Senin, 24 Mei 2010

Sydpissen dan Lafadz Allah



Tak seperti kunjunganku pertama kali di kota Tromso yaitu menginap di hotel 'berkelas internasional' depan pelabuhan Tromso. Kunjungan kedua kali ini aku menginap di losmen yang cukup murah yaitu di Sydpissen hotel, dengan tarif 130 USD per-malam, untuk type kamar triple bed. Sydpissen berarti ’ujung selatan’, karena letaknya memang persis diujung selatan pulau Tromso. Sydpissen adalah losmen atau hotel kecil yang sebelumnya adalah barak militer pada masa perang dingin. Kerna jarang dipergunakan lagi untuk tamu tamu militer sesama negara NATO maka barak itupun dipermak menjadi hotel sekelas hotel melati. Fasilitas kamar dihotel itupun sangat sederhana, namun cukup antik dan unik karena perabotannya terbuat dari kayu atau besi.

Hotel ini terletak persis diujung selatan pulau Tromso yang berhadapan langsung dengan pantai yang landai. Angin diluar hotel sangat dingin bagi kami ’pendatang dari tropis ini’ karena bulan bulan ini adalah musim peralihan ke musim dingin sehingga cuaca selalu gelap oleh mendung dan hujan. Namun kami memaksakan diri melihat lihat suasana pantai yang terletak persis dibelakang hotel Sydpissen ini.

Tak jauh diseberang pulau di belakang teras hotel Sydpissen, tempat kami tinggal ada Fjord berupa gunung salju yang cukup curam. Pada bulan Oktober ini, adalah musim peralihan dari musim summer ke musim winter. Cuaca cepat berubah, langit selalu gelap oleh mendung, banyak hujan dan salju mulai turun di beberapa lokasi. Berbeda dengan kunjungan pertamaku di kota Tromso ini pada musim summer suasana tampak cerah bermandikan cahaya matahari.
-------------
Diseberang laut ada sebuah gunung 'Lyngen Alps' yang tak terlalu tinggi.
Gunung itu mulai tertutup lapisan salju, walau sebagian masih terlihat batu batunya yang berwarna gelap. Variasi warna batu dan salju yang kontrast membentuk mozaik lukisan- lukisan alam yang cantik dan indah.

Setelah kuamati dengan seksama...Subhanallah .tampak bahwa ornament lukisan salju di gunung itu membentuk kaligrafi yang sangat kukenal...tertulis di punggung gunung ’Lyngen Alps’ itu lafadz...’Allah’...masyaAlah..Allhu akbar..hati dan bibirku bergetar...dan aku bertakbir dalam hati. Mungkin hari hari itu aku agak sensisitif karena baru beberapa melewati ulang tahunku ke 40 dirantau bertepatan dengan aku menginap di Bandara Frankfurt.
Bagaimanapun juga, fenomena alam itu membuatku merasa 'takjub'. Secara halus aku merasa disapa Allah SWT. Aku merasa fenomena alam itu suatu sapaan dan ’peringatan’ khususnya padaku bahwa usiaku tidak muda lagi, harus lebih rajin beribadah dan beramal.

Suhu sekelililngku berkisar 5 derajad celsius namun angin yang berhembus dari awan awan rendah kutub itu membuat suhu menjadi lebih dingin.
Wuuuuuzzzz angin dingin...dari awan-awan kutub menerpa muka dan tanganku, langsung berubah menjadi lapisan es tipis yang segera mengering...! Allahu..akbar..Subhannallah. Aku berjanji dalam hatiku bila diberi kesempatan aku akan mengunjungi ...rumah-Allah di Makkah !

Jumat, 21 Mei 2010

Birthday in Frankfurt



Perjalanan menuju Frankfurt dengan Airbus A330 Emirates cukup panjang dan melelahkan sekitar 8 jam perjalanan. Kawan seperjalanku adalah Sully, seorang gadis Amerika keturunan India kelas tiga SMA International School di New Delhi. Sully pergi dengan bersepuluh orang yang akan berstudy tour ke beberapa kota di Germany. Sambil menonton film, aku mengobrol kesana kemari dengannya. Kuceritakan padanya bahwa aku pernah kuliah di German pada tahun 1999 walau Cuma tahan beberapa bulan dan tak sampai selesei.

Sampai di Frankfurt waktu sudah menunjukkan pukul 15.00 waktu setempat padahal sedianya jadwal terakhir pesawat ke Oslo adalah jam 22.00 waktu Germany. Dengan tergesa kami segera mencari ’apron’ gate pemberangkatan yang agak jauh dengan menaiki fasilitas KRL bandara.
Setelah mondar mandir kesana kemari di ’apron’ departure akhirnya kami mendapati gate maskapai SAS menuju OSLO sebagai satu satunya penerbangan menuju Eropa utara sebelah barat.
Sebelum masuk saya sempatkan mencari Musholla, namun tak ketemu. Akhirnya sebuah ruangan kecil tempat ibadah bagi orang Yahudi dan Nasrani (Sinagog). Di ruang itu aku sholat jamak dengan beralaskan koran. Sisa waktu transit hanya kami pakai melihat lihat aneka barang yang ditampilkan di ’duty free’ shop, namun kami tak membeli sesuatupun karena uang saku kami benar benar terbatas.
Dua jam sebelum keberangkatan kami segera boarding. Setelah melewati pemeriksaan pabean kami segera masuk ke ruang tunggu SAS. Setelah menunggu beberapa jam sampai jam 21.00 ternyata pesawat kami belum juga tiba. Kami dan para penumpang lain mulai gelisah.
Ada satu lagi ketakutan berkecamuk dalam hatiku yaitu apabila kami harus mengeluarkan ’biaya ekstra’ untuk tiket selanjutnya karena dari Oslo kami masih harus terbang ke Tromso di utara sekitar 2 jam lagi, sementara jam 21.30 kami belum berangkat dari Frankfurt,

Rasa takut, capek, lapar dan bingung bercampur aduk, membuatku gelisah temanku (Mayor Bima) mondar mandir keluar masuk bandara Frankfurt. Biasa. Kalau sudah nervous dia tak bisa tahan lagi, harus segera merokok. Padahal jarak ’smoking area’ ke ruang tunggu SAS cukup jauh.
Menunggu beberapa jam di bandara Frankfurt membuatku tak bisa ’duduk’ diam. Iseng-iseng aku inisiatif mencari counter Emirates ’STAR Alliance’- dan bertanya ke counter Luftansa di bandara Frankfurt. Dengan berbicara campuran Inggris dan German saya jelaskan perihal tiket kami dan kekawatiran kami apabila harus keluar biaya ekstra.

