Rabu, 17 Maret 2010

Manusia dan Paus




Melihat paus secara langsung sebenarnya bukan pertama kali bagiku. Pertama kali aku berkenalan denganya di Museum Marine Biologi di kota Checeng Taiwan tahun 2003. Namun melihatnya secara langsung di alam bebas tetap saja membuat kita takjub dan kagum. Dan seakan akan paus paus itupun suka apabila berjumpa dengan manusia, sehingga mereka seakan akan ’bergaya’ di depan manusia. Konon dulunya mamalia itu juga berasal dari darat. Jadi bertemu manusia seakan seperti berjumpa ’adik kecil dari darat’. Mungkin begitulah perasaan paus. Entahlah.Wallahu’alam.

Hubungan manusia dan mamalia raksasa laut –paus- diselimuti mistery dan keghaiban. Walau ada yang menganggapnya sebagai superstition atau memiliki ’kekuatan magis’. Interaksi manusia dan paus sebenarnya telah terjalin sejak ribuan tahun lalu seperti tertulis dalam Al Qur’an atau Kitab Perjanjian Lama yaitu Kisah nabi Yunus (Jonas) yang berdakwah di kota Niniveh (Ninawa di Irak, sekarang ini).

Upaya nabi Yunus setelah sekian tahun hanya dikuti 2 orang, sementara hampir semua warga kota menentang dan menantangnya untuk mendatangkan azab dari Tuhan sebagai bukti bahwa dia adalah utusan Tuhan.

Nabi Yunus AS kemudian keluar ’minggat’ dari kota dengan keadaan kesal dan marah. Kemudian dia pergi kemanapun arah angin, sampai ke tepi pantai kemudian menumpang kapal untuk menyeberang disekitar laut Tengah. Di tengah laut datanglah badai. Nahkoda memutuskan untuk mengurangi beban kapal dan membuang barang barang dan akhirnya mengundi nasib penumpang yang dilempar kelaut. Setelah diundi tiga kali selalu nama itu jatuh ke Nabi Yunus AS, maka dengan berat hati akhirnya beliau dilemparkan ke laut dan segera ditangkap dan ditelan oleh ikan raksasa yang bisa diartikan sebagai paus atau mungkin hiu paus. ’Maka ia ditelan oleh ikan besar dalam keadaan tercela.’(QS As Shafaat:37;137-148).

Menurut Perjanjian lama selama 3 hari nabi Yunus AS dalam perut ikan. Beliau tidak mati namun berdoa dan menyesali perbuatannya pergi dan marah dari hidayah Allah SWT, Tuhan Yang Maha Berkuasa! Doa Nabi Yunus AS dalam perut ikan : ’Tiada Tuhan (yang berhak disembah) selain Engkau , Maha Suci Engkau, sesunggguhnya aku adalah termasuk orang orang dzalim’ (QS Anbiya (21) : 87) adalah salah doa yang mustajab apabila didoakan pada saat sholat malam. Nabi Yunus AS akhirnya dimuntahkan oleh ikan raksasa itu dan terdampar di pantai berpasir kemudian akhirnya beliau kembali mendapati ummat yang mengikutinya dalam jumlah yang besar.

Dalam cerita 1001 malam Sinbad-Sipelaut. Rombongan Sinbad yang lelah dan jenuh mengarungi samudra beristirahat di sebuah pulau kecil di tengah samudra luas. Ketika anak buah Sinbad menyalakan api hendak membuat api unggun ternyata pulau itu bergerak dan ternyata ia adalah seekor ikan raksasa. Rombongan Simbad kemudian tercerai berai di tengah laut dan tak sedikit yang mati tenggelam. Demikian juga dalam cerita Yunani, situa bijaksana Plinius, meneliti hubungan peran paus dengan jumlah tangkapan nelayan.

Di kalangan nelayan Eropa utara, apabila nelayan bertemu paus akan berteriak sekerasnya...”Simor’.Simon’...’Simon’ maka paus akan mendatanginya dan akan menggiringkan ikan ikan yang panik naik ke permukaan untuk dijaring oleh nelayan. Pada hari berikutnya paus akan datang lagi dan akan dihadiahi oleh nelayan hadiah berupa roti dan wine.

Whale Safari





Selama tinggal di kota Tromso untuk pertama kalinya, kegiatanku hanya ikut intensif training di TSS-Tromso Satellite Station. Jadi jadwalnya rutin dan membosankan, pagi dijemput dan malam diantar pulang ke hotel. Selebihnya aku cuma diajak berkeliling kota Tromso atau diundang makan malam oleh staff TSS. Tibalah hari libur, dimana aku bisa berkeliling sendiri disekitar kota ini. Habis sarapan pagi aku jalan jalan di pelabuhan Tromso dan tanpa sengaja mataku tertumbuk pada ’billboard’ eco-tourism ’Whale Wathching Tour’di pelabuhan Tromso.

Siang harinya persis didepan hotelku terparkir kapal catamaran-kapal berlunas ganda’ ’CETACEA’ berukuran cukup besar ukuran sekitar 20 meter panjangnya. Tarif tour menonton paus dengan kapal Cetacea itu cukup murah bila dibanding paket wisata sejenis oleh biro perjalanan lain yang mencapai 2,000 Norway Kron atau sekitar (4 juta rupiah). Selama 8 jam tour diatas kapal ’Cetacea’ para peserta cukup membayar sekitar 700 kron atau sekitar 1,4 juta rupiah dengan jaminan uang dikembalikan apabila tidak berhasil melihat seekor pauspun dalam wisata selama 8 jam itu. Dari pengamatanku banyak sekali turis dari Inggris atau Jepang yang suka mengikuti program ’whale safari’ menonton kehidupan paus di sela sela ’fjord’ di Norway dari dekat. Dengan route dari Tromso ke Tystfjord atau Lofoten lokasi tempat keluarga paus ’berlibur musim panas’ di perairan Norway.

Kondisi ekologis kepulauan Norway yang unik yaitu musim summer Arctic namun arus laut hangat membawa banyak makanan membuatnya banyak menarik kunjungan berbagai ’hewan petualang’ ini yang selalu berkunjung sebagai ’feeding periods’ ke wilayah ini pada waktu waktu tertentu. Semacam pulang kampunglah bagi manusia pengelana. Keluarga paus ini akan membawa anak anaknya yang dilahirkan di daerah perairan tropis. Kondisi ini dimanfaatkan oleh pengelola wisata setempat menjadi paket wisata ‘Whale watching tour’ menonton ikan paus liar ‘pulang kampung’ setelah mengelilingi samudera-samudera di dunia. Tour ini biasanya dilakukan pada bulan May sampai Oktober.

Paus adalah hewan menyusu-mamalia-laut terbesar diplanet bumi, yang bersifat pengelana (migratory/ruaya). Paus dari jenis ’Killer Whale’ –Orcinus orca adalah pengelana hebat penakluk laut di dunia. Hewan ini memiliki kebiasaan selalu berpetualang mengelilingi samudera-samudera di dunia. Seperti saudaranya Dolhpin-lumba lumba, mamalia laut ini adalah pemakan daging yang rakus, pernah difilmkan bagiamana ’killer whale’ ini mencabik cabik seekor hiu putih raksasa sepanjang 4 meter hanya dengan dua kali ’gebrak’ untuk dimakan ’jeroannya’.

Namun ’Killer whale’ ini bersahabat dengan manusia. Mereka seringkali berenang sangat dekat dengan pantai atau daratan. Sifat ’alaminya’ yang bersahabat dengan manusia itu malah merugikannya, karena sudah ribuan ekor mammalia laut ini dibantai manusia untuk diambil daging atau lemak/minyaknya.

Menurut Nils Oein dari Insitute of Marine Research Norway ditemukan setidaknya 1,500 ekor ’Killer whale’ di perairan norway, walau jumlah populasi sebenarnya tidak diketahui dengan pasti. Hewan raksasa ini selalu berkelana semasa hidupnya dari mulai dilahirkan, masa remaja, musim reproduksi dan masa tua selalu berada di lokasi yang berbeda beda. Semua samudera di dunia termasuk kawasan tropis adalah wilayah kekuasaanya

Hewan raksasa ini selalu berkelana semasa hidupnya dari mulai dilahirkan, masa remaja, musim reproduksi dan masa tua selalu berada di lokasi yang berbeda beda. Semua samudera di dunia termasuk kawasan tropis adalah wilayah kekuasaanya. Disamping jenis ini di perairan Norway juga ditemui jenis ’humpback whale’ (Megaptera novaeangliae), ’Sperm Whale’ (Physeter macrocephalus), ’Minke Whale’ (Balaenoptera acutorostrata) dan ’Pilot Whale’ (Globicephala melaena).

