan praktis terkait dengan manajemen krisis dan bencana serta memformulasikan langkah-langkah konkret yang harus dilakukan di masa mendatang," pungkasnya.
Dalam rilisnya yang dikirim Rabu (9/2), Aris Marfai mengatakan workshop tersebut juga merupakan bagian dari kegiatan riset kerja sama Fakultas Geografi UGM dan University of Koeln tentang potensi bencana dan permasalahan di megacity dengan studi kasus Jakarta. “Sharing konsep dan pengetahuan praktis terkait dengan manajemen krisis dan bencana serta memformulasikan langkah-langkah konkret yang harus dilakukan di masa mendatang,” pungkasnya. (Humas UGM/Gusti Grehenson)
Senin, 24 Januari 2011
Fenomena Crop Circle,Bencana Yogya & Kejadian Alam




Fenomena Crop Circle di Sleman mengingatkanku pada Film 'When Universe Collide' di Hongkong Space Museum 1 Des 2010. Didalamnya bercerita Kejadian alam semesta menurut Sains modern disajikan 3-D yang sungguh sangat menakjubkan buatku. Subhannallah. Film ini diawali dari sejarah manusia mengeksplorasi langit sebagai penunjuk arah mata angin dengan bukti bukti arkeologi dengan ornament-ornament geometris seperti 'Circle Crop'yang ditemui di beberapa wilayah di Bumi.
Hingga awal abad ke-20, pandangan umum di dunia ilmu pengetahuan adalah bahwa alam semesta bersifat tetap dan telah ada sejak dahulu kala tanpa permulaan.
Namun, penelitian, pengamatan, dan perhitungan yang dilakukan dengan teknologi modern, mengungkapkan bahwa alam semesta sesungguhnya memiliki permulaan, dan ia terus-menerus "mengembang". Seorang fisikawan Rusia, Alexander Friedmann, dan ahli kosmologi Belgia, George Lemaitre pada abad 20 secara teoritis menghitung dan menemukan bahwa alam semesta senantiasa bergerak dan mengembang. Fakta ini dibuktikan juga dengan menggunakan data pengamatan pada tahun 1929. Ketika mengamati langit dengan teleskop, Edwin Hubble, seorang astronom Amerika, menemukan bahwa bintang-bintang dan galaksi terus bergerak saling menjauhi. Sebuah alam semesta, di mana segala sesuatunya terus bergerak menjauhi satu sama lain, berarti bahwa alam semesta tersebut terus-menerus "mengembang". Pengamatan yang dilakukan di tahun-tahun berikutnya memperkokoh fakta bahwa alam semesta terus mengembang.
Dewasa ini sains mengkalkulasi terdapat sekitar 200 milyar galaksi di alam semesta yang masing-masing terdiri dari hampir 200 bintang. Sebagian besar bintang-bintang ini mempunyai planet, dan sebagian besar planet-planet ini mempunyai bulan. Semua benda langit tersebut bergerak dalam garis peredaran yang diperhitungkan dengan sangat teliti. Selama jutaan tahun, masing-masing seolah "berenang" sepanjang garis edarnya dalam keserasian dan keteraturan yang sempurna bersama dengan yang lain. Selain itu, sejumlah komet juga bergerak bersama sepanjang garis edar yang ditetapkan baginya.Garis edar di alam semesta tidak hanya dimiliki oleh benda-benda angkasa. Galaksi-galaksi pun berjalan pada kecepatan luar biasa dalam suatu garis peredaran yang terhitung dan terencana. Selama pergerakan ini, tak satupun dari benda-benda angkasa ini memotong lintasan yang lain, atau bertabrakan dengan lainnya. Bahkan, telah teramati bahwa sejumlah galaksi berpapasan satu sama lain tanpa satu pun dari bagian-bagiannya saling bersentuhan.
Dipastikan bahwa pada saat Al Qur'an diturunkan, manusia tidak memiliki teleskop masa kini ataupun teknologi canggih untuk mengamati ruang angkasa berjarak jutaan kilometer, tidak pula pengetahuan fisika ataupun astronomi modern. Karenanya, saat itu tidaklah mungkin untuk mengatakan secara ilmiah bahwa ruang angkasa "dipenuhi lintasan dan garis edar" .
Dalam film juga digambarkan keunikan atmosfir Bumi seperti tergambar dalam Al Qur'an,: "Dan Kami menjadikan langit itu sebagai atap yang terpelihara, sedang mereka berpaling dari segala tanda-tanda (kekuasaan Allah) yang ada padanya." (Al Qur'an, 21:32) Sifat langit ini telah dibuktikan oleh penelitian ilmiah abad ke-20.
Atmosfir yang melingkupi bumi berperan sangat penting bagi berlangsungnya kehidupan. Dengan menghancurkan sejumlah meteor, besar ataupun kecil ketika mereka mendekati bumi, atmosfir mencegah mereka jatuh ke bumi dan membahayakan makhluk hidup.
Atmosfir juga menyaring sinar-sinar dari ruang angkasa yang membahayakan kehidupan. Menariknya, atmosfir hanya membiarkan agar ditembus oleh sinar-sinar tak berbahaya dan berguna, - seperti cahaya tampak, sinar ultraviolet tepi, dan gelombang radio. Semua radiasi ini sangat diperlukan bagi kehidupan. Sinar ultraviolet tepi, yang hanya sebagiannya menembus atmosfir, sangat penting bagi fotosintesis tanaman dan bagi kelangsungan seluruh makhluk hidup. Sebagian besar sinar ultraviolet kuat yang dipancarkan matahari ditahan oleh lapisan ozon atmosfir dan hanya sebagian kecil dan penting saja dari spektrum ultraviolet yang mencapai bumi.Kenyataan ini diterangkan dalam Al Qur'an pada saat tak seorang pun mengetahuinya. Ini dikarenakan Al Qur'an adalah firman Allah, Sang Pencipta, dan Pengatur keseluruhan alam semesta.