’Eintschuldigen Sie bitte-Permisi’,
’kami penumpang dari Jakarta menuju Tromso’.
’Apakah masih ada penerbangan buat kami malam ini?
Waitress di counter itu tersenyum sambil menjawab:
’Ah...kami sangat menyesal,
penerbangan ke Oslo terlambat hampir 4 jam,
sehingga dibatalkan! Katanya menjelaskan...!
tak seperti layanan penerbangan lokal yang sering kualami.
Perilaku waitrees petugas counter tsb sangat ramah dan simpatik.
’Karena pembatalan dilakukan oleh STAR alliance..
Maka kami akan meenggantinya dengan tiket baru
untuk pemberangkatan besok pagi.
’kemudian malam ini anda akan diinapkan di Sheraton Frankfurt
atas tanggungan STAR alliance’...
’danke..’......’danke schon’
Wah aku gembira sekali mendengarnya

Kami mendapat ’ganti rugi’ menginap di Sheraton Airport Frankfurt atas tanggungan SAS senilai 270 USD atau sekitar 3 juta rupiah untuk kurs rupiah waktu itu, masing masing nama mendapat jatah satu kamar.
Selanjutnya waitrees itu juga menyerahkan tiket baru untuk penerbangan besok jam 07.00 kami mendapatkan tiket baru untuk penerbangan kami selanjutnya dengan pesawat maskapai Luftansa.
Dia segera mengontak bagian luggage untuk segera mengeluarkan barang-barang kami dari pesawat.
Alhamdulillah rupanya ini merupakan berkah hadiah ultahku karena pada hari itu pas hari ulang tahunku ke 40, dan hanya aku sendiri yang tahu sementara 2 temanku tak ada yang tahu.
Ahh...kami bisa bernapas lega, dijamu menginap gratis di hotel bintang 5 di Sheraton Frankfurt.
Dalam hati saya hanya menebak nebak, apakah karena kami Undangan dari Kementrian Pertahanan Norwegia sehingga kami mendapatkan layanan bagus atau ini memang service standard dari maskapai penerbangan di Eropa. Berbagai pertanyaan berkecamuk dalam hati saya tak diketahui oleh dua orang rekan saya.
’Wah sering sering aja nih pesawatnya telat kalau gini,
bisa dapat banyak fasilitas gratis ..! Celetuk kawanku Bima seorang Mayor TNI AU.

---------
Esok paginya kami sarapan gratis di hotel Sheraton Frankfurt, kemudian segera check out dari hotel tanpa ditanya atau diperiksa oleh petugas hotel.
Kami bersiap berangkat dengan maskapai Luftansa. Tak seperti biasanya maskapai Eropa pramugarinya tua tua, pada saat itu kami di layani oleh pramugari yang muda muda dan cantik-cantik tentunya.
Ada seorang pramugari cantik yang sangat ramah, menawari kami ini dan itu makanan dan minuman. Biasa menu favorit saya selalu ’chicken’ dan orange juice.
Jane, demikian ’name-tag’ di seragam pramugari itu, kalau ngomong selalu mendekat, sangat dekat kewajahku...wah godaan nih kataku dalam hati. Pramugari ini kelihatannya blasteran Eropa Asia karena rambutnya hitam, hanya kulitnya saja yang putih sementara pramugari lainnya berambut blonde.
Dua kawanku juga merasa sama dan mereka Cuma tertawa tawa saja. Ga berani ngajak ngobrol lebih jauh dengan si Jane pramugari Luftansa itu.

Cuaca di atas Eropa utara dari German ke Norwegia sangat cerah pagi itu. Kawanku Bima, seorang Mayor TNI AU selalu setia dengan kameranya yang mengambil obyek bagus di sekitar kabin dan jendela pesawat. Sampai di atas Oslo cuaca sangat berkabut, bahkan bandaranya tak terlihat sama sekali, namun pesawat kami berhasil mendarat dengan mulus.
Di bandara Oslo kami segera bergegas mencari ’apron’ penerbangan domestik menuju Tromso.
Sesampai di Tromso, kondisi cuaca sangat berbeda dengan kunjunganku pertama kali beberapa bulan lalu, disana sini salju mulai turun dan suhu di kota ini sudah mencapai dibawah nol derajad kalau malam.
Kami dijemput oleh staff TSS yang sudah kukenal sebelumnya Einar..gronas, karena si Tone schonberg kawanku pindah kerja dan pindah kota Bergen di Norway bagian selatan.

Dubai Airport-UAE



Dalam prosesi 'imigrasi dan pabean' untuk masuk ke penerbangan berikutnya menuju Frankfurt kami mengalami sedikit kelambatan karena pemeriksaan ekstra ketat yang sepertinya dicari cari oleh petugas security Bandara Dubai. Semua tas bawaanku diperiksa satu persatu dengan seksama.
Kelihatan sekali bahwa mereka sangat –under estmate- pada penumpang dari Indonesia yang dianggapnya hanya sekelas TKI atau pekerja informal lain di Timur Tengah.
Dari wajah dan namanya, petugas itu kelihatannya juga seorang imigran dari sebuah negara di wilayah Asia Selatan.
’Kamu ke Frankfurt mau ngapain? Mau cari kerja ya?
’Tunjukkan passport dan dokumen lain..?’, tanya petugas itu setengah membentak!
’Tidak, saya bertiga hanya berkunjung saja ke Norwegia,
ini surat undangan kami’, Saya sudah sering bolak balik ke Eropa
Saya dulunya bersekolah disana,
Beberapa bulan lalu saya juga baru pulang dari sana!’ jelasku.
Alis petugas itu mengernyit tanda kurang percaya!
Petugas security itu menunjukkan sikap wibawa yang dibuat buat dan menunjukkan sikap sombong.! Saya tunjukkan deretan catatan visa paspor lamaku padanya.

Dengan agak berat hati, petugas itu akhirnya meloloskan saya, dua kawan saya berikutnya juga lolos dengan tanpa banyak ditanya lagi !

Undangan DepHan Norway




Sore itu kami sekeluarga sedang dalam perjalanan mudik ke Jawa bersama ribuan pemudik lebaran 2007. Lalu lintas mudik sangat-sangat padat dan sering terjebak 'kemacetan total'. Setelah lepas dari ’macet total’ di Cikampek selama sembilan jam. Route perjalanan mudik dibuang melalui arah Bandung. Siang itu iring-iringan pemudik mulai kembali terjebak kemacetan di daerah Nagrek-Bandung.

Tiba tiba telponku berdering, di layar display tampil nomor nomor aneh. Sekilas terdengar seorang berbicara dalam bahasa Indonesia. Ternyata, seorang pejabat perwakilan KBRI di Oslo Norwegia, pak Heru Subolo namanya. Setelah berbasa basi sedikit, beliau memberitahukan bahwa ada Faksimile Undangan dari Kementrian Pertahanan Norwegia untuk mengunjungi fasilitas Pemantauan Keamanan Laut di kota Bodo Norwegia Utara.