Minggu, 14 Maret 2010

Semalam di OSLO





Dalam perjalanan dari Zurich ke Oslo, sebenarnya dalam hatiku ada sedikit kekhawatiran atau lebih tepatnya ketakutan karena aku sampai di Oslo lewat tengah malam. Padahal aku belum pernah kesana dan aku tahu dari Wikipedia bahwa kota Oslo adalah salah satu kota dengan biaya hidup termahal didunia. Ketakutanku adalah cukupkah bekal ‘uang saku’-ku. Wah bisa bisa kartu kreditku jebol nih, pikirku.
Akhirnya pesawat SAS AVRO RJ 85 Blue-1 yang kutumpangi mendarat mulus di bandara Oslo lewat tengah malam waktu setempat. Hari sudah mulai gelap gulita. Pemeriksaan imigrasi dan pabean Norway tergolong sangat ketat. Bisa bisa aku dideportasi kalau tak bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan mereka dengan tegas dan menyakinkan. Mereka mengurus sampai masalah pekerjaan dan siapa yang ditemui di Norway dan berapa bekal uang yang dibawa dll. Alhamdulillah, akhirnya semuanya beres.
Kecemasanku agak terobati karena ternyata dijemput oleh orang Indonesia yang sudah lama tinggal di Oslo. Menurutnya aku sudah dibookingkan hotel Thon di pinggiran kota Oslo.
Dengan mengendarai VW Caravelle coklat aku diantar menuju hotel sambil mengobrol kesana kemari dengan pak Seno demikian dia biasa dipanggil. Pak Seno adalah warga negara Indonesia asli yang sudah 18 tahun tinggal di Oslo, jadi dia paham betul seluk beluk kota tua ini.
Karena posisi hotelku agak dipinggiran kota maka kami bisa berkeliling kota Oslo sambil melihat lihat suasana malam di kota ini. Melewati jalan jalan utama Karl johan dan melewati Oslo katederal dll. Suasana jalanan sudah mulai sepi karena hari sudah sangat larut.
Ketika kami melewati kawasan pertokoan dan perhotelan aku melihat ada beberapa wanita kulit hitam berjalan mondar mandir, aku bertanya ke pak Seno.
‘Pak, orang orang itu sedang menunggu taksi atau apa sih’ kok saya lihat mereka cuma berjalan mondar mandir! Apa mereka tidak kedinginan diluar sana’. Hari sudah sangat larut dan suhu diluar sangat dingin buatku mungkin mencapai dibawah 10 derajad Celsius.
‘Wah sampean ini, ga tau atau pura pura ga tau mas’,
‘Bener pak, aku ga ngerti..pak’
‘Wanita yang berjalan mondar mandir itu ..adalah kupu kupu malam’ ngerti mas’ kata pak Seno menjelaskan sambil matanya berkedip kedip kepadaku.
‘Oooo… begitu…pak’ ‘.
Lha apa itu berarti orang orang disini sudah bosan dengan’ wanita blonde.
.kok di jalan itu banyak yang kulit hitamnya.”
‘ha ha ha’..…’sampean cerdas juga ternyata mas’
kata pak Seno sambil tertawa…mendengar ulasanku.
.”wah bener juga ya mas’
‘Memang menusia itu aneh, ..mungkin mereka sudah bosan dengan yang biasanya jadi cari yang sedikit berbeda dan berwarna lain..’ celetuk pak Seno.
Ha ha ha…sepanjang jalan menuju hotelku kami banyak ketawanya membahas masalah-masalah itu.
Sekitar pukul 01.30 dini hari aku sampai di hotel Thon dan segera check in. Kemudian pak Seno segera pamit pulang ke rumahnya.
Di kamar aku segera Sholat Jama’ Takhir Magrib dan Isyak. Kemudian aku berbaring di tempat tidur, namun mataku tak bisa dipejamkan. Sebenarnya kamar hotel ini cukup mewah, ada bed yang cukup besar, ada TV kabel, jaringan LAN dan internet..dan segala perlengkapannya, bahkan ada sofanya. Namun semua itu tidak menarik lagi buatku.
Aku segera membuka buka laptop mempersiapkan kalau kalau besok diminta presentasi. Sekitar pukul 03 lebih dinihari barulah aku tertidur.
Pukul 06.00 pagi aku sudah bersiap dan rapi dan segera turun sarapan sekaligus check out dari hotel ini.
Menu sarapan pagi ini adalah rotie tawar plus selai strawberry dan sosis ayam serta telur rebus dan dua gelas orange juice. Kebiasaanku waktu kuliah adalah mengantongi beberapa butir telur dan buah untuk bekal, namun kali ini aku tak melakukannya. Malu..!.Karena saat ini aku sudah bukan mahasiswa lagi.
Selesei sarapan aku segera menyeleseikan tagihan..kamar.
Wha..! Mahal juga pikirku, untuk istirahat cuma lima jam aku harus membayar 250 USD atau sekitar dua juta tiga ratus ribu rupiah.
Kalau tadi aku nginap di rumah pak Seno pasti bisa hemat nih pikirku.
Ah. Sudahlah sekarang bukan mahasiswa lagi kayak dulu semua mintanya gratis.
Sekitar jam 07.15 pak Seno sudah menjemputku, namun kali ini dia berganti mobil sebuah Minivan Marcedes Benz Viano hitam metalik dengan plat diplomatik ‘Karena kita hendak bertamu dan mewakili Negara’ kata pak Seno. ‘Wah keren juga nih jadi diplomat sehari’ pikirku.

Kamis, 11 Maret 2010

Tromso:Gerbang Kutub Utara





Setelah menginap sehari di Oslo untuk mendampingi delegasi Indonesia di Norway Space Center sore harinya aku diajak berangkat menuju kota Tromso untuk mengikuti intensif training di Tromso Satellite Station. Sementara rombongan delegasi Indonesia lain meneruskan perjalanan ke Jerman. Tromso bisa dicapai dengan pesawat udara selama 2 jam ke arah utara dari Oslo.
Menjelang landing di bandara kota Tromso suasana pegunungan kutub mulai terasa dominan. Dari jendala pesawat terlihat jelas puncak puncak gunung berselimut salju. Cukup kontras dengan pemandangan di Norwegia selatan, yang masih terasa musim summer-nya.
Tromso yang merupakan kota besar terakhir sebelum memasuki kawasan lingkaran kutub utara. Kota ini terletak 69°40′ Lintang Utara, merupakan kota terbesar sebelum memasuki lingkaran kutub utara dan hanya berjarak 350 km dari situ. Karena posisinya itu, Tromso memiliki semboyan ‘Gateway to Arctic’ –Gerbang Kutub Utara’. Di kalangan ’traveller’-’wisatawan petualang’ Tromso merupakan ’Kota Eko-wisata’ favorit terutama bagi wisatawan bangsa Asia Tropis terutama turis turis dari Jepang.
Kota Tromso sebenarnya merupakan sebuah pulau yang bernama Tromsøya. ’Øya’ berarti ‘pulau’ dalam bahasa Norwegia. Disebelah kanan pulau Tromsøya adalah Tromsdalen yang merupakan bagian dari bagian utama Norwegia dari kepulauan Scandinavian. Tromsø dihuni oleh sekitar 60 ribu orang termasuk Tromsøya, Tromsdalen dan pulau pulau sekitarnya. Tromso memiliki banyak suguhan wisata alam yang menarik kunjungan para traveller setiap tahun. ’Midnight Sun’ -matahari tengah malam yang hanya ada di kutub utara. dan ’Polar-Night’ yaitu malam musim panas yang dibalur Aurora Borealis’dengan luluran tirai cahaya ionik di langit Utara.
Pada setiap bulan Mei, matahari akan tenggelam dan langsung terbit di cakrwala kota Tromso. Nah turis-turis mancanegara biasanya datang pada bulan bulan ini. Pada bulan-bulan itu sampai Juni suhu udara Kota Tromoso paling hangat bisa mencapai lebih dari 15°C. Pada musim itu biasanya warga Tromso akan ’buka baju’ untuk berjemur menikmati musim panas terik matahari yang cukup langka di kawasan itu. Sementara kondisi ’icy’ musim dingin yang ekstrim ketebalan salju mencapai 2.4 meter. Namun kondisi itu segara terlupa dengan hadirnya angin musim panas yang menerpa kota tua dengan pantai yang selalu berjiwa muda. Perbedaan yang kontras antara musim panas dan musim dingin ini sungguh sangat..indah dan so colorfull penuh warna ! banyak traveller menjuluki wilayah itu sebagai ’the region of contrast’..!
Sementara di lokasi utara lainnya mungkin hanya bisa menyaksikan lapisan es dan bioma ’tundra’ khas daerah dingin yang beku dan membosankan. Berkat arus hangat teluk yang membuat kawasan laut utara Norway tetap hangat dalam musim dingin sekalipun.
Di bulan Agustus ini, waktu siang di Tromso suhu berkisar antara 5 sampai 8 derajad Celsius. Kondisi ini cukup dingin bagi ’orang tropis’ sepertiku. Tapi aku sudah cukup beradaptasi di benua Eropa karena pernah bersekolah di Karlstad Sweden tahun 1999.
Namun, giliran malam tiba, suhu dingin mulai terasa menyiksa. Pada tengah malam suhu turun sampai beberapa derajad dibawah nol. Padahal kondisi lingkungan diluar kamarku sudah mulai terang. Matahari hanya tenggelam beberapa jam saja pada bulan bulan ini, dan terbit sekitar jam 02.30 pagi. Meski badanku sudah cukup beradaptasi pada dinginnya cuaca Eropa namun di Tromso ini, pada malam hari hidungku masih ’mimisan’ juga saking dinginnya.

Senin, 08 Maret 2010

Pertamakali Mengunjungi Norwegia





Pada bulan Agustus 2007 aku diundang oleh Lembaga Antariksa Norwegia-NorsRomcenter untuk mempelajari pemanfaatan citra satelit radar bagi pemantauan dan pengawasan keamanan laut. Karena hanya mendapat visa khusus mengunjungi Norway untuk waktu kunjungan selama 14 hari. Maka route pesawatku diharuskan terbang melalui negara netral yaitu Swiss (melalui zurich atau Geneva). Untunglah sebelumnya pada bulan April 2007 aku sudah pernah mengunjungi Swiss jadi untuk memasukinya suatu hal yang mudah bagiku.

Jadilah aku berangkat pada Sabtu Malam jam 23.05 dengan maskapai langgananku Emirates. Yang menurutku sangat pas dengan kantong ‘orang sekelasku’ disamping aku cocok dengan menu makanannya dan selalu ada petunjuk waktu Sholat dan arah kiblat walau sedang terbang di angkasa. Penerbangan dari Jakarta menuju Dubai sangat lancar, demikian juga penerbangan Dubai ke Zurich.

Ketika aku transit di Zurich penerbanganku selanjutnya agak tersendat karena ‘kelangkaan’ armada pesawat dan cuaca buruk. Terpaksa aku menunggu sekitar lima jam lagi di bandara Zurich. Namun karena aku sudah mengenal bandara Zurich ini aku bisa santai jalan jalan di sekitar bandara sambil menunggu pesawat yang membawaku ke Oslo tiba, walau waktu sudah cukup malam mendekati jam 21.00 waktu Zurich. Akhirnya mendekati jam 22.00 pesawatku tiba dan segera kami diperintahkan boarding.