Kepergianku ke Hongkong ternyata berbekas sangat mendalam di hati dan pikirannku bukan karena kehebatan kota ciptaan manusia disana dengan gedung gedung pencakar langit dan koleksi aneka produk fashion dan elektronika, tapi malah perenungan tentang kejadian alam semesta. Saya melihat banyak orang asing dan tourist sepertinya berpikiran sama namun mereka pasti tak pernah mempelajari Al Qur'an..sebelumnya. Sehingga di benak mereka mungkin hanya berpendapat bahwa kejadian alam semesta itu hebat dan seperti ada skenario yang diikutinya. Itu saja.
Sepulang dari Hongkong aku pulang kampung dan menyempatkan mampir ke Sleman sekitar baru 2011 mengunjungi handai taulan. Anak-anakku adalah generasi didikan modern yang terkadang menolak semua yang berbau Bencana atau Kesedihan sehingga tak terbersit secuilpun dibenaknya akan hebatnya kejadian Alam di Yogya. Ketika saudara-saudaraku menawari mereka melihat Merapi dari dekat, mereka langsung menolaknya.
Rupanya Allah berkehendak lain, ketika kami bergegas balik ke Jakarta , kami dipaksa melihat ganasnya Lahar Dingin di sekitar Jumoyo Salam Magelang. Peristiwa ini membuatku semakin yakin bahwa fenomena Bencana Merapi di Yogya sungguh peristiwa alam luar biasa..bahkan bagi Mahluk asing sekalipun. Sayangnya ilmu kita belum bisa mencapainya dan menolaknya karena tak masuk dalam pertimbangan rasional kita.
Rabu, 29 Desember 2010
Migrasi Gerombolan "Raptor China"





Salah satu fenomena alam unik selama kunjungan ke Taiwan adalah mengikuti penelitian DR.Chow Jeng Wong, seorang ahli Elektro Fisika dari University Sains Malaya. Dia menempatkan berbagai sensor pergerakan (berupa radar dan kamera) untuk mengamati migrasi raptor (burung pemangsa) di Taman Nasional Kenting. Rupanya DR.Wong ini mendapatkan banyak dana riset dari NSC Taiwan untuk meneliti pola pola migrasi burung raptor China di Kenting National Park diujung selatan Taiwan. Dari pengamatan DR.Wong setidaknya 20,000 ekor spesies Raptor (burung pemangsa) secara rutin melakukan migrasi inter-continental menuju dan dari Cagar Alam Kenting di Taiwan pada bulan November-Desember setiap tahunnya. Sungguh fenomena alam yang luar biasa menarik buatku.
Fenomena migrasi burung Raptor ini mendatangkan berkah tersendiri bagi dunia wisata ‘birdwatching’-menonton migrasi burung’ di Taiwan. Disamping mendatangkan devisa, fenomena alam itu juga menumbuhkan kecintaan terhadap nilai nilai ‘konservasi’ di semua kalangan masyarakat. Itulah dampak positif ‘migrasi raptor’ di negara yang ‘sadar konservasi’. Semua anggota masyarakat, mulai dari dokter, ahli fisika, militer, para environmentalist sampai anak anak sekolah bahu membahu menunjukkan kepedulian mereka terhadap masalah masalah konservasi di negerinya.
Ingatanku melayang ke masa kecilku, ketika ‘kampungku’ di Jawa Timur kedatangan satu atau dua burung Alap-alap yang melayang-layang diatas kampung. Kejadian itu sudah cukup mencemaskan penduduk. Jangan-jangan ayam atau unggas mereka jadi sasaran. Bayangkan apabila Alap alap itu datang dalam jumlah ribuan ekor. Bisa dibayangkan heboh dan ‘terror’ yang ditimbulkannya. Bisa jadi akan timbul ‘perang’ antara gerombolan raptor ini dengan penduduk. Untunglah, mangsa Alap-alap China (Accipiter soloensis) ini masih target yang wajar saja yaitu katak, kadal, serangga besar dan keluwing besar (kaki seribu). Atau sesekali sembari terbang dia menyambar serangga terbang atau burung-burung kecil lain.
Tak seperti Elang Norway di Kota Bodo yang berukuran raksasa dengan rentang sayap mencapai 250 cm, Alap alap china hanya berukuran rentang sayap sekitar 30 sd 36 cm. Spesies Alap-alap China memang tergolong ‘Pengelana Jarak jauh Trans-Equatorial’ (Bildstein,2006). Spesies ini merupakan jenis pengelana dominan dibanding 2 kelompok lain dalam gerombolannya yaitu Sikep Madu Asia (Pernis ptylorhynchus orientalis), dan Elang Alap Nipon (Accipiter gularis). Ketiga spesies itu tergolong ‘Penjelajah Benua Asia Timur’ meliputi hamparan pulau-pulau sepanjang 7,000 kilometer mulai dari Timur laut Siberia sampai bagian Timur Indonesia dan Papua New Guinea (Bildstein & Zales, 1995, Germi dkk,2009).