Kami diminta segera mempersiapkan diri untuk berangkat segera setelah lebaran. Pihak KBRI Oslo berpesan bahwa mereka tidak bisa menemani selama di Norwegia. Mereka hanya berpesan bahwa fasilitas yang akan dikunjungi adalah fasilitas militer NATO dengan penjagaan ekstra ketat sehingga kami harus bisa menjaga diri.
Sebagai syarat Kementrian Pertahanan Norwegia cuma meminta nama dan tanggal lahir kami, tak ada permohonan lain seperti nomor identitas paspor dll.
Dalam sisa perjalanan pulang mudik itu saya menyetir dengan dipenuhi berbagai pertanyaan berkecamuk dalam kepala saya. Apakah mungkin saya bisa memenuhi undangan tersebut. Mendengar nama lokasinya yang asing itupun membuat saya ragu.
Kota ’Bodo’, seperti apa wujud kotanya, dimana persis lokasinya dll, terus terang itu baru pertama kali saya mendengar ada kota bernama se’aneh’ itu. Bagaimana cara kesana, apalagi kami pergi sendiri tanpa ada yang menemani, karena dari pihak KBRI sudah menyatakan tak akan ikut menemani.
-------
Lebaran hari ketiga saya dan keluarga segera balik ke Jakarta. Mumpung jalanan masih belum ramai pikirku. Sesampai di Jakarta saya segera mengurus keberangkatan ke Norwegia. Tiket, asuransi perjalanan, sedikit uang saku dan surat Jalan sudah ditangan namun saya belum memiliki visa. Sehari sebelum tanggal keberangkatan, visa kunjungan ke Schengen countries belum keluar. Padahal tiket kelas ekonomi pesawat Emirates sudah di tangan memaksa kami harus berangkat malam hari ini juga.
Pagi pagi saya bergegas mendatangi kedubes Norwegia di kawasan Mega Kuningan. Setelah dimulai dengan perdebatan yang alot, saya ngotot pada petugas visa untuk diijinkan menemui sekretaris dubes untuk meminta diberi visa kunjungan ke Norwegia. Setelah saya jelaskan dengan panjang lebar, akhirnya pihak kedubes memberi kami visa kunjungan selama 30 hari.
Malam harinya kami langsung berangkat menuju Norwegia dengan team terdiri dari 3 orang; saya sendiri, seorang Mayor TNI AU-'Abdullah' Bima Arya Sena dan Andri pancoro-Staff IT dari Lemsaneg-Lembaga Sandi Negara. Kami langsung menuju bandara Soekarna Hatta dari rumah masing masing, dengan visa dan tiket semua teman-teman ada di tangan saya. Dalam hati saya masih ada kekhawiran jangan jangan ada salah satu anggota team yang terlambat datang ke bandara, dan kekhawatiran itu hampir terbukti karena sang mayor hampir saja terlambat, dia terjebak kemacetan disekitar bandara Soekarno Hatta,
Tepat jam 23.05 WIB pesawat Boeing 777 Emirates membawa kami take off meninggalkan Jakarta menuju Dubai. Dalam kabin pesawat terlihat hampir dipenuhi para pekerja Indonesia di Timur Tengah. Di dalam kabin pesawat mataku tak bisa ditidurkan, sambil sesekali mengobrol dengan kawan seperjalanan disebelahku aku masih sempat menonton 2 film dalam perjalanan ini yaitu ’Mr.Bean Holiday’ dan ’In the front of Enemy lines 2’. Sekitar jam 5 pagi kami mendarat di Dubai dan akan segera berangkat lagi ke Frankfurt sekitar jam 11.00 waktu Dubai.

TROLL-SAT






Troll-Sat, adalah stasiun bumi milik KSPT-Kongsberg Spacetec Norway yang terletak di benua Antartica, disamping stasiun di McMurdo. Stasiun bumi ini terletak di puncak bukit di kawasan yang dinamai Queen Maud Land sejauh 250 km ke pedalaman benua es Antartica yang memiliki cuaca lebih stabil dibanding cuaca di pantai benua Antartica. Groundstation ini merupakan pengendali satellite polar LEO-Low Earth Orbit biasanya berupa satellite Earth Observation atau satellite mata-mata untuk kepentingan sains dan militer.

Groundstation ini beroperasi secara otomatis 24 jam / 7 hari dan dikendalikan dari dengan sistem ‘pole to pole’ dari station bumi di Sval-Sat dan TSS-Tromso Satellite Station yang terletak di Norway utara didekat kutub utara.
Groundstation ini memiliki processor MEOS-Multimission Earth Observation System, yang mampu melakukan downlink dan analisa citra satellite secara multimisi untuk satellite citra optis dan satelit radar-ASAR terutama milik ESA-badan antariksa Eropa dan NASA-badan antariksa USA, serta satelit satelit polar orbit lainnya.

Dalam observasi perubahan iklim global station bumi TrollSat dan KSAT-Kongsberg Satellite Service berperan sangat vital dalam memonitor pergerakan bongkahan pecahan benua es Antartica dan memberikan ‘Early warning’ bagi kapal-kapal dan wilayah sekitarnya.
Demikian pula stasiun bumi ini mampu memantau pencemaran minyak (oilspill) diseluruh perairan dunia dan mengakses data satellite cuaca untuk mendukung sistem peringatan dini bencana berupa badai dan cuaca ekstrim lain seperti kebakaran hutan dan bencana alam.

Jermaine Jackson - Next To You + Lyrics

Rabu, 31 Maret 2010

Norway dan Kesatria ke-13

Salah satu inspirasi kenapa aku ‘cinta’ pada negara Norway adalah petualangan Ahmad Ibnu Fadlan (diperankan Antonio Banderas)pada abad ke 9 Masehi dimana masa itu merupakan masa kejayaan kerajaan Bani Umayyah dalam film ‘The 13th Warrior’-Kesatria ke-13’. karya sutradara terkenal John McTiernan. Film ini sebenarnya diangkat dari novel terjemahan tulisan kisah Ibn Fadlan oleh Micahel Chrichton yang berjudul ’Easters of the Dead’. Kisah 'The 13th Warrior' dimulai dengan cerita tentang seorang seorang penyair dan bangsawan kekalifahan Arab di Baghdad pada 922 Masehi, yakni Ahmed Ibn Fadlan Ibn Al Abbas Ibn Rashid Ibn Hamad atau dikenal dengan nama singkatnya Ibn Fadlan menghadapi masalah dengan Kalifah. Rupanya Ibn Fadlan melakukan perbuatan terlarang yakni jatuh cinta kepada Shaharazhad istri Khalifah (diperankan oleh Ghoncheh Tazmini). Untuk menghindari hukuman mati, maka Ibn Fadlan bersedia menuruti saran tutor yang juga pengasuhnya, Melchisidek (Omar Sharrif) agar menjadi duta besar untuk bangsa Viking di wilayah utara.

Sebenarnya pengangkatan duta besar ke wilayah utara sebenarnya merupakan upaya ‘pembuangan’ atau ‘hukuman berat’ sebab di wilayah tersebut banyak bahaya yang sewaktu-waktu dapat mencabut nyawanya. Namun Ibn Fadlan menganggap kesempatan selamat di utara lebih baik daripada tinggal menghadapi hukuman pancung kepala di hadapan khalayak di Baghdad

Di wilayah utara, Ibn Fadlan dalam jurnalnya menceritakan bahwa kawasan ini dihuni oleh monster laut dan ‘iblis’ raksasa hutan jahat. Ibn Fadlan terkejut melihat budaya bangsa Viking yang dianggapnya barbar, kasar dan tidak mengenal kebersihan. Walau awalnya ia ngeri melihat kebiasaan bangsa Viking, namun ia juga kagum dengan sikap setia kawan, ksatria dan kegagahan bangsa Viking yang tidak kenal takut dalam menghadapi musuh. Ia juga dapat bersahabat dengan pejuang Viking, Buliwyf (Vladimir Kulich) dan kelompoknya.
Pada saat itu, kerajaan bangsa Viking sedang mengalami masa sulit karena musuh bangsa tersebut yang sebelumnya hanya dikenal dari cerita yang dituturkan secara turun temurun, ternyata kembali mengancam mereka. Suku misterius menurut legenda sangat kuat dan juga adalah kanibal yang doyan memakan daging orang mati yang dikenal sebagai ‘wendol’. Wendol ini diyakini sebagai sisa-sisa manusia gua Neanderthal yang pernah menguasai bumi pada jaman dahulu.