Nah kali aku menggunakan maskapai SAS (yang termasuk jaringan STAR alliances bersama Emirates, Luftansa dll) dengan penerbangan regional dengan pesawat jet cukup kecil yaitu sejenis Avro RJ 85 Blue-1 berpenumpang 80-an orang, namun hanya diisi oleh 25-an orang penumpang.
Kabin pesawat mini-jet ini tergolong lega dan mewah, tak seperti pesawat-pesawat yang pernah kutumpangi sebelumnya. Kursi kursi di kabin pesawatnya lebar dan bersalut kulit asli warna biru yang cukup tebal seperti kelas binis pesawat biasa. Di masing masing kursi tersedia koran harian Swiss dan majalah SCANORAMA. Bersamaku penumpangnya kebanyakan para eksekutif yang bekerja secara ‘commuter’, di Swiss namun tinggal di Oslo atau kawasan Skandinavia lain. Pelayanan di SAS Blue-1 regional flight ini adalah ‘service charge’, kita kena charge apabila membutuhkan makanan dan minuman ringan. Semua penumpang pesan kopi, softrink atau makanan ringan lain, aku merasa malu kalau ga pesan apa-apa.
Dalam 2,5 jam perjalanan ini aku cuma pesan Orange juice kotak seharga sekitar 8 Franc Swiss (sekitar Rp. 65 ribu). Wah mahal juga nih, pikirku. Tapi, lumayanlah yang penting segera sampai di Oslo. Diluar cabin pesawat, suasana langit mulai remang remang seperti magrib, matahari segera tenggelam sekitar pukul 22.30 waktu setempat.

Kamis, 04 Maret 2010

Farewell Montreux


Pada hari terakhir symposium aku memilih kabur, tidak mengikuti upacara penutupan sekaligus ‘farewell party-nya’. Aku memilih jalan-jalan sendirian sambil nyari ‘souvenir’ di sekitar kota Montreux. Aku mencari minimarket yang berjualan aneka barang. Biasanya harga barang disitu lebih murah dibanding toko khusus souvenir.
Di toko 'MIGROS' ini aku menemukan souvenir seperti topi, kaos, stiker, gantungan kunci.payung dan puluhan postcard. Yah…oleh oleh standar..untuk kelas bawah sepertiku. Nah aku pun membeli barang barang aneh yang jarang dibeli orang tropis yaitu peralatan indikator cuaca seperti barometer, hygrometer dan thermometer. Tak lupa aku membeli juga perbekalan baru seperti roti kering, instant noodle dan softdrink.

Ketika aku giliran membayar di kasir, mereka memandangiku dari ujung kaki sampai rambut dengan ‘aneh’ padahal kasir inipun saya yakin seorang immigrant dari kawasan Timur Tengah. Terlebih aku cuma bisa sedikit bahasa Perancis. Mungkin dipikirnya aku ga bisa bayar seluruh belanjaan, ah.biarlah. Segera kubayar seperti tertera di 'cashier machine'. Dan segera berlalu dari toko itu. Mercy..mercy..bye..!

Aku sudah tak peduli lagi dengan acara 'farewell party' dan acara santai sebagai penutupan Envisat Symposium mulai 23 s.d 27 April 2007 itu. Hari sudah menjelang petang sekitar pukul 19.30 waktu Montreux. Aku segera balik ke stasiun Montreux untuk mengejar jadwal kereta gunungku ke Glion-Rocherz de Naye. Kerna kalau telat aku terpaksa keluar biaya ekstra untuk bayar taksi..wah bisa jebol kantongku. Malam terakhir di Glion aku Cuma duduk duduk di teras sambil memandangi sunset diatas danau Geneva. Matahari di Glion tenggelam sekitar jam 22.00 lebih, sekitar pukul 23.00 waktu setempat baru suasana terasa gelap gulita. Esok pagi pagi aku harus segera meninggalkan Glion dan Montreux untuk menuju Zurich.

Topografi Swiss


Hanya dengan berkereta dari Zurich menuju Geneva kita segera melihat bahwa topografi Swiss didominasi oleh tiga type topografis: Pegunungan Alpen Swiss, plato Swiss atau "middleland", dan pegunungan Juran yang ada di sepanjang perbatasan barat laut Perancis. Pegunungan Alpen adalah area gunung tinggi yang berada menyeberangi daerah selatan-tengah dari negeri itu. Di antara puncak-puncak yang tinggi adalah gunung Alpen, yang tertinggi adalah gunung Dufourspitze yang tingginya 4,634 meter, diketemukan lembah yang tak terhitung banyaknya dengan banyak air terjun dan glasier. Dari sinilah sumber dari sungai-sungai utama Eropa seperti sugat Rhine, Rhone, Inn, Aare dan Ticino yang akhirnya mengalir masuk ke dalam danau-danau Swiss terbesar seperti Danau Geneva, Danau Zurich, Danau Neuchatel dan Danau Constance.
Gunung yang paling terkenal adalah gunung Matterhorn (tingginya 4,478 m) dalam Pegunungan Alpen Valais dan Pennine di perbatasan Italian. Gunung tertinggi, Gunung Dufourspitze (4,634 m) atau Monte Rosa letaknya berdekatan dengan Matterhorn. Bagian dari Alpen Bernese di atas glasier Lauterbrunnen yang dalam terdiri dari 72 air terjun yang dikenal dengan Jungfrau (4,158 m), Mönch, kumpulan puncak Eiger, dan banyak pemandangan lembah di wilayah ini. Di daerah tenggara, Lembah Engadin yang panjang memotong area Gunung St Moritz di kanton Graubunden, yang cukup dikenal sedangkan puncak tertinggi di sini alalah puncak Gunung Piz Bernina (setinggi 4,049 m).

Senin, 01 Maret 2010

Patung Freddy Mercury


Hari-hari terakhir menjelang penutupan symposium banyak waktu bersantai,Aku sempatkan jalan jalan berkeliling di sekitar danau Geneva. Disekitar danau Geneva banyak sekali patung seniman terkenal diantara adalah patung Freddy mercury seorang pentolan grup music Queen.
Cukup banyak turis yang menziarahinya dengan memberinya rangkaian bunga bunga. Freddie Mercury adalah vokalis grup musik rock Queen asal Britania Raya.Mercury lahir pada 5 September 1946, di Stone Town, Zanzibar (Sekarang termasuk wilayah Tanzania, Afrika Timur). Nama aslinya ialah Farrokh Bulsara. Kawan-kawannya menjulukinya "Freddie". Akhirnya keluarganya memanggilnya Freddie juga.
Ia terlahir dari keluarga keturunan Parsi India (Zoroastrian). Orang tuanya adalah seorang Diplomat yang selalu berpindah-pindah, hingga akhirnya menjadikan Zanzibar sebagai tempat kelahiran Freddie Mercury.
Menjelang remaja mereka hijrah ke Inggris dan akhirnya mereka menetap di sana. Dalam dunia musik internasional, nama Freddie Mercury adalah salah satu Legenda musik Rock. Karya-karyanya termasuk musik abadi yang dapat didengar segala usia.
Menurut May, Mercury musisi yang berbakat sekaligus eksentrik. Freddie menulis lagu dengan kunci-kunci yang aneh. Kebanyakan band rock memainkan kunci A atau E, dan bisa D atau G, lain dengan musik Freddie yang mempunyai struktur chord yang aneh dan susah dimainkan dengan gitar. Dia dilahirkan dengan bakat dalam bidang seni yang luar biasa, sehingga tak ada satupun grup musik yang bisa menyaingi lagu-lagu beliau.
Grup musik Queen yang beranggotakan Freddie Mercury, Brian May, John Deacon dan Roger Taylor, pernah dinobati oleh majalah Rolling Stone, sebagai satu-satunya grup musik rock yang seluruh anggotanya bergelar Sarjana.
Montreux adalah salah satu kota peristirahatan favorit Freddy mercury kalau dia ingin mencari ketenangan. Dia memiliki sebuah apartemen di Teritet persis di tepian danau Geneva.
Dia menghabiskan bulan bulan terakhir hidupnya di Montreux.
‘Bila kau ingin kedamaian dan ketenangan, datanglah ke kota Montreux’ itulah kata katanya terakhir pada saat akhir hayatnya.
Dia digerogoti oleh penyakit AIDS meninggal pada 24 November 1991. Gaya hidupnya yang selebor, suka pesta dan bebas rupanya telah membunuhnya. ‘Too much love will kill you’ demikian kata May teman segroupnya.

Jumat, 26 Februari 2010

Montreux from Space


Berbagai provider satelit dalam pameran Envisat menampilkan kebolehannya memotret kota Montreux dari langit diantaranya adalah SPOT 5 satelit optical multispectral milik Perancis..

Kamis, 25 Februari 2010

Danau Geneva


Kalau jenuh dalam ruangan konvensi aku pergi ke tepian danau Geneva, duduk duduk sambil minum capucino di restoran perahu di tepi danau Geneva. Sesekali aku mengobrol dengan pemilik café di tepi danau Geneva tentang berbagai hal terutama pengamatannya tentang kondisi air permukaan danau. Penjaga kafe ini bercerita kalau danau Geneva permukaan airnya semakin surut bahkan mencapai 1 meter dan semakin kotor. Dari pengamatanku memang kondisi penguapan danau ini berubah drastis dan mengindikasikan kondisi panas yang melebihi kondisi normal.