Migrasi hewan terutama burung, tidak hanya disebabkan oleh perubahan iklim ekstrem dan hibernasi spesies mangsa, tetapi juga oleh faktor reproduksi, temperatur, pola persaingan, perilaku dispersal atau pemencaran. Menurut DR.Robert de Candido populasi Alap-alap China pada awalnya berkembang-biak di Timurlaut China kemudian bermigrasi melalui Korea, Jepang Tenggara dan Taiwan menuju Asia Tenggara dan Philippina dan sebagian populasi bergerak menyeberangi laut Kuning dari Korea Utara melalui pulau Shandong menuju timur dan China Tenggara, kemudian mengarah ke Selatan selama awal musim panas. Dengan populasi total mencapai 406,000 ekor, kemudian gerombolan burung itu kembali mengikuti jalur sebelumnya secara tahunan (Chong, 2000). Di Indonesia pergerakan tahunan Alap-alap China ini didokumentasikan oleh Francesco Germi dan Waluyo di pulau Sangihe Talaud, Sulawesi utara.
Sebagian besar penelitian menunjukkan bahwa burung raptor melakukan ‘migrasi tahunan’ dengan melakukan pernerbangan jarak jauh. Pola yang paling umum adalah terbang ke utara untuk berkembang biak pada musim panas Arktik dan terbang kembali ke selatan yang hangat ketika utara sedang mengalami musim dingin. Burung-burung pemangsa dari belahan bumi utara melakukan perpindahan tempat dari tempat asalnya untuk menghindari musim dingin di kawasan Mongolia.
Indonesia merupakan wilayah beriklim tropis menjadi salah satu tempat persinggahan terakhir dari migrasi burung tersebut. Beberapa lokasi penting dimana kita dapat menyaksikan migrasi burung pemangsa dalam jumlah besar yaitu Pulau Rupat, Pelabuhan Merak, Puncak, Pegunungan Dieng, Hutan Wisata Penggaron Semarang, Gardu Pandang Merapi, Bromo Tengger, Taman Nasional Bali Barat dan Sangihe Talaud.
Ayo kita amati fenomena menarik ini, siapkan kamera dan teropongmu..!
Senin, 06 Desember 2010
Sejarah VOC di Tainan-Taiwan
Salah satu lokasi wisata sejarah yang kukunjungi selama di Taiwan November 2010 ini adalah menelusuri jejak perjuangan Jendral Cheng Kung dan Port-Zeelandia, sebuah benteng peninggalan Belanda (VOC) yang sekarang dijadikan Museum dan Kuil Temple of The God. Kuil ini sangat ramai, sebagai pertanda bahwa masyarakat Taiwan juga menghargai sejarah leluhurnya.
Serikat Dagang Kompeni Hindia Timur atau VOC yang pernah menjajah Nusantara pada masa jayanya pernah menguasai separuh lingkaran dunia. VOC memiliki pos perdagangan dari pantai barat Afrika di sekitar Ghana, Tanjung Harapan (Kapstad), Galle di Sri Lanka, Surat dan Nagapatnam di India, Ayuthaya di Thailand, Kepulauan Nusantara hingga Pulau Formosa (Taiwan), dan Pulau Deshima di dekat Nagasaki, Jepang. Setelah Batavia didirikan, VOC mengatur perdagangan antara Pulau Jawa, Nusantara, dan Tiongkok. Kepala Penerangan Kantor Dagang Taiwan di Jakarta Tommy Lee menjelaskan, Pemerintah VOC menjadikan Kota Pelabuhan Tainan di Taiwan sebagai gerbang ekspor-impor dari Tiongkok menuju Kepulauan Nusantara.
”Ada hubungan dagang yang erat pada awal abad ke-17 antara Batavia dan Tainan,” katanya. Hubungan itu semakin kokoh semasa Kapiten Tjina pertama Batavia, Souw Beng Kong, memimpin komunitas Tionghoa di Batavia (1580-1644). Sejarawan dari Arsip Nasional Republik Indonesia, Mona Lohanda, dalam buku Sejarah Para Pembesar Mengatur Batavia menulis, pelayaran terbentang dari Amoy di Provinsi Fujian dengan Batavia sejak 1620 hingga awal abad ke-19. Provinsi Fujian atau Hokkian adalah kampung halaman Souw Beng Kong. Ketika itu dibutuhkan waktu berlayar 28 hingga 30 hari untuk menempuh pelayaran Jawa-Tiongkok. Pelabuhan transit yang ditetapkan VOC mulai mengukuhkan monopoli perdagangan. Semula VOC membangun pusat kekuatan di Taoyuan (Anping) lalu pindah ke Tainan di sebelah selatan Formosa di utara Kota Kaohsiung. Berulang kali terjadi bentrokan antara VOC dan para panglima Dinasti Ming yang menentang monopoli dagang. Monopoli dagang di bawah dukungan senjata dan tekanan politik itu mengingatkan kita akan globalisasi dan perdagangan bebas ala World Trade Organization yang sangat merugikan negara berkembang seperti dialami Indonesia saat ini.