Menurut legenda itu juga, untuk menghadapi suku yang mengerikan itu, harus ada 13 pejuang untuk menghadapinya. 12 pejuang Viking telah terpilih termasuk Buliwyf, namun pejuang ke-13 harus bukan orang utara. Maka Ibn Fadlan pun harus mengisi posisi pejuang ke-13, padahal ia hanyalah penyair yang tidak biasa memegang senjata atau melihat darah. Akhirnya Ibn Fadlan membuat sendiri pedang ‘Arab’nya dari pedang ‘Viking’ yang sangat besar dan berat. Dengan bantuan ‘Empu Senjata’ bangsa Viking terciptalah pedang kecil melengkung khas pedang ‘Arab’ yang fleksibel dan lincah dimainkan.
Ibn Fadlan harus menjadi pejuang ke-13 yang bahu membahu dengan 12 pejuang lainnya dalam menghadapi suku bangsa ‘Wendol’ yang sangat buas dan mengerikan itu ! Kecerdasan dan luasnya pengetahuan Ibn Fadlan menolongnya untuk beradaptasi di negeri para Viking..bahkan dia banyak memberi inspirasi bagi kejayaan bangsa Viking menghadapi musuhnya. Hal itu menunjukkan bahwa peradaban dan ilmu pngetahuan bangsa Ibn Fadlan (Arab dan Persia) sangat maju dan menjadi mercusuar dunia pada abad ke 9 itu. Dalam film itu dikisahkan juga taktik ‘intai dan serbu’ yang dilakukan bangsa Viking dan Ibn Fadlan kedalam gua gua tempat tinggal kaum ‘Wendol’ yang menyaru menjadi manusia setengah beruang.
Menurut kesaksian serta petualanganku ke Norway, banyak gua-gua itu masih ada dan dibangun dengan pertahanan yang sangat kuat untuk kepentingan militer dengan penjagaan ekstra ketat dan berlapis lapis.

Sabtu, 27 Maret 2010

Sval-Sat






SvalSat adalah rangkaian stasiun bumi terbesar di kepulauan Svalbard. Svalsat merupakan posisi terbaik untuk mentracking dan mengendalikan sekaligus mengakses semua satelit polar yang aktif. Svalsat terdiri atas 8 buah ground station besar yang dioperasikan oleh beberapa lembaga antariksa seperti ESA, NASA dan NorsRomcenter.
Kepulauan Svalbard adalah wilayah paling utara Norwegia yang terletak di Samudra Arktik, sebelah utara Eropa Daratan. Svalbard merupakan sebuah kepulauan dengan Longyearbyen sebagai ibu kota. Pulau yang padat penduduknya ialah Spitsbergen, Bjornoya dan Hopen.
60% wilayah Svalbard diselimuti oleh gletser dan salju; sesuai dengan makna kata 'Svalbard' yang berarti 'pesisir yang dingin'. Arus Atlantik Utara menghangatkan iklim Artik sehingga kapal dapat berlayar hampir sepanjang tahun. Svalbard berada di utara Lingkaran Artik. Di Longyearbyen, matahari tengah malam muncul dari 20 April hingga 23 Agustus, dan langit yang terus-menerus gelap muncul dari 26 Oktober hingga 15 Februari.
Svalbard merupakan habitat bagi angsa kepah dan beragam jenis burung lainnya. Spesies mamalia yang tinggal di Svalbard antara lain: tikus Microtus epiroticus, rubah Artik, rusa kutub Svalbard, dan beruang kutub. Oleh karena banyaknya jumlah beruang kutub di Svalbard, warga setempat melaksanakan tindakan pencegahan ketika berada di luar pemukiman dengan membawa senapan setiap kali keluar rumah. Apabila kita menginap di beberapa hotel di pulau ini kita akan dibekali senapan apabila kita keluar hotel, karena masih banyak binatang liar (beruang dan rubah kutub) yang berkeliaran. Anehnya, pemerintahan setempat melarang siapapun untuk mengganggu atau membahayakan hewan itu. Di kepulaun Svalbard ini tak ada jalan raya yang menghubungkan masing-masing pemukiman; sarana transportasi hanya berupa kapal, pesawat, helikopter, dan mobil salju.
Kegiatan ekonomi Svalbard bertumpu pada industri pertambangan batu bara, perikanan dan pemasang jerat binatang liar. Menjelang abad ke-21, sektor pariwisata, penelitian, pendidikan tingkat lanjut, dan perusahaan canggih KSAT seperti stasiun-relay satelit tumbuh pesat. Sistem Kabel Bawah Laut Svalbard yang mulai beroperasi pada Januari 2004 memiliki jaringan dual optik fiber sejauh 1.440 km dari Svalbard ke Harstad via Andoy untuk hubungan dengan stasiun satelit di Svalbard yang dimiliki oleh NASA dan NOAA.

Jumat, 19 Maret 2010

Tromso Satellite Station-TSS




Dikota Tromso, aku ikut intesif training tentang ’satelit polar-orbit’ di fasilitas Tromso Satellite Station (TSS) yang merupakan stasiun bumi milik bersama antara NorsRomcenter, Kongsberg Aerospace and Defence dan ESA-European Space Agency. TSS merupakan salah satu pengendali rangkaian stasiun bumi yang tersebar dari kutub utara (SvallSat) sampai kutub selatan (TrollSat) untuk mengakses berbagai satelit ‘polar orbit’.
Bersamaku ada juga beberapa peserta dari negara lain; Inggris, Spanyol, Norway dan Perancis. Aku, satu satunya peserta yang berlatar belakang bukan engineering dan remote sensing. Untunglah, aku pernah mengikuti program serupa di Center for Space and Remote Sensing Center di National University Taipei tahun 2003 dan Envisat Symposium-ESA di Swiss tahun 2007. Tak begitu sulit bagiku menyesuaikan diri, dan merekapun dengan senang hati membantu bila aku ada kesulitan. Materi training cukup beragam mulai dari Satellite Space Segment, dan Satellite Ground Segment (software sampai hardware sebuah stasiun bumi).
Tone Schonberg, salah satu narasumber TSS mengatakan setidaknya ada 300 kali periode revisit satelit polar terpantau di TSS. Artinya setiap 4,8 menit ada sebuah satelit melintas di langit Tromso dan dapat diakses dari stasiun bumi Tromso. Beragam satelit polar, mulai dari satelit radar (SAR), satelit cuaca, satelit navigasi sampai satelit image optis resolusi tinggi (VHRS-Very High Resolution Satellite). Keunggulan posisi kota Tromso ini menjadi penopang daya saing tersendiri sehingga Norwegia memiliki keunggulan dalam teknologi persatelitan dan ilmu antariksa. Dewasa ini tak kurang 8000 satelit mengorbit bumi, 5000 buah sudah merupakan sampah antariksa-’space debrish’- dan sekitar 3000 buah satelllite lainnya masih aktif, seperti satelit cuaca, satelit komunikasi, satelit navigasi, satelit observasi, teleskop antariksa dll.
Satelit observasi bumi, dikalangan peneliti dikenal sebagai Earth Observation Satellite (EOS). Dilingkungan militer dan NSA-National Security Agency satelit ini dikenal sebagai ’spy satellite’ -satelit mata-mata, karena bisa digunakan untuk memantau objek di permukaan bumi secara akurat seperti pesawat, instalasi militer, pergerakan mobil/tank dan kapal- kapal di laut/pelabuhan.
Berdasar jenis sensor utamanya satelit observasi dibedakan 2 jenis yi satelit optis (EO-Electro Optis) dan satelit radar-SAR–synthetic aperture radar dan ASAR-advance synthetic aperture radar. Satelit optis bersifat pasif, bisa memantau objek di permukaan bumi karena ada refleksi sinar matahari. Tanpa sinar matahari fungsi satelit optis tak akan berjalan.
Saat ini tersedia beberapa jenis satelit optis komersial dengan resolusi yang cukup tinggi untuk berbagai tujuan, diantaranya: WorldView, QuickBird, OrbView, IKONOS, SPOT, EROS A, EROS B, dan ALOS.