Symposium Envisat di Montreux


Begitu tiba di stasiun Montreux saya segera bergegas mencari lokasi ‘Montreux Music and Convention Centre’ tempat berlangsungnya symposium di jalan Grand rue- yang berjarak sekitar 1,5 km dari stasiun Montreux. Sebelum berangkat ke Swiss saya sudah mengumpulkan banyak informasi tentang kota ini dari Google baik berupa peta dan berbagai informasi lain.
Bersama dengan kami ternyata banyak juga peserta yang baru tiba, segera kami berjalan kaki menuju lokasi symposium. Di kanan kiri jalan berjajar restorant, hotel atau toko yang memajang berbagai produk dari mulai fashion, elektronika dan arloji.
Gedung Montreux Convention Center tak sulit dicari, karena Symposium itu diadakan di Convention Center Montreux yang terletak di tepi danau Geneva. Sesampai di depan convention centre suasana sudah mulai ramai. Acara symposium ini merupakan event internasional terbesar di Montreux yang diselenggarakan oleh Swiss Space Agency bekerjasama dengan ESA-European Space Agency. Banyaknya peserta asing membuat acara itu dijaga cukup ketat oleh security panitia symposium dan satuan polisi setempat. Hal itu adalah pemandangan wajar setelah peristiwa New York 911 bahkan di Swiss Negara yang terkenal aman dan damai. Segera saya melakukan registrasi ke panitia. Rupanya peserta dari Asia tak banyak yang diundang. Hanya beberapa Negara Asia yang mengirim utusan diantaranya Jepang, China, Indonesia dan Vietnam.
Setiap selesei atau break acara symposium, saya mengunjungi salah satu stand pameran atau mengobrol dengan penjaga stand pameran atau berdiskusi dengan peserta symposium dari negara-negara lain. Dalam forum Envisat ini saya mendapatkan banyak relasi dari berbagai institusi pengindraan jauh, provider satelit dan berbagai lembaga penelitian berkaitan dengan observasi bumi. Salah satu yang intensif adalah dari Kongsberg Satelilite Service-KSAT yang menyediakan layanan pemantauan kapal dan pemantauan pencemaran minyak dengan memanfaatkan satellite radar Envisat. Stand lain diantaranya Thelys-Italia, Digital globe, Spot image, DLR dan berbagai universitas yang memiliki riset resmote sensing dan GIS
Dalam forum symposium Envisat ini dipajang miniatur berbagai macam satelit Envisat ENVISAT untuk berbagai misi diantaranya misi maritime surveillance satellite system membutuhkan satelit yang mampu merekam secara near real time (NRT) Envisat.
Envisat merupakan satelit milik ESA-European Space Agency dengan misi observasi atmosfer, kelautan, daratan dan lapisan es. Data satelit Envisat dipakai untuk mendukung riset kebumian dan berperan dalam monitoring perubahan lingkungan dan iklim global.

Hari kedua Symposium, aku kembali lagi ke arena symposium dan bertemu salah satu professor dari badan antariksa Jepang (JAXA-Japan Aerospace Agency). Kami saling memperkenalkan diri dan menceritakan proyek penelitian masing masing. Dari professor ini aku dapat beberapa masukan dan kontak tentang badan antariksa dan satelit ALOS-Advance Land Obeservation Satellite , satelit radar milik Jepang
Dalam ruang komisi di Symposium Envisat itu aku juga ikut beberapa presentasi tambahan tentang pemanfaatan satelit untuk penelitian plankton di sekitar Laut China Selatan. Kebetulan aku pernah melakukan penelitian yang serupa pada tahun 2003 bekerja sama dengan START Washington dan SARCS Regional Committee di Taiwan.
Dalam Symposium Envisat ini juga ada pameran sehingga banyak stand pameran yang ditampilkan mulai dari berbagai provider satelit spot, quickbird, envisat dll. Salah satu stand yang sesuai dengan misi lembaga kami adalah stand KSAT yang menampilkan layanan deteksi pencemaran minyak dan deteksi kapal melalui satellite. Kami banyak bertanya dan dilayani dengan sangat ramah oleh Tone Schonberg. Saya coba meminta contoh layanan satellite track di atas wilayah Indonesia.

Selasa, 23 Februari 2010

Siang di Montreux



Suasana siang di kota kecil Montreux

Pagi di Montreux Swiss



Suasana jalan Grand rue Montreux di depan arena Symposium..!

Kereta di Glion Swiss



Danau Geneva dari dalam kereta gunung Glion Rocherz de naye..!

Pagi di Glion Swiss



Suasana pagi di stasiun kereta Glion..dari jauh terlihat pemandangan danau Geneva dan gunung Alpen..!

Sunset di Glion Swiss



Sunset dari belakang teras hotel...menghadap danau Geneva...!

Glion-Rochers de Naye Swiss



Hari pertama Envisat Symposium aku datang langsung dari Geneva dengan membawa semua barang 1 buah tas ‘trolly’, tas computer, satu ransel dan dapat satu lagi tambahan sebuah ransel dari panitia symposium.
Saat coffee break symposium hari pertama aku menyusuri jalan Grand de Rue mencoba cari hotel disekitar kota Montreoux. Sialnya, hampir semua hotel di kota Montreux sudah ‘fully book’’ terisi oleh delegasi symposium dari seluruh dunia. Kemudian aku bertanya ke pada ‘Ms.Enrica catelli’ dari dinas pariwisata dan touris Montreux yang membuka stand pameran pada arena symposium.

Dia menyarankan aku mencari hotel di kawasan pegunungan di dekat Montreoux yaitu di kawasan Glion atau Rochers de Naye. Setelah kucari di buku hotel guidance’ kutemukan beberapa hotel yang sesuai dengan budgetku
…Kemudian kutelpon..
‘Bonjour…’
‘Halo saya peserta symposium dari Indonesia.’.
‘Apakah masih tersedia kamar di hotel ini..untuk satu orang single
‘Ok sir..! satu kamar untuk single dengan tariff USD 88 perhari atau sekitar 140 Swiss Franc..masih tersedia..’
‘Apakah anda memiliki kartu kredit’ ..
‘Ya ..ada’ ..kemudian mereka meminta nomor kartuku..
‘Ok.. sir !, Kami akan check dulu…kartu anda’ ‘Silakan telpon kami 30 menit lagi’ ‘Mercy-mercy !’.
Akhirnya kudapatkan hotel ‘des Alpes’ di Glion De Naye yang berjarak sekitar 9 km dari kota Montreux. Kota Glion tempatku menginap berada di atas gunung dengan ketinggian sekitar 2042 meter diatas muka laut.
Glion-Rochez de naye adalah kota kecil diatas pegunungan Alpen yang memiliki banyak hotel-hotel kecil. Pemandangan kota Montreux dengan danau Geneva-nya dan gunung Alpen sangat indah dilihat dari kota kecil ini.
Pikirku, kota ini lebih cocok dipakai berlibur untuk ‘honey moon’ dibanding untuk petualang riset seperti yang sedang kujalani. Sebelum pulang ke hotel aku berbelanja makanan di minimarket untuk persediaan selama menginap di Glion de Naye. Kerna belum tau transport yang murah (kereta) maka terpaksa aku harus keluar biaya ekstra untuk menyewa taksi..sebuah minivan ‘Mercedes Viano’..dengan tariff hampir 40 Swiss franc.

Di Glion aku bertemu beberapa turis dari Jepang, namun mereka agak tertutup dan menjaga jarak dengan sesama tourist dari Asia. Satu hal yang mengasyikkan selama tinggal di Glion adalah perjalanan menuju dan pulang dari Rochez de naye dengan kereta sangat mengasyikkan karena dilayani kereta khusus dengan ‘rel bergerigi’ karena kondisi jalan yang menanjak tajam, melewati hutan dan beberapa terowongan pendek dan bukit bukit di atas kota Montreux.
Dalam beberapa kali perjalanan antara Montreux- Glion aku bertemu beberapa turis ABG Amerika yang kelihatannya sedang berlibur sambil belajar bahasa Perancis di kota itu.

Rabu, 17 Februari 2010

Nginap Gratis di Swiss


Esoknya pagi pagi kami segera berangkat menuju kota Montreux dengan kereta. Jarak Geneva ke Montreux kira kira 4 jam perjalanan, waktu yang cukup untuk merampungkan bahan bahan presentasiku di Symposium tsb. Suasana dalam kereta dari Geneva waktu itu cukup sepi, penumpangnya sangat jarang tak seperti kondisi penumpang kereta di negeriku yang selalu berjubel bahkan tak jarang ada yang bertengger diatap kereta.

Dalam perjalanan menuju Montreux itu, aku duduk sendirian terpisah dengan teman lain dari Indonesia. Kemudian dari stasiun pertama berhenti sebelah timur Geneva naiklah penumpang seorang ibu. Kemudian dia duduk di kursi di depanku. Melihatku kelihatan sibuk bekerja dengan laptop, dia terseyum ramah. Mungkin dia melihatku sebagai orang ’Asia aneh’ yang jarang ditemui di Geneva
Lalu kuhentikan kerjaku dan menyapanya!
‘Bonjour madam’, Hallo- selamat pagi’ sapaku.
‘Eeeeh, hallo, Selamat pagi juga’. Ibu itu tersenyum, melihatku kelihatan asing dan sepertinya baru datang dari perjalanan jauh. Kerna disebelahku banyak perbekalan satu tas komputer, ransel dan sebuah tas trolley cukup besar.

’Kamu dari mana’ tanyanya.
‘Saya dari Indonesia !’
‘Apakah anda tahu dimana posisi Indonesia’ ,tanyaku kepadanya.
Dia diam kelihatan berpikir sebentar. Tak jarang saya harus mengubah beberapa istilah dalam percakapan itu dengan bahasa yang gampang di mengerti baik itu dalam bahasa Jerman atau Perancis.
‘Negeri kami disebelah selatan Singapore kira kira 12 jam terbang dari Zurich’, jelasku. ’Ach so’,..dia baru paham..
‘Saya dari Lucerne ..sebelum..Montreux ,
‘Iya..saya tahu sedikit tentang Asia tenggara, saya punya anak perempuan yang sekarang ini bekerja di Philipina..
‘Apakah ini pertama kalinya kamu ke Swiss’ .
‘Ya’, jawabku …. Tapi sebelumnya tahun 1999-an saya pernah bersekolah di Karlsruhe dekat Basel-Swiss’’, jelasku.
.’Oo…,bagus..kalau begitu’,
‘Apakah kamu sudah berkeluarga’,tanyanya.
’Iya, sudah, Saya menikah dan punya 2 putri kecil.yang lucu’, jawabku menjelaskan.
‘Ada keperluan apa kamu ke Montreux’,
‘Kami sedang menghadiri undangan dari Badan Antariksa Swiss dan ESA untuk Symposium pemanfaatan satellite untuk pemantauan kualitas lingkungan seperti kebakaran hutan atau pencemaran di laut’’ jelasku.