Perlawanan Tionghoa
Monopoli dagang VOC akhirnya menimbulkan perlawanan umum masyarakat Tionghoa. VOC membangun benteng Zeelandia di Tainan tahun 1624 yang menjadi pusat perdagangan dan militer. Sejarawan Taiwan, Chao Cing Fu, mencatat, batu bata yang dipakai membangun Fort Zeelandia didatangkan dari Pulau Jawa. Batu bata digunakan untuk penyeimbang kapal (balast) yang berlayar dari Jawa ke Formosa. Sebagai bahan semen digunakan campuran ketan, gula, pasir, dan cangkang kerang laut yang dihaluskan. Fort Zeelandia pun selesai dibangun tahun 1634. Seorang panglima bernama Cheng Cen Kung (Koxinga) tampil memimpin perlawanan rakyat terhadap VOC. Dengan tekad baja dan tidak mempan disuap oleh pedagang Barat (VOC). Sebagai loyalis Dinasti Ming yang di ambang kemunduran, Cheng Cen Kung tetap membuka wawasan untuk mengerti pemikiran dan teknologi baru yang diserap dari Barat dan Jepang kala itu. ”Dia berhasil mengalahkan VOC. Pemimpin VOC dipaksa menyerah dan mengikuti perjanjian damai dengan mengikuti syarat dari Cheng Cen Kung,” ujar Donivan Hsiao, mahasiswa Ursulin Language College di Kaohsiung. Sejarah mencatat, Cheng Cen Kung berhasil menguasai Fort Zeelandia dan menghapus monopoli VOC pada tahun 1662. Walhasil, nama Cheng Cen Kung pun masyhur sebagai simbol perlawanan atas hegemoni Barat di masyarakat Tionghoa hingga kini. Pemimpin VOC di Tainan, Frederik Coyett, dipaksa bertekuk lutut dan akhirnya kembali ke Batavia di Jawa. Itulah satu babak kemenangan perlawanan bangsa Asia terhadap hegemoni perdagangan, senjata, dan politik negara maju pada abad ke-17. Mart Grijsel, seorang Indisch (Indo) asal Belanda, terkagum-kagum melihat Zeelandia dan ikatan sejarah Taiwan-Indonesia dan Belanda di Tainan. Di Indonesia, kisah perlawanan Koxinga pernah direkam dalam komik strip yang muncul akhir tahun 1970-an hingga awal 1980-an di harian sore Sinar Harapan. Fort Zeelandia di bawah Cheng Cen Kung disulap menjadi pusat kekuasaan dengan bangunan berlanggam arsitektur Dinasti Ming. Fort Zeelandia berganti nama menjadi Wang Cheng atau Kota Raja. Itulah sepenggal kisah ikatan sejarah antara Jakarta dan Tainan lewat sebuah benteng. (Sumber : Iwan Santosa.KOMPAS dan Dinas Budaya Tainan, Taiwan).
Minggu, 21 November 2010
Undangan dari FORMOSA





Ditengah haru biru bencana dan kronika politik di tanah air, akhir bulan November 2010 aku terpaksa pergi sebentar ke Formosa memenuhi undangan dari SARCS Taiwan. Ini merupakan kali kedua kunjunganku ke negeri itu. Pada tahun 2003, tujuh tahun lalu aku juga mendapat undangan serupa, bedanya hanya obyek penelitiannya. Bila di tahun 2003 penelitian berfokus di isu kelautan yaitu South China Sea Carbon Cycle yang didanai oleh START Washington melalui kantor regionalnya (SARCS) di Taiwan. Pada tahun 2010 ini isu bergeser ke Perubahan Iklim terkait dengan masalah-masalah kesehatan. Juga bedanya adalh lembaga tempatku bernaung, pada 2003 aku menjadi peneliti tamu di PKSPL-Pusat Kajian Sumberdaya Pesisir dan Lautan –IPB. Namun tahun 2010 ini aku kembali ke Taiwan sebagai peneliti CIDES.
Poyek penelitian ini bertujuan mengetahui dampak variasi perubahan cuaca terhadap prevalensi serangan nyamuk Demam berdarah di Tangerang serta mengetahui pola-pola perubahan distribusinya karena pengaruh perubahan iklim tersebut.Hasil penelitian lapangan kemudian diperbandingkan dengan citra satelit citra satelit EnviSat-MERIS –Enviroment satellite dan modelling. Saya berharap banyak dari proyek penelitian ini bisa memperoleh 'recognize' serta membawaku kembali ke ilmuku semula sebagai seorang peneliti ilmu biologi lingkungan seperti pernah kupelajari di bangku kuliah di beberapa negara.
Formosa
Taiwan atau Formosa adalah sebuah pulau di Asia Timur. "Taiwan" sering pula dipergunakan untuk merujuk kepada wilayah yang diperintah oleh Republik Cina dan juga kepada Republik Cina itu sendiri, yang memerintah Pulau Taiwan, Pulau Orchid, dan Pulau Hijau di Pasifik sebelah pantai Taiwan, Kepulauan Penghu di Selat Taiwan, serta Kinmen dan Kepulauan Matsu sebelah pantai Fujian, Cina daratan. Kelompok pulau Taiwan dan Penghu (tidak termasuk kotamadya pusat Taipei dan Kaohsiung) secara resmi diperintah sebagai Provinsi Taiwan, akan tetapi dalam prakteknya hampir seluruh kekuasaan pemerintahan dilakukan pada tingkat nasional dan lokal (kotamadya/kabupaten).
Taiwan saat ini juga diklaim oleh Republik Rakyat Cina (RRC) walaupun RRC tidak pernah menguasai Taiwan atau satupun wilayah Republik Cina saat ini yang sering dirujuk sebagai "Taiwan". RRC mendasarkan klaimnya dengan berpendapat bahwa RRC merupakan penerus Republik Cina sejak 1949, dan Republik Cina telah memerintah Taiwan selama 4 tahun dari 1945 sampai 1949. Pulau utama Taiwan, juga dikenal sebagai Formosa (dari bahasa Portugis) (yang berarti "(pulau) yang indah"), terletak di Asia Timur sebelah pantai Cina daratan, sebelah barat daya kepulauan utama Jepang tetapi sebelah barat langsung dari ujung Kepulauan Ryukyu Jepang, dan sebelah barat laut-utara Filipina. Pulau ini dihubungkan ke timur oleh Samudera Pasifik, ke selatan oleh Laut Cina Selatan dan Selat Luzon, ke barat oleh Selat Taiwan, dan ke utara oleh Laut Cina Timur. Pulau ini mempunyai panjang 394 kilometer dan lebar 144 kilometer.