Rabu, 17 Maret 2010

Manusia dan Paus




Melihat paus secara langsung sebenarnya bukan pertama kali bagiku. Pertama kali aku berkenalan denganya di Museum Marine Biologi di kota Checeng Taiwan tahun 2003. Namun melihatnya secara langsung di alam bebas tetap saja membuat kita takjub dan kagum. Dan seakan akan paus paus itupun suka apabila berjumpa dengan manusia, sehingga mereka seakan akan ’bergaya’ di depan manusia. Konon dulunya mamalia itu juga berasal dari darat. Jadi bertemu manusia seakan seperti berjumpa ’adik kecil dari darat’. Mungkin begitulah perasaan paus. Entahlah.Wallahu’alam.

Hubungan manusia dan mamalia raksasa laut –paus- diselimuti mistery dan keghaiban. Walau ada yang menganggapnya sebagai superstition atau memiliki ’kekuatan magis’. Interaksi manusia dan paus sebenarnya telah terjalin sejak ribuan tahun lalu seperti tertulis dalam Al Qur’an atau Kitab Perjanjian Lama yaitu Kisah nabi Yunus (Jonas) yang berdakwah di kota Niniveh (Ninawa di Irak, sekarang ini).

Upaya nabi Yunus setelah sekian tahun hanya dikuti 2 orang, sementara hampir semua warga kota menentang dan menantangnya untuk mendatangkan azab dari Tuhan sebagai bukti bahwa dia adalah utusan Tuhan.

Nabi Yunus AS kemudian keluar ’minggat’ dari kota dengan keadaan kesal dan marah. Kemudian dia pergi kemanapun arah angin, sampai ke tepi pantai kemudian menumpang kapal untuk menyeberang disekitar laut Tengah. Di tengah laut datanglah badai. Nahkoda memutuskan untuk mengurangi beban kapal dan membuang barang barang dan akhirnya mengundi nasib penumpang yang dilempar kelaut. Setelah diundi tiga kali selalu nama itu jatuh ke Nabi Yunus AS, maka dengan berat hati akhirnya beliau dilemparkan ke laut dan segera ditangkap dan ditelan oleh ikan raksasa yang bisa diartikan sebagai paus atau mungkin hiu paus. ’Maka ia ditelan oleh ikan besar dalam keadaan tercela.’(QS As Shafaat:37;137-148).

Menurut Perjanjian lama selama 3 hari nabi Yunus AS dalam perut ikan. Beliau tidak mati namun berdoa dan menyesali perbuatannya pergi dan marah dari hidayah Allah SWT, Tuhan Yang Maha Berkuasa! Doa Nabi Yunus AS dalam perut ikan : ’Tiada Tuhan (yang berhak disembah) selain Engkau , Maha Suci Engkau, sesunggguhnya aku adalah termasuk orang orang dzalim’ (QS Anbiya (21) : 87) adalah salah doa yang mustajab apabila didoakan pada saat sholat malam. Nabi Yunus AS akhirnya dimuntahkan oleh ikan raksasa itu dan terdampar di pantai berpasir kemudian akhirnya beliau kembali mendapati ummat yang mengikutinya dalam jumlah yang besar.

Dalam cerita 1001 malam Sinbad-Sipelaut. Rombongan Sinbad yang lelah dan jenuh mengarungi samudra beristirahat di sebuah pulau kecil di tengah samudra luas. Ketika anak buah Sinbad menyalakan api hendak membuat api unggun ternyata pulau itu bergerak dan ternyata ia adalah seekor ikan raksasa. Rombongan Simbad kemudian tercerai berai di tengah laut dan tak sedikit yang mati tenggelam. Demikian juga dalam cerita Yunani, situa bijaksana Plinius, meneliti hubungan peran paus dengan jumlah tangkapan nelayan.

Di kalangan nelayan Eropa utara, apabila nelayan bertemu paus akan berteriak sekerasnya...”Simor’.Simon’...’Simon’ maka paus akan mendatanginya dan akan menggiringkan ikan ikan yang panik naik ke permukaan untuk dijaring oleh nelayan. Pada hari berikutnya paus akan datang lagi dan akan dihadiahi oleh nelayan hadiah berupa roti dan wine.

Whale Safari





Selama tinggal di kota Tromso untuk pertama kalinya, kegiatanku hanya ikut intensif training di TSS-Tromso Satellite Station. Jadi jadwalnya rutin dan membosankan, pagi dijemput dan malam diantar pulang ke hotel. Selebihnya aku cuma diajak berkeliling kota Tromso atau diundang makan malam oleh staff TSS. Tibalah hari libur, dimana aku bisa berkeliling sendiri disekitar kota ini. Habis sarapan pagi aku jalan jalan di pelabuhan Tromso dan tanpa sengaja mataku tertumbuk pada ’billboard’ eco-tourism ’Whale Wathching Tour’di pelabuhan Tromso.

Siang harinya persis didepan hotelku terparkir kapal catamaran-kapal berlunas ganda’ ’CETACEA’ berukuran cukup besar ukuran sekitar 20 meter panjangnya. Tarif tour menonton paus dengan kapal Cetacea itu cukup murah bila dibanding paket wisata sejenis oleh biro perjalanan lain yang mencapai 2,000 Norway Kron atau sekitar (4 juta rupiah). Selama 8 jam tour diatas kapal ’Cetacea’ para peserta cukup membayar sekitar 700 kron atau sekitar 1,4 juta rupiah dengan jaminan uang dikembalikan apabila tidak berhasil melihat seekor pauspun dalam wisata selama 8 jam itu. Dari pengamatanku banyak sekali turis dari Inggris atau Jepang yang suka mengikuti program ’whale safari’ menonton kehidupan paus di sela sela ’fjord’ di Norway dari dekat. Dengan route dari Tromso ke Tystfjord atau Lofoten lokasi tempat keluarga paus ’berlibur musim panas’ di perairan Norway.

Kondisi ekologis kepulauan Norway yang unik yaitu musim summer Arctic namun arus laut hangat membawa banyak makanan membuatnya banyak menarik kunjungan berbagai ’hewan petualang’ ini yang selalu berkunjung sebagai ’feeding periods’ ke wilayah ini pada waktu waktu tertentu. Semacam pulang kampunglah bagi manusia pengelana. Keluarga paus ini akan membawa anak anaknya yang dilahirkan di daerah perairan tropis. Kondisi ini dimanfaatkan oleh pengelola wisata setempat menjadi paket wisata ‘Whale watching tour’ menonton ikan paus liar ‘pulang kampung’ setelah mengelilingi samudera-samudera di dunia. Tour ini biasanya dilakukan pada bulan May sampai Oktober.