‘Oooo begitu, pantas .sejak beberapa minggu lalu saya melihat kesibukan dinas pariwisata ..mempersiapkan ..acara besar di pusat pameran di Montreoux’ , jelasnya.
‘Dimana kamu bermalam’
‘Belum tahu, nanti kami cari segera sesampainya di Montreux’
Dia tersenyum kemudian berkata lagi:
‘Begini, apabila kamu percaya akan Yesus,
maka kamu boleh menginap di rumahku...gratis..tanpa membayar
atau kamu akan banyak mendapat bantuan mendapatkan tempat bermalam disana,’ katanya menawarkan.

Aku tercenung sejenak mendengar ucapannya terakhir.
Segera aku menjawab ’Terimakasih. Sebenarnya dalam kepercayaan kami, kami juga percaya akan Yesus sebagai rosul dan utusan sebagimana Muhammad, Musa, Yusup, Adam dll dan Allah-lah Tuhan kami,’ saya menjelaskan padanya
Ibu itu langsung terdiam, dan tidak mengajak aku bercakap lagi sampai di Lucern ibu itu turun dan mohon pamit.
‘Selamat jalan ya, Salam buat teman-teman dan keluargamu ‘, katanya berpamitan.
‘Baik…! akan saya sampaikan kepada mereka terimakasih-Mercy, bye !

Selasa, 16 Februari 2010

Berkelahi di Geneva


Setelah check in di hotel Warwick dekat stasiun kereta Geneva, dan menaruh semua barang barang di kamar ! Kami segera keluar sebentar melihat suasana malam sambil mencari makan malam di sekitar stasiun kereta Geneva.
Tak jauh dari stasiun kereta Geneva, ada beberapa orang duduk duduk sambil merokok, kami mendekati mereka bermaksud bertanya. Suhu malam itu terasa sangat dingin bagi kami pendatang dari ’tropis’ ini. Suhu sekitar 12 derajad celsius membuatku agak menggigil. Kawanku segera mengeluarkan cigaretee
‘Smoking Sir,’ seorang negro menawarkan api kepada rekanku, namun tangan satunya bergerilya berusaha meraih dompet dari balik jaket kawanku.
‘Eeeeeiiiiit…you’re pickpoket’ .
Dengan reflek cepat kawanku menyikut dada penjambret itu dengan keras, ’Dueeeegg’, pria negro itu jatuh hingga terjengkang.
Sejurus kemudian pria di dekatnya mengeluarkan pisau lipat Swiss, namun belum sempat beraksi , dengan sigap dan sangat cepat kawanku segera menendang perutnya : ‘deeesss’ dia terjatuh sambil meringis memegangi perutnya..
‘Somebody… call the police’ aku berteriak berusaha menarik perhatian orang-orang di dekat kawasan itu.Namun tak ada tanggapan..ternyata orang orang di sekeliling itu mungkin termasuk komplotan ’penjembret Geneva’. Mereka segera kabur dan bubar, 2 diantaranya meringis kesakitan sambil memegangi perutnya dan dadanya.
Rupanya malam itu mereka telah salah sasaran dan kena batunya karena korbannya adalah ‘orang asing’ anggota ‘coast guard Indonesia’- yang biasanya anggota marinir TNI AL atau polisi senior jago bela diri.
Kota Geneva memang terkenal sebagai kota internasional multikultural sejak lama. Semua bangsa dan warna kulit ada di kota ini. Tapi banyaknya para imigran yang multiras mendatangkan masalah tersendiri bagi suatu negara. Tidak di Eropa, Amerika atau Asia, banyak imigran Afrika yang sering menimbulkan masalah di negeri orang baik itu terkait narkotika, pemalsuan uang dan tindak kriminal antar negara lainnya.
Akhirnya kami membatalkan cari makan malam diluar, karena sudah sangat larut dan semakin dingin. Kami menghindari kemungkinan komplotan ’penjambret Geneva’ itu mengeroyok kami dengan jumlah yang lebih besar.
Kami balik ke hotel dan makan roti ‘ bekal’ dan mie gelas plus telur asin yang dibawain istri saya. Kebiasaanku yang selalu saya bawa bekal kalau pergi keluar negeri ! Ternyata bekal itu menyelamatkan kami dari kelaparan di Geneva malam itu.

Undangan dari Swiss


Pagi itu di meja kerjaku ada kiriman sebuah amplop ukuran A4 dari Perancis. Setelah kubuka isinya ternyata majalah SPOT Magazine berisi ulasan berbagai sarana observasi bumi dengan satelit. Mataku tertumbuk pada salah satu poster iklan dari ESA-European Space Agency tentang Envisat Symposium dan pameran satelit di Montreux, Switzerland April 2007.
Siang hari ketika aku dipanggil atasanku untuk suatu proyek kerjasama dengan Negara lain, saya beri laporan perihal symposium tentang observasi bumi, pemanfaatan satelit radar untuk deteksi kapal dan pencemaran lingkungan.
‘Ah, acara symposium internasional seperti itu sih biasa…!
Baru luar biasa, kalau kau bisa mendapatkan undangan presentasi
dalam forum tsb’, tantang atasanku’. ‘Siap pak, akan saya coba’.

Aku bergegas kembali ke meja kerjaku dan segera mengirim e-mail kepada panitia Envisat Symposium dan menceritakan perihal penelitian yang pernah kulakukan beserta misi dan visi lembaga kami kepada mereka. Tak sampai seminggu panitia symposium telah membalas dengan memberikan 2 undangan untuk hadir dan presentasi poster dalam acara tsb.
Setelah semua urusan ijin, visa dll beres kami segera berangkat menuju Montreux dengan pesawat Emirates via Dubai dan Zurich. Dari Zurich kami naik kereka menuju Geneva, sampai Geneva hari sudah malam sekitar jam 21.30 waktu setempat. Tak ada lagi kereta menuju ke Montreux. Segera kami mencari tempat menginap di sekitar stasiun kereta Geneva.

Senin, 15 Februari 2010

Satelit MODIS


MODIS -Moderate resolution Imaging Spectroradiometer-, adalah satelit untuk monitoring lingkungan global, seperti monitoring potensi dan dampak bencana alam, dan pengamatan cuaca di wilayah perairan. MODIS adalah salah satu instrument utama yang dibawa Earth Observing System (EOS) Terra satellite, yang merupakan bagian dari program antariksa Amerika Serikat, National Aeronautics and Space Administration (NASA). Program EOS merupakan program jangka panjang untuk mengamati, meneliti dan menganalisa lahan, lautan, atmosfir bumi dan interaksi diantara faktor-faktor ini. MODIS mengorbit bumi secara polar (arah utara-selatan) pada ketinggian 705 km dan melewati garis khatulistiwa pada jam 10:30 waktu lokal. Lebar cakupan lahan pada permukaan bumi setiap putarannya sekitar 2330 km. MODIS dapat mengamati tempat yang sama di permukaan bumi setiap hari, untuk kawasan di atas lintang 30, dan setiap 2 hari, untuk kawasan di bawah lintang 30, termasuk Indonesia.

COSMOSkymed


COSMO-Skymed (Italia)
COSMO-SkyMed-(Constellation of small Satellites for the Mediterranean basin Observation adalah satelit observasi bumi yang dimiliki oleh Kementrian Pertahanan dan Riset Italia yang dioperasikan oleh lembaga antariksanya (ASI) untuk keperluan militer dan sipil. Satelit ini terdiri atas empat buah satelit ukuran medium yang dilengkapi dengan sensor SAR-synthetic aperture radar (SAR). Satelit ini mengorbit daerah target dalam segala cuaca beberapa kali dalam sehari. Citra yang ditampilkan satelit ini digunakan untuk kepentingan keamanan dan pertahanan Italia, atau membantu negara lain diantaranya untuk analis bahaya kegempaan, memantau kerusakan lingkungan dan pemetaan pertanian.

Lomba Satelit


Bencana polusi minyak di kawasan Timor Gap ternyata memicu berbagai provider satelit untuk menawarkan jasa observasi dan monitoring pergerakan tumpahan minyak. Bencana ini seakan menjadi ajang adu keakuratan dan kecepatan pencitraan pencemaran minyak di laut lepas tsb.

Beberapa satelit radar dan satelit sensor optical multi-spectral belomba mencitrakan pencemaran tumpahan minyak yang tergolong mahadasyat itu. Lokasi lapangan minyak Montara yang sangat jauh memerlukan wahana khusus untuk memantaunya, kondisi itu diperankan dengan baik oleh beberapa satelit observasi bumi seperti beberapa satelit radar COSMO-SkyMed (Italy), TerraSAR-X (Germany) and ENVISAT (European Space Agency).
Wahana radar via satelit ini telah membuktikan kemampuannya dalam mendeteksi tumpahan minyak dipermukaan laut tanpa terhalang oleh kehadiran awan. Sekaligus memberikan laporan kharakterisktik temporal dan spasial termasuk prediksi pola pergerakannya. Pada saat langit cerah citra tumpahan minyak juga berhasil diabadikan oleh satelit resolusi sedang dan rendah MODIS Terra dan Aqua milik USA.

Satelit yang dilengkapi sensor SAR-Synthetic aperture radar akan memancarkan sinyal microves yang dipantulkan oleh obyek sebagai ‘backscattered’ dengan intensitas yang berbeda beda tergantung obyeknya. Tatkala minyak membentuk sebuah lapisan tipis di permukaan laut, maka minyak akan menghalangi pantulan gelombang-gelombang microvave tsb sehingga akan tampak citra lebih gelap pada layar monitor. Perbedaan sebaran dari areal yang memantulkan gelombang microvaves, satelit radar dapat mendeteksi lapisan tumpahan minyak, posisi, ukurannya.