Beberapa tahun belakangan ini, Taiwan mulai terbuka dengan sistem pendidikannya dengan membuka program-program internasional yang sebagian atau seluruhnya menggunakan English sebagai bahasa pengantarnya. Dari tahun ke tahun semakin banyak mahasiswa internasional yang kuliah di sini. Hampir semua jurusan dibuka untuk mahasiswa asing, meskipun ada beberapa matakuliah hanya ditawarkan dalam bahawa mandarin. Bahasa Mandarin dalam hal ini bisa dianggap sebagai momok maupun sebagai opportuniti sebagai competitive advantage. Bahasa Mandarin banyak prediksi diungkapkan kl bahasa ini akan menjadi bahasa kedua seiring berkembangnya bisnis China menjadi raksasa ekonomi dunia, bahkan sekarang udah mengeser Inggris.
Wajib Militer di Taiwan
Pada akhir study tahun 2003 saya berkesempatan untuk mengunjungi beberapa lokasi menarik di Taiwan diantaranya adalah cagar alam Kenting yang terletak diujung pulau. Sewaktu kami menjelajah kawasan hutan pantai, disana tak sengaja saya kepergok dengan sekelompok tentara muda yang sedang latihan menembak dan mengendarai tank. Dari wajah wajahnya saya lihat tak ada kesan seram sama sekali bahkan mereka terkesan ‘main main’ dalam latihan tsb. Sangat berbeda sekali dengan ‘image’ militer di berbagai Negara sangat sangar dan kejam. Memang untuk negeri yang merasa sedang dalam kegentingan dan terancam seperti Taiwan , semua warga Negara yang telah dewasa wajib mengikuti wajib militer untuk mendapatkan pembekalan ketrampilan bela Negara. Dan itu tak harus ditampilkan dengan citra yang seram da kejam, walau mereka tetap terlatih mengoperasikan senjata yang mematikan.
Saat ini Republik Cina mempunyai angkatan bersenjata yang besar dengan tujuan menentang Republik Rakyat Cina di daratan yang masih memerangi Taiwan. Dari pengunduran Taiwan dari tanah daratan pada tahun 1949 hingga tahun 1970-an, misi utama militer adalah 'mengambil kembali tanah daratan'. Dengan keadaannya sekarang, militer Taiwan lebih berfokus pada angakatn udara , ankatan laut daripada angkatan darat
Taiwan (Republik of China), memiliki kekuatan militer yang mencakup Angkatan Darat, Angkatan Laut dan Angkatan Udara. Sejak kepindahan pemerintahan nasionalis ke Taiwan setelah kekalahannya dengan pihak komunis (1949), Taiwan memperoleh bantuan persenjataan dari Amerika Serikat dan Eropa Barat dalam usaha membendung kekuatan komunis ke selatan. Taiwan memanfaatkan hubungan tersebut dengan memperoleh bantuan teknik dari sistem persenjataan barat sehingga Taiwan memiliki industri militer sendiri yang juga diekspor (meskipun terbatas pada persenjataan ringan seperti amunisi dan senapan otomatis).
Pada tahun 1970-1980-an ketika hubungan diplomatik antara Taiwan dengan Amerika Serikat putus, Taiwan masih tetap mendapatkan persenjataan dan hubungan militer dengan AS meskipun ditentang oleh RRC. Namun Taiwan khawatir hubungan tersebut sewaktu waktu terganggu, sehingga untuk menghadapi RRC, Taiwan berusaha untuk memenuhi kebutuhan militernya sendiri didukung dengan kemampuan industri teknologi tinggi yang dimilikinya. Sebagai contoh Angkatan Udara Taiwan mampu memenuhi kebutuhannya dengan memproduksi pesawat tempur buatan sendiri (sekalipun dengan bantuan teknis kontraktor militer Amerika Serikat seperti General Dynamics) IDF (Indigenous Defense Fighter) Ching Kuo (diambil dari nama presiden Taiwan Chiang Ching Kuo) selain pasokan F-16 dari Amerika Serikat dan Mirage-2000D dari Perancis. Kementerian Pertahanan juga telah merencanakan memesan kapal selam diesel dan baterai anti-peluru dari Amerika Serikat untuk pertahanan, tetapi telah dihalangi pihak Pan-Biru (oposisi Yuan Perwakilan) pada 2005. Terdapat banyak peralatan perang yang telah dibeli oleh Taiwan dari Amerika Serikat di bawah UU Hubungan Taiwan. Pada masa lalu, Taiwan juga telah membeli peralatan pertahanan dari negara Perancis dan Belanda.
Kekuatan militer Taiwan difokuskan untuk bertahan dari serangan terutama RRC, yang saat ini hanya melakukan provokasi-provokasi militer dengan mengadakan latihan gabungan di Selat Taiwan. Meskipun sebenarnya di atas kertas jumlahnya tidak sebanding (Taiwan memiliki 600.000 personel aktif Angkatan Darat sedangkan RRC memiliki 3 juta tentara Angkatan Darat, 4000 pesawat tempur untuk Angkatan Udara RRT dengan 1000 pesawat tempur Taiwan). Bahkan pengamat-pengamat militer RRC selalu sesumbar dengan mengatakan mampu menduduki Taiwan dalam hitungan jam. (Meski kenyataan politik, militer di lapangan tidak selalu benar belum lagi dampak internasional khususnya Amerika Serikat). Pada masa lalu Taiwan diduga memiliki senjata nuklir untuk mengimbangi senjata nuklir RRC karena potensi dan kemampuannya untuk itu.