Paus adalah hewan menyusu-mamalia-laut terbesar diplanet bumi, yang bersifat pengelana (migratory/ruaya). Paus dari jenis ’Killer Whale’ –Orcinus orca adalah pengelana hebat penakluk laut di dunia. Hewan ini memiliki kebiasaan selalu berpetualang mengelilingi samudera-samudera di dunia. Seperti saudaranya Dolhpin-lumba lumba, mamalia laut ini adalah pemakan daging yang rakus, pernah difilmkan bagiamana ’killer whale’ ini mencabik cabik seekor hiu putih raksasa sepanjang 4 meter hanya dengan dua kali ’gebrak’ untuk dimakan ’jeroannya’.

Namun ’Killer whale’ ini bersahabat dengan manusia. Mereka seringkali berenang sangat dekat dengan pantai atau daratan. Sifat ’alaminya’ yang bersahabat dengan manusia itu malah merugikannya, karena sudah ribuan ekor mammalia laut ini dibantai manusia untuk diambil daging atau lemak/minyaknya.

Menurut Nils Oein dari Insitute of Marine Research Norway ditemukan setidaknya 1,500 ekor ’Killer whale’ di perairan norway, walau jumlah populasi sebenarnya tidak diketahui dengan pasti. Hewan raksasa ini selalu berkelana semasa hidupnya dari mulai dilahirkan, masa remaja, musim reproduksi dan masa tua selalu berada di lokasi yang berbeda beda. Semua samudera di dunia termasuk kawasan tropis adalah wilayah kekuasaanya

Hewan raksasa ini selalu berkelana semasa hidupnya dari mulai dilahirkan, masa remaja, musim reproduksi dan masa tua selalu berada di lokasi yang berbeda beda. Semua samudera di dunia termasuk kawasan tropis adalah wilayah kekuasaanya. Disamping jenis ini di perairan Norway juga ditemui jenis ’humpback whale’ (Megaptera novaeangliae), ’Sperm Whale’ (Physeter macrocephalus), ’Minke Whale’ (Balaenoptera acutorostrata) dan ’Pilot Whale’ (Globicephala melaena).

Minggu, 14 Maret 2010

Semalam di OSLO





Dalam perjalanan dari Zurich ke Oslo, sebenarnya dalam hatiku ada sedikit kekhawatiran atau lebih tepatnya ketakutan karena aku sampai di Oslo lewat tengah malam. Padahal aku belum pernah kesana dan aku tahu dari Wikipedia bahwa kota Oslo adalah salah satu kota dengan biaya hidup termahal didunia. Ketakutanku adalah cukupkah bekal ‘uang saku’-ku. Wah bisa bisa kartu kreditku jebol nih, pikirku.
Akhirnya pesawat SAS AVRO RJ 85 Blue-1 yang kutumpangi mendarat mulus di bandara Oslo lewat tengah malam waktu setempat. Hari sudah mulai gelap gulita. Pemeriksaan imigrasi dan pabean Norway tergolong sangat ketat. Bisa bisa aku dideportasi kalau tak bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan mereka dengan tegas dan menyakinkan. Mereka mengurus sampai masalah pekerjaan dan siapa yang ditemui di Norway dan berapa bekal uang yang dibawa dll. Alhamdulillah, akhirnya semuanya beres.
Kecemasanku agak terobati karena ternyata dijemput oleh orang Indonesia yang sudah lama tinggal di Oslo. Menurutnya aku sudah dibookingkan hotel Thon di pinggiran kota Oslo.
Dengan mengendarai VW Caravelle coklat aku diantar menuju hotel sambil mengobrol kesana kemari dengan pak Seno demikian dia biasa dipanggil. Pak Seno adalah warga negara Indonesia asli yang sudah 18 tahun tinggal di Oslo, jadi dia paham betul seluk beluk kota tua ini.
Karena posisi hotelku agak dipinggiran kota maka kami bisa berkeliling kota Oslo sambil melihat lihat suasana malam di kota ini. Melewati jalan jalan utama Karl johan dan melewati Oslo katederal dll. Suasana jalanan sudah mulai sepi karena hari sudah sangat larut.
Ketika kami melewati kawasan pertokoan dan perhotelan aku melihat ada beberapa wanita kulit hitam berjalan mondar mandir, aku bertanya ke pak Seno.
‘Pak, orang orang itu sedang menunggu taksi atau apa sih’ kok saya lihat mereka cuma berjalan mondar mandir! Apa mereka tidak kedinginan diluar sana’. Hari sudah sangat larut dan suhu diluar sangat dingin buatku mungkin mencapai dibawah 10 derajad Celsius.
‘Wah sampean ini, ga tau atau pura pura ga tau mas’,
‘Bener pak, aku ga ngerti..pak’
‘Wanita yang berjalan mondar mandir itu ..adalah kupu kupu malam’ ngerti mas’ kata pak Seno menjelaskan sambil matanya berkedip kedip kepadaku.
‘Oooo… begitu…pak’ ‘.
Lha apa itu berarti orang orang disini sudah bosan dengan’ wanita blonde.
.kok di jalan itu banyak yang kulit hitamnya.”
‘ha ha ha’..…’sampean cerdas juga ternyata mas’
kata pak Seno sambil tertawa…mendengar ulasanku.
.”wah bener juga ya mas’
‘Memang menusia itu aneh, ..mungkin mereka sudah bosan dengan yang biasanya jadi cari yang sedikit berbeda dan berwarna lain..’ celetuk pak Seno.
Ha ha ha…sepanjang jalan menuju hotelku kami banyak ketawanya membahas masalah-masalah itu.
Sekitar pukul 01.30 dini hari aku sampai di hotel Thon dan segera check in. Kemudian pak Seno segera pamit pulang ke rumahnya.
Di kamar aku segera Sholat Jama’ Takhir Magrib dan Isyak. Kemudian aku berbaring di tempat tidur, namun mataku tak bisa dipejamkan. Sebenarnya kamar hotel ini cukup mewah, ada bed yang cukup besar, ada TV kabel, jaringan LAN dan internet..dan segala perlengkapannya, bahkan ada sofanya. Namun semua itu tidak menarik lagi buatku.
Aku segera membuka buka laptop mempersiapkan kalau kalau besok diminta presentasi. Sekitar pukul 03 lebih dinihari barulah aku tertidur.
Pukul 06.00 pagi aku sudah bersiap dan rapi dan segera turun sarapan sekaligus check out dari hotel ini.
Menu sarapan pagi ini adalah rotie tawar plus selai strawberry dan sosis ayam serta telur rebus dan dua gelas orange juice. Kebiasaanku waktu kuliah adalah mengantongi beberapa butir telur dan buah untuk bekal, namun kali ini aku tak melakukannya. Malu..!.Karena saat ini aku sudah bukan mahasiswa lagi.
Selesei sarapan aku segera menyeleseikan tagihan..kamar.
Wha..! Mahal juga pikirku, untuk istirahat cuma lima jam aku harus membayar 250 USD atau sekitar dua juta tiga ratus ribu rupiah.
Kalau tadi aku nginap di rumah pak Seno pasti bisa hemat nih pikirku.
Ah. Sudahlah sekarang bukan mahasiswa lagi kayak dulu semua mintanya gratis.
Sekitar jam 07.15 pak Seno sudah menjemputku, namun kali ini dia berganti mobil sebuah Minivan Marcedes Benz Viano hitam metalik dengan plat diplomatik ‘Karena kita hendak bertamu dan mewakili Negara’ kata pak Seno. ‘Wah keren juga nih jadi diplomat sehari’ pikirku.