Apabila citra tumpahan minyak dikombinasikan dengan citra arah angin dan arus laut maka pola pergerakan lapisan minyak tsb dapat diteruskan kepada pihak yang berwenang. Pemakaian satelit-satelit lintas kutub (Polar Orbit) dengan teknologi ASAR-Advance sytnthetic aperture radar, sebenarnya dapat mendeteksi tumpahan minyak di permukaan laut. Setelah dikombinasikan dengan sensor seperti AIS-Automatic Identification System yang terpasang obyek dilaut seperti kapal atau rig eksplorasi minyak dilepas pantai, kita dapat melacak siapa dan kemana sumbernya bersembunyi.

Berdasarkan teknik yang sama seperti pemantauan tumpahan minyak, pendeteksian rembesan minyak mentah (hydrocarbon) dari dasar laut mungkin saja terjadi. Hidrokarbon yang berada di bawah permukaan laut bisa saja mengalami kebocoran pipa atau kapal dari dasar laut, dan keluar membentuk lapisan minyak di permukaan laut. Gelombang-gelombang gas yang dikelilingi oleh minyak dapat muncul ke permukaan melalui ledakan-ledakan gelembung dalam air. Lalu akan memunculkan lapisan minyak yang kecil dan tipis (film).

Areal wilayah alami tersebut diketahui terjadi dari waktu ke waktu dalam cadangan-cadangan minyak yang potensial, frekuensi dan jumlah rembesannya juga berbeda-beda. Hal ini umumnya hanya menarik bagi perusahaan – perusahaan minyak, yakni melakukan pencarian minyak di ladang-ladang samudera yang baru atau sebagai pendukung terhadap kegiatan eksplorasi lainnya yang ada di wilayah tersebut. Teknik ini pula yang telah dipakai oleh PTTEP untuk menemukan cadangan minyak di celah Timor diantara kawasan blok segitiga Indonesia, Timor Leste dan Australia.

Beberapa negara mulai berlomba meluncurkan satelit-satelit pemantau untuk keperluan pertahanan dan riset disamping memantau berbagai aktivitas lingkungan di bumi seperti pencemaran di laut. Beberapa satelit tsb diantaranya: Envisat, Terra SAR-X, Spot, Radarsat, Modis dan Cosmo-Skymed.

Polusi Timor Gap


Bencana polusi minyak di kawasan Timor Gap ternyata memicu perlombaan provider satelit untuk menawarkan jasanya dalam keakuratan dan kecepatan pencitraan pencemaran di laut lepas tsb. Sebagian provider satelit mengkategorikan bencana di Timor Gap itu sebagai ‘picture of the month’ dan mungkin segera menjadi ‘picture of the year’ sebagai ‘deadly beautiful picture’ -gambar cantik yang mematikan’ dari langit.

Suatu bancana ekologis besar tengah berlangsung di jurisdiksi tiga negara bertetangga yaitu Australia, Timor Leste dan Indonesia. Peristiwa itu dimulai pada 21 Agustus 2009, sebuah rig minyak bernama ‘The West Atlas’ milik Seadrill - yang dikontrak oleh PTTEP Australasia (perusahaan multinasional milik mantan PM Thailand Thaksin Sinawatra) dan berada di 690 kilometer dari Kota Darwin, Australia mengalami kecelakaan. Dalam proyek eksplorasi minyak lepas pantai terbesar kedua di Australia bernama Blok Montara gagal dalam melakukan –snubbing- penutupan lubang pengeboran sehingga minyak dari dasar laut sedalam kurang lebih 2,6 kilometer itu meluber menyembur keluar dan mengotori Laut Timor. Diprediksi sejak 21 agustus 2009 sebanyak lebih dari 2,000 barrel minyak perhari meluber keluar air laut dan menggenangi kawasan seluas 6,000 kilometer persegi. Kemudian pada 29 September 2009 tumpahan itu mulai mendekati wilayah Indonesia dengan posisi sejauh sekitar 50 mil dari batas wilayah perairan laut antara Indonesia-Australia dan terus bergerak mengikuti arus laut.

Rabu, 10 Februari 2010

Jalan Tol dan Polusi


Rabu, 06 September 2006

Tol Dalam Kota Menambah Polusi

Kadar ozon di Jakarta sejak 1999 sampai 2005 menunjukkan peningkatan.


JAKARTA -- Rencana pembangunan enam ruas jalan tol di dalam kota dikhawatirkan akan meningkatkan polusi udara,terutama kabut ozon permukaan. Pasalnya, menurut Direktur Indorepro Rudi Wahyono, ruas-ruas jalan tol yang dibangun tinggi di atas tanah akan menghalangi aliran angin atau berfungsi seperti perbukitan.

''Dengan adanya ruas tol yang tinggi tersebut kabut asap fotokimia atau ozon permukaan akan terjebak atau minimal tertahan di sekitar ruas jalan tol. Dengan kata lain, pembangunan ruas tol baru akan menciptakan smog trap atau haze trap yang membuat warga Jakarta akan semakin terpapar oleh berbagai polutan yang terkandung dalam polusi udara,'' ujar Rudi, disela-sela diskusi tematik Strategi Penurunan Polusi Udara di Perkotaan, di Jakarta, Selasa (5/9).

Menurut pengamatannya, kadar ozon permukaan di Jakarta sejak tahun 1999 sampai 2005 menunjukkan peningkatan. Itu menunjukkan program pengurangan emisi sebagai precursor atau bahan mentah terbentuknya ozon permukaan (dari transportasi dan industri) yang dilakukan pemerintah, belum berhasil alias gagal.

Di Jakarta, kabut ozon foto kimia tampak terlihat jelas ketika seseorang sedang 'take off' dengan pesawat terbang dari Bandara Soekarno Hatta-Cengkareng sampai batas awan terendah. Kondisi bahwa udara Jakarta sudah mulai terpapar kabut ozon, dapat diketahui bila warga mengalami gejala- gejala mata pedas, keluar air mata, nafas serasa tercekik, hidung berair serta batuk-batuk terutama sewaktu terjebak macet dibawah terik matahari.

''Waspadalah karena tanda-tanda itu merupakan gejala polusi 'kabut ozon' akibat polusi udara di Jakarta. Ini sangat berbahaya dan harus dihentikan,'' tutur Rudy yang juga kepala Divisi Energi, Kelautan dan Lingkungan Center for Information and Development Studies (CIDES).

Kabut ozon itu berasal dari berbagai polutan kendaraan, industri atau pabrik, pembakaran sampah, uap bensin serta zat-zat hidrokarbon yang terlarut dalam udara). Dalam kabut asap di dekat permukaan tanah itu bereaksi satu sama lain menghasilkan jenis pencemar baru yang lebih berbahaya. Reaksi ini dapat terjadi secara otomatis ataupun dengan bantuan katalisatori sinar matahari.

Senyawa pencemar baru hasil reaksi fotokimia itu dikenal sebagai kabut asap fotokimia. Kabut ozon fotokimia itu sering dijumpai di Kota Metropolitan. Secara kolektif polusi itu lebih dikenal sebagai ozon permukaan, karena zat itulah yang paling dominan dan paling mudah diukur dengan menggunakan ozon analyzer.

Ketua Kelompok Kerja Transportasi Kaukus Lingkungan, Tubagus Haryo Karbiyanto, mengungkapkan, potensi pertambahan polutan akan terus terjadi. ''Sebanyak 70 persen polusi udara berasal dari kendaraan bermotor,'' ujarnya. Dia juga melihat langkah pemerintah menurunkan polusi belum optimal. Contohnya, belum adanya regulasi tegas dari pemerintah pusat maupun daerah untuk membatasi kepemilikan kendaraan.

Di sisi lain, kendaraan publik yang tersedia sudah tidak layak. ''Banyak kendaraan publik, semisal bus atau angkot yang tidak lolos uji emisi. Solusinya tidak hanya pergantian armada. Tapi juga pelayanan dan keamanan, supaya warga tidak beralih ke kendaraan pribadi,'' paparnya. Rudi menambahkan, faktor utama untuk mengurangi dan mencegah pencemaran ozon adalah dengan mengurangi pemakaian bahan bakar fosil (BBM dan batubara).

Berdasar penelitian JICA dan Pusarpedal (1999) beberapa kawasan yang rawan pencemaran kabut ozon permukaan adalah Pluit, Jakarta Utara, Pulogadung, Jakarta Timur, terkadang kawasan Jl Thamrin-Jakarta Pusat. Nilai tertinggi polusi ozon permukaan tercatat di kawasan Puspitek Serpong.zak

Fakta Angka

70 persen
Polusi udara yang berasal dari kendaraan bermotor

Pengolah Emisi CO2


Jakarta, 6 Mei 2009 Pabrik pemurnian emisi CO2 pertama dan
terbesar di Indonesia secara resmi dimulai produksinya, Rabu (6/4). Peresmian pabrik dilakukan di Hotel Grand Hyatt, Jakarta, yang
dilanjutkan dengan Seminar Nasional "Implementasi Pengurangan Emisi Karbondioksida Sebagai Upaya
Mitigasi Global Warming".

Pabrik bernama PT RMI Krakatau Karbonindo yang berlokasi di Cilegon ini, berhasil melakukan `capturing'
dan `refinering' emisi CO2 dari limbah buang PT Krakatau Steel. Teknologi yang digunakan berasal dari
Union Engineering-Denmark. "Pendirian pabrik ini merupakan realisasi seminar United Nations
Framework for Climate Change Conference (UNFCCC) di Bali tahun 2007 dan Kyoto Protocol," ujar Dirut PT
RMI Krakatau Karbonindo, Rohmad Hadiwijoyo.

Rohmad yang juga Direktur Eksekutif CIDES ini menjelaskan, sejak beberapa tahun lalu CIDES melalui
perusahaan binaannya, PT RMI Krakatau Karbonindo, berinisiatif melakukan penerapan teknologi carbon
capture. Langkah tersebut dilakukan sebagai upaya nyata mitigasi global warming. "Sejak beroperasi
pertengahan April 2009, PT RMI Krakatau Karbonindo berhasil melakukan pemurnian emisi CO2 sebesar 3
ton/jam atau 72 ton/hari. Kapasitas produksi dapat ditingkatkan lagi hingga 18 ton/jam, disesuaikan
dengan bahan baku yang tersedia dan perkembangan konsumsi CO2 murni di Indonesia," papar Rohmad.