Republik Taiwan telah melaksanakan program mengurangi anggotanya dari sekitar 430.000 orang pada tahun 1990-an mengikuti kemajuan alat perangnya. Umur minimal untuk menjadi prajurit militer republik ini adalah 18 tahun. Tetapi sebagian program pengurangan anggota ini menunjukkan bahwa sebagian anggota dipindahkan ke badan pemerintahan lain atau industri yang relevan dengan militer. Salah satu rencana sekarang adalah memodernkan militer menjadi tentara profesional pada dekade yang akan datang dan membatasi Wajib Militer menjadi 3 bulan.
Taiwan juga memiliki hubungan militer dengan Singapura. Singapura menempatkan personel militernya di tempat itu karena keterbatasan wilayah yang dimilikinya terutama untuk kepentingan latihan militer (kemungkin di Taiwan Selatan) . Bahkan pemerintah Singapura pada masa PM Goh Chok Tong pernah meminta RRC agar memberitahukan Singapura terlebih dahulu apabila RRC menyerang Taiwan.
Minggu, 31 Oktober 2010
Merapi,si Cantik Nan Berbahaya


Haru biru bencana meletusnya gunung Merapi setidaknya mengingatkanku pada masa masa kecil dan masa kuliah di Yogyakarta. Bagaimana tidak, separuh jiwaku sebenarnya berasal dari kaki gunung cantik nan ganas ini. Alamarhum ayahku dilahirkan di kawasan Bangunkerto Turi Sleman Yogyakarta, salah satu wilayah yang terdekat dengan gunung itu. Sampai kinipun masih banyak kerabatku yang tinggal disana. Almarhum kakekku juga pernah bercerita dipaksa mengikuti ‘romusha’ oleh pasukan Jepang menggali gua untuk pertahanan pasukan di punggung gunung Merapi. Antara tahun 1986 s.d 1992 kebetulan juga aku sempat kuliah di kampus biru UGM Yogyakarta mengambil minat Biologi Lingkungan. Jadi menjelajah hutan atau mendaki gunung Merapi adalah menu rutinku hampir setiap semester. Mulai dari KKL-Kuliah Kerja Lapangan mahasiswa sampai menjadi asisten untuk matakuliah Taksonomi.
Gunung Merapi merupakan cagar alam dan obyek pendakian yang populer. karena gunung ini merupakan gunung yang sangat mempesona. Jalur pendakian yang paling umum dan dekat adalah melalui sisi utara dari Sèlo, satu kecamatan di Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah, yang terletak di antara Gunung Merapi dan Gunung Merbabu. Pendakian melalui Selo memakan waktu rata-rata 5 jam hingga ke puncak.
Jalur populer lain adalah melalui Kaliurang, Kecamatan Pakem, Kabupaten Sleman, Yogyakarta di sisi selatan. Jalur ini lebih terjal dan memakan waktu sekitar 6-7 jam hingga ke puncak. Jalur alternatif yang lain adalah melalui sisi barat laut, dimulai dari Sawangan, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah dan melalui sisi tenggara, dari arah Deles, Kecamatan Kemalang, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah.
Dari tiga kali upayaku mendaki Merapi hanya sekali aku berhasil mencapai puncak Garuda pada 1991, itupun tanpa berbekal apapun, hanya dompet dan baju hangat (jumper) yang dilengkapi dengan (panchou) penutup kepala. Dipuncak Merapi banyak kawan-kawan pendaki yang baik hati berbagi air minum dan makanan denganku.
Kami menaiki Merapi dari arah Selo setelah sebelumnya tahun 1988 dan 1989 aku tak berhasil mencapai puncak merapi dari arah Kaliurang dan Kinahrejo. Berhasil mencapai puncak Garuda Merapi merupakan kebahagian tersendiri bagi banyak orang. Mereka percaya bahwa keberhasilan mencapai puncak Merapi merupakan indikasi keberhasilan hidup dimasa datang.Wallahu’ Alam.
Sewaktu di puncak Merapi dulu aku merasakan bahwa dinding-dinding gunung yang kami panjat terasa masih lembek dan bau belerangnya sangat kuat. Alhamdulillah kami semua akhirnya bisa kembali dengan selamat. Yang jelas dengan modal keberanianku mendaki Merapi membuatku berani mendaki tempat tempat tinggi atau terpencil di wilayah lain baik di Asia ataupun Eropa utara.
Selasa, 19 Oktober 2010
Doa Di hari Ultahku

Ya Tuhan kami
janganlah Engkau condongkan hati kami
pada kesesatan,
setelah Engkau beri kami petunjuk.
Dan karuniakan kepada kami rahmad dari sisi-Mu.
Sesungguhnya Engkau Maha Pemberi.
Ya Tuhan kami
Engkau-lah yang mengumpulkan manusia
pada hari yang tidak ada keraguan padanya (Akhirat),
Sungguh Engkau adalah Dzat Yang tidak pernah mengingkari janji.
Ya Tuhan kami,
kami benar benar beriman kepada Mu,
maka ampunilah dosa-dosa kami
dan lindungilah kami dari adzab neraka.
Juga kepada orang yang sabar,
orang yang benar, orang yang taat,
orang menginfaqkan hartanya
serta orang yang memohon
ampunan sebelum fajar.