Kamis, 11 Maret 2010

Tromso:Gerbang Kutub Utara





Setelah menginap sehari di Oslo untuk mendampingi delegasi Indonesia di Norway Space Center sore harinya aku diajak berangkat menuju kota Tromso untuk mengikuti intensif training di Tromso Satellite Station. Sementara rombongan delegasi Indonesia lain meneruskan perjalanan ke Jerman. Tromso bisa dicapai dengan pesawat udara selama 2 jam ke arah utara dari Oslo.
Menjelang landing di bandara kota Tromso suasana pegunungan kutub mulai terasa dominan. Dari jendala pesawat terlihat jelas puncak puncak gunung berselimut salju. Cukup kontras dengan pemandangan di Norwegia selatan, yang masih terasa musim summer-nya.
Tromso yang merupakan kota besar terakhir sebelum memasuki kawasan lingkaran kutub utara. Kota ini terletak 69°40′ Lintang Utara, merupakan kota terbesar sebelum memasuki lingkaran kutub utara dan hanya berjarak 350 km dari situ. Karena posisinya itu, Tromso memiliki semboyan ‘Gateway to Arctic’ –Gerbang Kutub Utara’. Di kalangan ’traveller’-’wisatawan petualang’ Tromso merupakan ’Kota Eko-wisata’ favorit terutama bagi wisatawan bangsa Asia Tropis terutama turis turis dari Jepang.
Kota Tromso sebenarnya merupakan sebuah pulau yang bernama Tromsøya. ’Øya’ berarti ‘pulau’ dalam bahasa Norwegia. Disebelah kanan pulau Tromsøya adalah Tromsdalen yang merupakan bagian dari bagian utama Norwegia dari kepulauan Scandinavian. Tromsø dihuni oleh sekitar 60 ribu orang termasuk Tromsøya, Tromsdalen dan pulau pulau sekitarnya. Tromso memiliki banyak suguhan wisata alam yang menarik kunjungan para traveller setiap tahun. ’Midnight Sun’ -matahari tengah malam yang hanya ada di kutub utara. dan ’Polar-Night’ yaitu malam musim panas yang dibalur Aurora Borealis’dengan luluran tirai cahaya ionik di langit Utara.
Pada setiap bulan Mei, matahari akan tenggelam dan langsung terbit di cakrwala kota Tromso. Nah turis-turis mancanegara biasanya datang pada bulan bulan ini. Pada bulan-bulan itu sampai Juni suhu udara Kota Tromoso paling hangat bisa mencapai lebih dari 15°C. Pada musim itu biasanya warga Tromso akan ’buka baju’ untuk berjemur menikmati musim panas terik matahari yang cukup langka di kawasan itu. Sementara kondisi ’icy’ musim dingin yang ekstrim ketebalan salju mencapai 2.4 meter. Namun kondisi itu segara terlupa dengan hadirnya angin musim panas yang menerpa kota tua dengan pantai yang selalu berjiwa muda. Perbedaan yang kontras antara musim panas dan musim dingin ini sungguh sangat..indah dan so colorfull penuh warna ! banyak traveller menjuluki wilayah itu sebagai ’the region of contrast’..!
Sementara di lokasi utara lainnya mungkin hanya bisa menyaksikan lapisan es dan bioma ’tundra’ khas daerah dingin yang beku dan membosankan. Berkat arus hangat teluk yang membuat kawasan laut utara Norway tetap hangat dalam musim dingin sekalipun.
Di bulan Agustus ini, waktu siang di Tromso suhu berkisar antara 5 sampai 8 derajad Celsius. Kondisi ini cukup dingin bagi ’orang tropis’ sepertiku. Tapi aku sudah cukup beradaptasi di benua Eropa karena pernah bersekolah di Karlstad Sweden tahun 1999.
Namun, giliran malam tiba, suhu dingin mulai terasa menyiksa. Pada tengah malam suhu turun sampai beberapa derajad dibawah nol. Padahal kondisi lingkungan diluar kamarku sudah mulai terang. Matahari hanya tenggelam beberapa jam saja pada bulan bulan ini, dan terbit sekitar jam 02.30 pagi. Meski badanku sudah cukup beradaptasi pada dinginnya cuaca Eropa namun di Tromso ini, pada malam hari hidungku masih ’mimisan’ juga saking dinginnya.

Senin, 08 Maret 2010

Pertamakali Mengunjungi Norwegia





Pada bulan Agustus 2007 aku diundang oleh Lembaga Antariksa Norwegia-NorsRomcenter untuk mempelajari pemanfaatan citra satelit radar bagi pemantauan dan pengawasan keamanan laut. Karena hanya mendapat visa khusus mengunjungi Norway untuk waktu kunjungan selama 14 hari. Maka route pesawatku diharuskan terbang melalui negara netral yaitu Swiss (melalui zurich atau Geneva). Untunglah sebelumnya pada bulan April 2007 aku sudah pernah mengunjungi Swiss jadi untuk memasukinya suatu hal yang mudah bagiku.

Jadilah aku berangkat pada Sabtu Malam jam 23.05 dengan maskapai langgananku Emirates. Yang menurutku sangat pas dengan kantong ‘orang sekelasku’ disamping aku cocok dengan menu makanannya dan selalu ada petunjuk waktu Sholat dan arah kiblat walau sedang terbang di angkasa. Penerbangan dari Jakarta menuju Dubai sangat lancar, demikian juga penerbangan Dubai ke Zurich.

Ketika aku transit di Zurich penerbanganku selanjutnya agak tersendat karena ‘kelangkaan’ armada pesawat dan cuaca buruk. Terpaksa aku menunggu sekitar lima jam lagi di bandara Zurich. Namun karena aku sudah mengenal bandara Zurich ini aku bisa santai jalan jalan di sekitar bandara sambil menunggu pesawat yang membawaku ke Oslo tiba, walau waktu sudah cukup malam mendekati jam 21.00 waktu Zurich. Akhirnya mendekati jam 22.00 pesawatku tiba dan segera kami diperintahkan boarding.

Nah kali aku menggunakan maskapai SAS (yang termasuk jaringan STAR alliances bersama Emirates, Luftansa dll) dengan penerbangan regional dengan pesawat jet cukup kecil yaitu sejenis Avro RJ 85 Blue-1 berpenumpang 80-an orang, namun hanya diisi oleh 25-an orang penumpang.
Kabin pesawat mini-jet ini tergolong lega dan mewah, tak seperti pesawat-pesawat yang pernah kutumpangi sebelumnya. Kursi kursi di kabin pesawatnya lebar dan bersalut kulit asli warna biru yang cukup tebal seperti kelas binis pesawat biasa. Di masing masing kursi tersedia koran harian Swiss dan majalah SCANORAMA. Bersamaku penumpangnya kebanyakan para eksekutif yang bekerja secara ‘commuter’, di Swiss namun tinggal di Oslo atau kawasan Skandinavia lain. Pelayanan di SAS Blue-1 regional flight ini adalah ‘service charge’, kita kena charge apabila membutuhkan makanan dan minuman ringan. Semua penumpang pesan kopi, softrink atau makanan ringan lain, aku merasa malu kalau ga pesan apa-apa.
Dalam 2,5 jam perjalanan ini aku cuma pesan Orange juice kotak seharga sekitar 8 Franc Swiss (sekitar Rp. 65 ribu). Wah mahal juga nih, pikirku. Tapi, lumayanlah yang penting segera sampai di Oslo. Diluar cabin pesawat, suasana langit mulai remang remang seperti magrib, matahari segera tenggelam sekitar pukul 22.30 waktu setempat.