Industri pemurnian CO2 tidak saja memberi kontribusi pada penyelamatan lingkungan, namun dari segi
ekonomi memiliki daya jual yang sangat tinggi. Produk akhir pabrik berupa CO2 murni standard food grade
ini sangat diperlukan oleh berbagai jenis industri. Dalam industri makanan dan minuman, misalnya. CO2
murni digunakan untuk pembuatan minuman berkarbonasi, pengawetan makanan serta perikanan dengan dry
ice, pemutihan gula, pembuatan rokok dan masih banyak lagi. CO2 murni ini juga bisa digunakan dalam
industri manufacture pengelasan, pemutihan kertas, fumigasi pada sektor pertanian ataupun serta
secondary oil recovery.

Saat ini kebutuhan CO2 murni di Indonesia mencapai 250 ton perhari. Hanya saja, C02 murni yang dihasilkan
masih menggunakan bahan baku dari minyak bumi, sehingga harga jual CO2 murni menjadi mahal. "Berbeda
dengan CO2 murni yang dihasilkan PT Krakatau Karbonindo. Selain, bahan baku diambil dari limbah emisi
CO2 yang bila tidak diolah akan mengakibatkan pencemaran, harga yang ditawarkan pun menjadi jauh lebih
murah," kata kandidat Doktor Lingkungan Universitas Diponegoro, Semarang ini.

Terbukti, banyak perusahaan yang berminat membeli produk CO2 murni produksi PT RMI Krakatau Karbonindo.
Saat ini PT RMI Krakatau Karbonindo telah menandatangi kontrak pemasaran dengan PT Iwatani Industries
Jepang, Perusahaan minuman berkarbonasi, serta PT Molindo Inti Gas. "Beberapa perusahaan lain juga
telah memesan CO2 murni kepada kami. Namun, karena produksi sudah habis terjual, maka kami tidak belum
bisa memenuhi pesanan mereka," tambah Rohmad. Diharapkan dengan pembangunan pabrik kedua dan ketiga
yang segera dilakukan mulai tahun depan, tingginya kebutuhan CO2 murni di Indonesia bisa segera terpenuhi.

Untuk lebih mendukung upaya pengolahan limbah CO2, PT RMI Krakatau Karbonindo juga melakukan
penandatanganan nota memorandum of understanding (MoU) assesment dan pengembangan potensi Clean
Development Mechanism (CDM) di Indonesia dengan Eco-Securities. Clean development mechanism
bertujuan mengurangi emisi gas rumah kaca untuk memperlambat pemanasan global.

Berdasarkan data Eco-Securities, baru beberapa proyek dari sejumlah industri nasional yang terdaftar
dan dalam proses sertifikasi (Certified of Emission Reduction/CER) dari Executive Board Lembaga CDM di
Uni Eropa. Industri yang melakukan sertifikasi akan mendapatkan keuntungan berupa kompensasi sebesar
5 -10 dolar AS dari pengurangan CO2 setiap tonnya. "Sesuai Kyoto Protocol bahwa setiap upaya negara
berkembang untuk mereduksi gas rumah kaca akan mendapat kompensasi dana dari negara maju yang membeli
sertifikat CER," imbuh Dirut RMI Group ini.

Keberhasilan PT RMI Krakatau Karbonindo sebagai pioneer pemurnian gas CO2 merupakan contoh sukses bagi
industri nasional ditengah kelesuan ekonomi dunia saat ini. Melihat keberhasilan itu Copenhagen
Climate Council mengundang Rohmad Hadiwijoyo sebagai peserta kehormatan dalam World Business Summit
on Climate Change : Shaping the Sustainable Economy di Kopenhagen 24-26 Mei 2009 serta dinominasikan
menjadi best pratices mitigasi Global Warming dari Indonesia dalam forum COP UNFCCC-Convention of
Parties United Nations Framework for Climate Change Conference di Kopenhagen Denmark December 2009.

Sekilas PT RMI
PT Resources Jaya Teknik Management Indonesia (PT RMI) merupakan salah satu industri perminyakan yang
berdiri pada tahun 1970. PT RMI merupakan perusahaan dengan bisnis utama di industri perminyakan,
seperti jasa konstruksi, pemeliharaan fasilitas produksi minyak dan gas, pengeboran panas bumi, serta
energi ramah lingkungan. Saat ini RMI memiliki beberapa anak perusahaan, yaitu:
• PT Daya Alam Tehnik Inti (DATI) dan PT Roda Drilling Nusantara (RDN) yang bergerak dalam bidang pengeboran.
• PT Parwa Nusantara Technology dengan bisnis utamanya informasi tehnologi dan perhotelan.
• PT RMI Krakatau Karbonindo yang bergerak dalam bidang pemurnian Karbondioksida (CO2).
Pada industri perminyakan dan pengolahan tenaga panas bumi (geothermal), PT RMI telah sukses menangani
lebih dari 100 proyek. Sebagian besar proyek tersebut berlangsung di tempat yang sulit dijangkau dan
terpencil. Jalur logistik yang ada pun sukar ditempuh. Pegunungan tinggi, rawa dan kondisi iklim yang
ekstrim merupakan hal yang lazim dihadapi. Selama kurun waktu 1973-2000, PT RMI telah mempekerjakan
4.000 hingga 14.000 tenaga kerja Indonesia dan mengoperasikan lebih dari 100 macam peralatan kontruksi
dalam proyek-proyeknya. Beberapa proyek di industri perminyakan dan geothermal yang sukses ditangani
PT RMI diantaranya proyek dari Caltex, Pertamina, Karaha Bodas Company, Amoseas Indonesia Inc,
Petromer Trend Corporation, Atlantic Richfield Indonesia Inc, Chevron (Texmaco), Unocal, Exxon
Mobile, Arco Conoco, Gulf, Philips serta Total and Petromer Trend.
Sejumlah proyek lain yang dikerjakan diantaranya, servis enginering dan perawatan untuk PT Petrokimia
Nusantara Interindo Polyethene plant di Cilegon, servis perawatan lahan untuk lahan minyak Santa Fe
Energy Reaources Jabug, pengawasan operasi anjungan lepas pantai Kodeco di selat madura dan perawatan
alat berat di empat lokasi tambang utama PT Trakindo Utama di seluruh Indonesia. Visi dan misi PT RMI saat
ini adalah mewujudkan industri ramah lingkungan melalui renewable energy dan clean energy. Renewable
energy diwujudkan dengan pengeboran panas bumi untuk pembangkit listrik, di Lumut Bale (Sumatera
Selatan), Kemojang (Jawa Barat), Lahendong (Sulawesi Utara) serta Tampomas (Jawa Barat). Sementara,
clean energy diwujudkan dengan pengoperasian pabrik pengolahan emisi CO2 di Cilegon, Jawa Barat.

Rabu, 03 Februari 2010

KM Bukit Raya



KM BUKIT RAYA

Proyek riset South China Sea Carbon Cycle menuntut pengambilan sampel di sekitar laut China Selatan yang berada di wilayah perairan Indonesia. Karena Pusat Kajian Sumberdaya Pesisir dan Lautan- PKSPL IPB tidak memiliki ‘kapal riset’ maka sampling plankton dilakukan dengan kapal umum. Terpaksa kami ‘hunting’ di kantor PELNI mencari kapal besar yang memiliki route yang mendekati atau mengelilingi tepian Laut China Selatan. Akhirnya kami menemukan sebuah kapal besar KM Bukit Raya yang memiliki route dari Jakarta (Tanjung Priok) sampai Surabaya (Tanjung Perak) melewati pulau Bangka (Belinyu), Pelabuhan Kijang di Pulau Bintan kemudian Pulau Terempa, Pulau Matak dan pelabuhan Natuna di palau Natuna Besar. Dilanjutkan kepulauan Tujuh yaitu pulau Seresan, pulau Subi dan pulau Midai sampai pantai barat Kalimantan dan berhenti di pelabuhan Pontianak. Kemudian dari Pontianak akan kembali ke Jawa menuju Surabaya (pelabuhan Tanjung Perak).
Akhitnya team peneliti bersepakat membagi tugas pengambilan sampel di perairan sekitar Laut China Selatan dimulai dari titik sampling di pelabuhan Kijang pulau Bintan sampai titik akhir di pelabuhan Pontianak di Kalimantan Barat.
Apabila dihitung seluruh perjalanan di KM Bukit Raya dari Jakarta menuju Surabaya ditempuh selama sekitar 8 hari perjalanan dengan menempuh hampir 5,000 mile jauhnya. Sebagai coordinator peneliti aku harus memastikan route dengan mengikuti seluruh route tsb dari Jakarta sampai Surabaya. Di kapal KM Bukit Raya ‘Team Peneliti Laut China Selatan’ berbaur dengan masyarakat dengan beragam latar belakang mulai dari seorang marinir yang berangkat bertugas menjaga perbatasan, pejabat daerah, pedagang, dokter daerah terpencil, mahasiswa dan beberapa orang yang tak jelas bakgroundnya.
Untuk menjaga ‘keselamatan sampel’ kami terpaksa menyewa sebuah kamar di KM Bukit Raya sebagai ‘laboratorium sementara’ dengan biaya sewa mencapai 8 juta rupiah untuk menghindari ’kontaminasi’ dari tangan tangan usil penumpang kapal.
Sampel plankton diambil dari laut dengan ember plastik yang diikatkan dengan tali plastik sangat panjang mencapai 50 meter. Setiap jarak tertentu sekitar sejam perjalanan kapal. Kami melempar ember kelaut untuk ’menimba’ plankton Laut China Selatan. Masih terbayang bagaimana rasanya kami harus keluar malam malam dari kamal ’kelas 2’ KM Bukit Raya pada waktu tertentu menuju buritan atau sisi badan kapal.Cuaca dingin dan gelap malam disertai terpaan angin laut yang ganas membuat hati sedikit miris. Bagiamana bila kami tercebur kelaut Pasti deh kami langsung hilang..tak berbekas ditelan Laut China Selatan.
Untunglah kami selelu mengambil sampel plankton setidaknya berduaan. Menimba air laut seember dalam kondisi kapal melaju dengan kecepatan sekitar 12 knots ..sangat terasa beratnya!..Wuih..telapak tangan kami. (Saya, pak R.F.Kaswadji,Ph.D., Ir.Roni fitrianto dan Ir.Iman)sampai lecet lecet dan rasanya perih sekali. Aktivitas sampling ini harus diulang setiap jam perjalanan kapal sampai kira kira kami sudah mendapatkan jumlah sampel yang cukup.