Ya Tuhan kami
tidaklah Engkau ciptakan alam semesta ini dengan sia sia
Maha suci Engkau
lindungilah kami dari azab neraka.
Ya Tuhan kami,
sesungguhnya orang yang Engkau masukkan dalam neraka
maka sungguh Engkau telah menghinakannya
dan tak ada satu penolongpun bagi orang dzalim
Ya Tuhan kami,
Sesungguhnya kami mendengar
orang yang menyeru kepada iman
‘Berimanlah kamu pada Tuhan-mu’,
maka kami-pun beriman.
Ya Tuhan kami,
ampunilah dosa dosa kami
dan hapuskanlah segala kesalahan kami
dan matikannlah kami
bersama orang orang yang berbhakti.
Ya Tuhan kami,
Berilah kami apa yang Engkau janjikan melalui rasul rasul-Mu
Sungguh Engkau adalah Dzat yang tak pernah mengingkari janji
(dari QS Ali Imran).
Jumat, 08 Oktober 2010
Kubah Kiamat Svalbard



Masa depan umat manusia modern dihantui realitas adanya perubahan iklim yang anomalis, pergantian musim menjadi kacau, curah hujan berkurang disatu tempat, dan banjir disertai badai dahsyat di wilayah lain. Gejala umum yang dirasakan hampir disemua penjuru dunia adalah suhu lingkungan meningkat. Dampak kenaikan suhu akan meningkatkan tinggi permukaan laut 65 – 95 cm yang menenggelamkan negara-negara kepulaun Pacific dan sebagaian besar pulau-pulau di Indonesia dan Polynesia. Dampak terparah dari perubahan iklim dunia akan dirasakan negera-negara berkembang. Ekosistem subur akan musnah berganti dengan kekeringan dan kekurangan air bersih, produksi pertanian akan anjlok. Sektor pertanian sebagai penyedia pangan bagi umat manusia akan terkena dampak parah dari perubahan iklim, potensi kegagalan panen khususnya padi akan meningkat. Petani akan kesulitan untuk menentukan waktu memulai bercocok tanam karena ketidakpastian musim. Ummat manusia melalui berbagai upaya berusaha mengatasi kesulitan dan tantangan masa-depannya seperti upaya penyediaan pangan, sandang dan energi melalui bioteknologi dan rekayasa genetika pertanian dan peternakan.
Dengan alasan keprihatinan menghadapi masadepan ummat manusia diatas, sejak tahun 2006 Pemerintah Norwegia bekerjasama dengan Monsanto Corp., yayasan Bill and Melinda Gates dan Yayasan Rockfeller, Yayasan Syngenta, mendirikan sebuah proyek ’ganjil’ di salah satu tempat paling terpencil di dunia, pulau Svalbard-Norway. Svalbard adalah sebuah tempat dingin, tandus berbatu es. Pulau yang “diabaikan Tuhan” demikian para pengelana yang sampai disana menyebutnya. Pulau ini dihuni oleh kerajaan burung dan beruang, namun dengan semakin ’ramah’-nya’ lingkungan kutub bagi pendatang mulailah didirikan berbagai fasilitas disana seperti airport, hotel dll. Kongsi berbagai stakeholder itu mendirikan ‘bank benih kiamat‘- Svalbard Global Seed Vault di Spitsbergen salah satu pulau di kepulauan Svalbard.
Bank benih Svalbard dibangun di dalam sebuah gunung di Spitsbergen dekat desa kecil Longyearbyen. Bank benih tersebut saat ini sudah melakukan transaksi bisnis perbenihan. Konstruksi SeedBank Svalbard memiliki pintu tahan guncangan, apabila bumi diterjang meteor atau ledakan nuklir ganda. Pintu pintunya juga dilengkapi dengan sensor gerakan, dua pengunci udara (airlocks), dan dinding beton dari baja berketebalan satu meter. Gudang benih di dalamnya mampu memuat sampai 3 juta jenis benih berbeda dari seluruh dunia. Sumber pemerintah Norwegia mengatakan bahwa Svalbard Seedvault ini akan memelihara keanekaragaman benih di bumi dapat untuk masa depan. Benih-benih dibungkus secara khusus untuk mengeluarkan embun atau uap lembab. Di bank ini tidak akan ada staff yang bekerja seharian, tetapi relatif susahnya akses kesana akan memudahkan mengamati kemungkinan apa saja aktifitas manusia yang coba coba mendekatinya disamping sistem surveillance Norwegia dan NATO yang akan mengawasinya secara otomatis.
Spitsbergen dianggap ideal karena kurangnya aktivitas gempa tektonik dan permafrost, yang akan membantu pelestarian benih secara alami. Bank Benih ini terhampar pada ketinggian 130 meter (430 kaki) di atas permukaan laut dan dipastikan situs ini tetap kering meskipun puncak puncak gunung es di kutub utara mencair semua. Fasilitas kubah kiamat Svalbard ini menyediakan energy listrik untuk unit pendingin canggih sesuai standar internasional yang direkomendasikan -18 ° C ( 0 ° F). Bahkan jika peralatan tersebut gagal misalnya karena global warming, panas bom nuklir thermal dan bencana dasyat lain selama beberapa minggu akan berlalu sebelum suhu meningkat ke -3 ° C (27 ° F) karena batuan dasar pasir sekitarnya memanas.
Global Crop Diversity Trust (GCDT) adalah perusahan peengelola kubah benih tsb.