Kamis, 04 Maret 2010

Farewell Montreux


Pada hari terakhir symposium aku memilih kabur, tidak mengikuti upacara penutupan sekaligus ‘farewell party-nya’. Aku memilih jalan-jalan sendirian sambil nyari ‘souvenir’ di sekitar kota Montreux. Aku mencari minimarket yang berjualan aneka barang. Biasanya harga barang disitu lebih murah dibanding toko khusus souvenir.
Di toko 'MIGROS' ini aku menemukan souvenir seperti topi, kaos, stiker, gantungan kunci.payung dan puluhan postcard. Yah…oleh oleh standar..untuk kelas bawah sepertiku. Nah aku pun membeli barang barang aneh yang jarang dibeli orang tropis yaitu peralatan indikator cuaca seperti barometer, hygrometer dan thermometer. Tak lupa aku membeli juga perbekalan baru seperti roti kering, instant noodle dan softdrink.

Ketika aku giliran membayar di kasir, mereka memandangiku dari ujung kaki sampai rambut dengan ‘aneh’ padahal kasir inipun saya yakin seorang immigrant dari kawasan Timur Tengah. Terlebih aku cuma bisa sedikit bahasa Perancis. Mungkin dipikirnya aku ga bisa bayar seluruh belanjaan, ah.biarlah. Segera kubayar seperti tertera di 'cashier machine'. Dan segera berlalu dari toko itu. Mercy..mercy..bye..!

Aku sudah tak peduli lagi dengan acara 'farewell party' dan acara santai sebagai penutupan Envisat Symposium mulai 23 s.d 27 April 2007 itu. Hari sudah menjelang petang sekitar pukul 19.30 waktu Montreux. Aku segera balik ke stasiun Montreux untuk mengejar jadwal kereta gunungku ke Glion-Rocherz de Naye. Kerna kalau telat aku terpaksa keluar biaya ekstra untuk bayar taksi..wah bisa jebol kantongku. Malam terakhir di Glion aku Cuma duduk duduk di teras sambil memandangi sunset diatas danau Geneva. Matahari di Glion tenggelam sekitar jam 22.00 lebih, sekitar pukul 23.00 waktu setempat baru suasana terasa gelap gulita. Esok pagi pagi aku harus segera meninggalkan Glion dan Montreux untuk menuju Zurich.

Topografi Swiss


Hanya dengan berkereta dari Zurich menuju Geneva kita segera melihat bahwa topografi Swiss didominasi oleh tiga type topografis: Pegunungan Alpen Swiss, plato Swiss atau "middleland", dan pegunungan Juran yang ada di sepanjang perbatasan barat laut Perancis. Pegunungan Alpen adalah area gunung tinggi yang berada menyeberangi daerah selatan-tengah dari negeri itu. Di antara puncak-puncak yang tinggi adalah gunung Alpen, yang tertinggi adalah gunung Dufourspitze yang tingginya 4,634 meter, diketemukan lembah yang tak terhitung banyaknya dengan banyak air terjun dan glasier. Dari sinilah sumber dari sungai-sungai utama Eropa seperti sugat Rhine, Rhone, Inn, Aare dan Ticino yang akhirnya mengalir masuk ke dalam danau-danau Swiss terbesar seperti Danau Geneva, Danau Zurich, Danau Neuchatel dan Danau Constance.
Gunung yang paling terkenal adalah gunung Matterhorn (tingginya 4,478 m) dalam Pegunungan Alpen Valais dan Pennine di perbatasan Italian. Gunung tertinggi, Gunung Dufourspitze (4,634 m) atau Monte Rosa letaknya berdekatan dengan Matterhorn. Bagian dari Alpen Bernese di atas glasier Lauterbrunnen yang dalam terdiri dari 72 air terjun yang dikenal dengan Jungfrau (4,158 m), Mönch, kumpulan puncak Eiger, dan banyak pemandangan lembah di wilayah ini. Di daerah tenggara, Lembah Engadin yang panjang memotong area Gunung St Moritz di kanton Graubunden, yang cukup dikenal sedangkan puncak tertinggi di sini alalah puncak Gunung Piz Bernina (setinggi 4,049 m).

Senin, 01 Maret 2010

Patung Freddy Mercury


Hari-hari terakhir menjelang penutupan symposium banyak waktu bersantai,Aku sempatkan jalan jalan berkeliling di sekitar danau Geneva. Disekitar danau Geneva banyak sekali patung seniman terkenal diantara adalah patung Freddy mercury seorang pentolan grup music Queen.
Cukup banyak turis yang menziarahinya dengan memberinya rangkaian bunga bunga. Freddie Mercury adalah vokalis grup musik rock Queen asal Britania Raya.Mercury lahir pada 5 September 1946, di Stone Town, Zanzibar (Sekarang termasuk wilayah Tanzania, Afrika Timur). Nama aslinya ialah Farrokh Bulsara. Kawan-kawannya menjulukinya "Freddie". Akhirnya keluarganya memanggilnya Freddie juga.
Ia terlahir dari keluarga keturunan Parsi India (Zoroastrian). Orang tuanya adalah seorang Diplomat yang selalu berpindah-pindah, hingga akhirnya menjadikan Zanzibar sebagai tempat kelahiran Freddie Mercury.
Menjelang remaja mereka hijrah ke Inggris dan akhirnya mereka menetap di sana. Dalam dunia musik internasional, nama Freddie Mercury adalah salah satu Legenda musik Rock. Karya-karyanya termasuk musik abadi yang dapat didengar segala usia.
Menurut May, Mercury musisi yang berbakat sekaligus eksentrik. Freddie menulis lagu dengan kunci-kunci yang aneh. Kebanyakan band rock memainkan kunci A atau E, dan bisa D atau G, lain dengan musik Freddie yang mempunyai struktur chord yang aneh dan susah dimainkan dengan gitar. Dia dilahirkan dengan bakat dalam bidang seni yang luar biasa, sehingga tak ada satupun grup musik yang bisa menyaingi lagu-lagu beliau.
Grup musik Queen yang beranggotakan Freddie Mercury, Brian May, John Deacon dan Roger Taylor, pernah dinobati oleh majalah Rolling Stone, sebagai satu-satunya grup musik rock yang seluruh anggotanya bergelar Sarjana.
Montreux adalah salah satu kota peristirahatan favorit Freddy mercury kalau dia ingin mencari ketenangan. Dia memiliki sebuah apartemen di Teritet persis di tepian danau Geneva.
Dia menghabiskan bulan bulan terakhir hidupnya di Montreux.
‘Bila kau ingin kedamaian dan ketenangan, datanglah ke kota Montreux’ itulah kata katanya terakhir pada saat akhir hayatnya.
Dia digerogoti oleh penyakit AIDS meninggal pada 24 November 1991. Gaya hidupnya yang selebor, suka pesta dan bebas rupanya telah membunuhnya. ‘Too much love will kill you’ demikian kata May teman segroupnya.