Selasa, 02 Februari 2010

Laut China Selatan



Laut Cina Selatan-South China Sea ialah laut tepi-marginal, bagian dari Samudra Pasifik, mencakup daerah dari Singapura ke Selat Taiwan sekitar 3.500.000 km². Merupakan badan laut terbesar setelah kelima samudera. Kepulauan Laut Cina Selatan membentuk sebuah kepulauan yang berjumlah ratusan. Laut ini biasa disebut sebagai Laut Selatan saja di daratan Cina. Sejumlah negara, khususnya Filipina menyebutnya Laut Luzón, keberatan dengan nama "Laut Cina Selatan", sebab seolah-olah kawasan itu dikuasai RRC (Wikipedia).

Tahun 2002 s.d 2004 saya bergabung dengan PKSPL- Pusat Kajian Sumberdaya Pesisir dan Lautan Institut Pertanian Bogor sebagai ‘visiting fellow’ -peneliti tamu- untuk mengerjakan proyek South China Sea Carbon Cycle Project yang didanai oleh START Washington melalui kantor regionalnya (SARCS-South Asia Regional Committee for START) di Taiwan.

Proyek penelitian Laut China Selatan ini bertujuan mengetahui dampak variasi perubahan angin muson timur (kemarau) dan angin muson barat (penghujan) terhadap kemelimpahan plankton di Laut China Selatan serta mengetahui pola-pola perubahan distribusinya sebagai dampak perubahan musim tersebut. Logikanya variasi distribusi plankton akan berpengaruh terhadap rantai makanan (food chain) yang mengikutinya seperti jenis-jenis dan kemelimpahan ikan-ikan di Laut China Selatan. Juga dalam penelitian ini diukur perubahan kondisi lingkungan berupa kandungan mineral, DOM-Disolve Organic Matter dan parameter lingkungan seperti suhu dan cahaya. Hasil penelitian variasi kadar khlorofil dan plankton di lapangan kemudian diperbandingkan dengan penghitungan kadar khlorofil melalui citra satelit Seawifs, satelit Envisat-MERIS dan perhitungan secara modelling.
Saya berharap banyak dari proyek penelitian ini bisa membawaku kembali ke ilmuku semula sebagai seorang peneliti yang memiliki latar belakang ilmu biologi setidaknya biologi keluatan atau ’taksonomi protista’ plankton seperti pernah kupelajari di bangku kuliah di Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada di Yogyakarta.

Kamis, 21 Januari 2010

The resume of Journal
Integrated Human Ecological Risk Assessment:
A Case study of Ultraviolet Radiation Effect
On Amphibians, Coral,
Humans and Oceanic Primary Productions


Background

An ultraviolet radiation (UVR) from the Sun is a naturally occurring stressor to most forms of life. The Earth atmospheric ozone layer reduces the amounts of UVR that reaches the Earth surface. The potential for continued depletions of this ozone layer and environmental changes that increase the penetrance of aquatic habitat, both due to humans activities, and the subsequent increase UVR are global environmental concern for both human and ecosystems. Ozone depletions is the primary cause of change of dose of UVR received by aquatic and terrestrial species include humans. Ozone depletion is thinning or eradication in the case of the polar ozone holes of the UVR on blocking ozone layer. This is cause by a chlorofluorocarbons (CFCs) which are regulated by Montreal Protocol on 1987.

The other factor cause altered UVR at the Earth surface are global climate change/global warming and acidification both decrease of the amount of dissolved organic matter (DOM), which in turn increase UVR penetration in to aquatic ecosystems (Schindler et.al,1996). DOM is the primary mechanism for limiting UVR penetration into the water column (protecting aquatic organisms and establishing the lower limit of the photic zone). The climate warming are decreasing the total amount of DOM which is produced by aquatic system as well as the terrestrial system from which it is then transported to aquatic systems. The overall effect of these changes is increased UV irradiance in both terrestrial and aquatic ecosystems. These changes in the relative amount of UVR reaching the various habitats maybe affecting ecosystem and human health but research is only beginning to assess and quantify the effects. An integrated risk assessment provide efficiency on data gathering, analysis, and reporting by enabling risk assessor to use the combined knowledge from many disciplines to evaluate overall risk.

Formulations
Commonalities in stressors source, exposure pathways, and mechanism and damage and repair facilitate development of analogy assessment endpoints and holistic conceptual models. These conceptual models communicate the direct and indirect pathways of the primary (UVR) and secondary (e.g. loss of food source) stressor to relevant biotic components, taking advantage of the full level of current understanding of UVR physics and exposure issues. Although the UVR action spectrum may be dependent on the specific assessment endpoints, knowing the nature and mechanism of the effect in human informs our conceptualizations of possible direct effect of UVR on amphibians, coral and phytoplankton and probably the vice of versa. Problem formulations has identified common data needs to evaluate risk from the direct effect of UVR on a variety of receptor organisms and target system. The integrated assessment benefits substantially from the resource efficiency gained through use of commons models and flux measurement (network) in predicting outcomes, and the enhances insight to possible effects to receptor organism gained through analogy to other species.

Characterization Exposure

The source of UVR radiation and many of the exposure pathways are identical for both human and ecological assessments. The amounts of UVR reaching the specific receptor is affected by a number of process and conditions, include ozone depletions, global change (particularly increased of SST-sea surface temperature and altered cloud cover), aquatic acidification (by alteration of concentration of DOM) and changing the nutrient profiles. The specific factor that will influence the exposure to receptor include:

· location of the receptor cause the angle of sun and altitude influence on intensity and wavelength spectrum of radiations.
· thickness of stratospheric ozone layer as the influenced by natural distributions phenomena and global change (depletion and hole formations)
· natural habitat protections (e.g. shade, water depth)
· physiological/morphological adaptations, character of receptor , e.g. pigment, fur, feather etc
· behavioral adaptations of receptor screen block by human or changes in activity patters by all organism
· water quality and clarity.

Allowing common information on UVR intensity obtained from monitoring networks and tools to be used as the initial measure of the exposure. Models and methods for estimating or measuring dose can also be shared. This offers an efficiency advantage with respect to an integrated assessment approach. The benefits of an integrated approach thus include cost efficiency and minimizations data collections needs.

Character effect
The range of effects of UVR on humans include skin cancer, immunosuppressant, and ocular damage (zigman,1993). Direct effect on amphibians include developmental damage, mortality, and possible imunocompromise (cummints et al.1999), UV radiations has been implicated as a factor in coral bleaching (wellington,1993), also decreased of photosynthetic on aquatic plants (Smith,1980). Several endpoints have commons mechanism of effect and similar biomarkers of effects (e.g. DNA damage), a situation that promotes characterization efficiency by permitting extrapolation of effect across species.

An extrapolation approach to developing action spectra models (wavelength specific exposure response models) maybe possible depending on the similarity in mechanisms and exposure pathways. Recognition of linkages among components of the integrated conceptual model enhances understanding of the indirect effect of UVR exposure that can influence risks to the assessment endpoints in (sometimes) unexpected ways. Similarly, information about the potential effects to same assessment endpoints may suggest previously unexpected effects to other endpoints for which information’s is lacking.

The risk characterization would use for future UV radiation scenarios, action spectra and others exposure-response relationships to characterize direct effect and ecological model to characterize the indirect effect on assessment endpoints is enhanced by using exposure scenarios, models, data shared in common and by drawing analogies among mechanism effect when possible. Causation would be determined through evaluation of combinations of correlative and mechanistic relationships linking UVR to biological effect, with the risk conclusions being further defined and strengthen as multiple lines of evidence about those relationships converge. The overall confidence in risk conclusions would be enhanced as similarities among risk estimates for individual assessment endpoints emerge.

An emphasis on communicating risk of UVR exposure to human health, although necessary to facilitate effective choices about personal protections, has under represented possible adverse effect on ecological systems. The resulting lack of appreciations of ecological risk can hinder identification of risk management priorities. An integrated approach to risk communications would provide consistent, coherent, and simultaneous expressions of risk to all assessment endpoints, thereby facilitating selections among potential mitigations efforts that minimize risk to human and non humans alike, promoting understand of why various risk management actions are taken.

Risk Management
Risk management informed by more holistic understand risk of changing UVR to humans and ecological systems will result in management and personal decisions That is the most effective in optimizing risk mitigation strategies. Integrated risk assessment endpoints in a consistent and coherent manner, allowing relative risks among assessment endpoints to be compared and understood and the trade off inherent in various risk management options to be transparent and recognized. Integrated risk assessment also facilitates a deeper understanding of the dependence human well being on ecological functions and services, thereby aiding in the identification of management approach that optimize risk reduction from both human health and ecological perspectives and avoiding un intended consequences.
In contrast, facilitated behavioral adjustment and personal protection strategies are not possible or feasible for non human receptors. Protection from stratospheric ozone layer seemingly is the principle option for minimizing the risk to ecosystems. Ideally, management decisions directed towards sources reduction (i.e. minimization of ozone stratospheric depletion through control of ODS-ozone depleting substances) would consider the potential for both direct and indirect effect on ecological systems and direct effects on humans simultaneously. In evaluating relationships between source reduction and risk, attention should be paid to alterations in UVR penetration due changing sea surface temperature-SST. DOM content, and acidification and to introduction of photo reactive anthropogenic contaminants in sensitive ecosystems.
--------0-------