Sementara untuk pengiriman sampel benih dikelola bersama dengan Nordik Trust for Gen Center-Pusat Sumber Daya Genetik akan menyediakan sebagian besar biaya operasional tahunan untuk fasilitas tersebut. Pemerintah Norwegia akan mendukung pemeliharaan strukturnyai. Dengan dukungan dari Bill & Melinda Gates Foundation dan donor lainnya, adalah membantu genebanks GCDT dipilih di negara-negara berkembang serta pusat-pusat penelitian internasional pertanian dalam kemasan dan pengiriman bibit ke kubah benih. Dewan Penasehat Internasional sedang didirikan untuk memberikan bimbingan dan nasihat. Ini akan mencakup wakil-wakil dari FAO, CGIAR itu, Perjanjian Internasional mengenai Sumber Daya Genetik Tanaman dan lembaga lainnya.
Baru baru ini diselenggarakan Perayaan Ulang tahun Seedbank Svalbard melalui suatu Konferensi para ahli genetika perbenihan internasional pada Juni 2010 di Longyearbyean, Svalbard-Norwegia. Sayangnya aku tak ada kesempatan menghadiri acara tsb. Negara-negara Asia diwakili oleh 6 orang ahli dari Korea (Korea Polar Institute) dan Jepang (University Tsukuba). Suatu hal hal yang patut digaris bawahi disini adalah bahwa umumnyaa manusai mempercayai adanya hari kiamat atau 'armageddon' (istilah mereka). Karenanya mereka mempersiapkan diri dengan serius, walaupun menurut keyakinan kita bahwa bekal menghadapi kehidupan setelah kiamat (akhirat) bukanlah materi karena segala yang ada didunia ini akan hancur namun amal saleh serta keimanan dan ketaqwaan kita.
Rabu, 01 September 2010
Selasa, 24 Agustus 2010
Algal Bloom & Energy


Hampir setiap musim panas, sebuah karpet raksasa dari ganggang biru terbentuk di laut Baltik, banyak pengunjung pantai kecewa mencari lokasi pas untuk berenang. Cyanobacteria telah memenuhi permukaan laut dengan warna kuning-hijau dan dapat mengakibatkan keracunan jika tertelan. Biasanya apabila terjadi algal bloom ini akan menyebabkan kematian banyak biota laut seperti ikan dan kerang. Namun, mikroorganisme ini dapat menghasilkan rantai hidrokarbon yang mudah terbakar dikenal sebagai alkana dan alkena . Mungkinkah mereka akan cocok untuk memproduksi solar dan bensin suatu hari nanti ?
Beberapa kelompok peneliti telah memelajari cyanobacteria untuk menggunakan mereka sebagai sumber bahan bakar. Organisnme ini mendapatkan nutrisi dari pengolahan limbah, karbon dioksida dan sinar matahari, mereka menggunakan fotosintesis untuk menghasilkan asam lemak, yang pada gilirannya menghasilkan alkana dan alkena. Biofuels kemudian dapat diperoleh dari hidrokarbon. 'Ganggang Biru’’, sebutan umum untuk cyanobacteria, sebenarnya menyesatkan, karena mereka bukan anggota keluarga ganggang, tetapi mereka adalah bakteri.
Ide memproduksi bahan bakar dari cyanobacteria memang masih pada tahap sangat awal, serta bukan pada proporsi yang ekonomis saat ini. Sebuah langkah besar sedang dibuat dalam penelitian cyanobacteria, seperti yang digambarkan oleh hasil baru-baru ini di LS9 perusahaan AS, yang berbasis di San Francisco. Para peneliti telah berhasil mengidentifikasi gen yang tepat yang bertanggung jawab untuk metabolisme alkana dalam berbagai jenis cyanobacteria.
Mereka telah berhasil memasukkan bahan genetik tsb kedalam bakteri E. coli (Escherichia coli), yang berfungsi sebagai pabrik mikrobiologi untuk menghasilkan hidrokarbon yang mudah terbakar.
Budidaya E coli laboratorium ini belum berhasil menghasilkan jumlah BBM yang signifikan. Namun demikian, decoding dan transfer gen alkana bisa memberikan dasar bagi masa depan untuk produksi bahan bakar dalam menara bioreaktor. Limbah dari pabrik pengolahan limbah dapat digunakan sebagai nutrisi untuk budidaya bakteri ini. Sekarang, peneliti tengah berupaya untuk mempercepat metabolisme proses bakteri bahan bakar ini, dan meningkatkan hasil berguna rantai hidrokarbon.
Ganggang menawarkan keuntungan potensial prospektif sebagai sumber bahan bakar.
"Pendekatan-pendekatan untuk memperoleh biofuel sangat menarik, namun masih jauh dari aplikasi teknologi," kata Marina Braun-Unkhoff dari Institut Teknologi DLR Pembakaran di Stuttgart. "Namun, kita tidak boleh meremehkan potensi biomassa dari air laut ini menjadi sumber bahan bakar di masa depan.
Tentu saja, aplikasinya harus memenuhi kriteria keberlanjutan, misalnya, konsumsi dan penggunaan air tanah," kata Braun-Unkhoff. Dengan pemikiran, DLR berencana penelitian yang lebih rinci tentang ruang lingkup untuk mendapatkan biofuel dari alga. Seperti bentuk-bentuk awal lain biofuel, para ahli Stuttgart berbasis pembakaran kemudian akan mampu mengkarakterisasi bahan bakar berbasis ganggang berbasis lebih akurat, dan menguji kesesuaian mereka untuk mesin dan pembangkit listrik.(Sumber:Badan Antariksa Jerman-DLR)
Langganan:
Postingan (Atom)